Calon Suami ku Gila

Calon Suami ku Gila
Berada di kampus yang sama


__ADS_3

Matahari sudah terbit, dan sinar nya pun berhasil masuk ke dalam sela-sela jendela kamar Diana, membuat mata Diana silau dan terbangun dari tidur nya, Diana merentangkan tangannya sambil menguap.


Sekarang ia merasa badannya sakit, ya pasti sakit lah orang dia semalam tidur di kursi. Mana bukan kursi yang empuk lagi.


Ia pun sadar kalau misalnya semalam ia kan tidur di kursi bukan di kasur nya.


"Semalam kan gue tidur di sana(menunjuk meja belajar nya) kenapa sekarang gue ada di sini yah?" ucapnya kebingungan.


"Apa jangan-jangan si orang gak waras itu yang pindahin aku? Ah tapi gak papah lah biarin aja soalnya kan cuman di pindahin doang," sambung nya sambil turun dari kasur, Diana melangkah menuju kamar mandi karena sekarang ia ada kelas pagi.


Setelah selesai mandi dan beres-beres kini Diana turun dari kamarnya, ia sekarang menggunakan rok pendek di atas lutut, lalu baju kemeja yang di masukan ke rok nya, dan rambut yang ia kuncir kuda, dan juga memakai sepatu sneaker berwarna putih.


Di ruang meja makan sudah ada kedua orang tuanya, ibunya yang sedang menyiapkan makan untuk ayahnya yang akan berangkat kerja.


Saat Diana melihat kedua orang tuanya sedang tertawa sambil bercanda, ia hanya menatapnya sambil tersenyum miris.


"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Gilang yang melihat Diana turun dari tangga.


"Gak usah gak lapar," ketus Diana, tanpa melirik Gilang, ia terus saja berjalan sambil menatap ke arah depan.


"Kamu tuh bisa gak sehari aja sopan sama kita?" bentak Dea, sambil menatap tajam anaknya.


"Tau ah," balas Diana sambil berjalan keluar menuju mobilnya.


"Sudah lah," ucap Gilang mencoba menenangkan Dea yang sedang naik darah.


Kini Diana sudah sampai di kampusnya, saat ia turun seperti biasa ia akan menjadi pusat perhatian karena kecantikannya, banyak kaum hawa yang iri padanya.


Diana berjalan menghampiri Cherly yang sudah sedari tadi menunggu Diana.


"Hay beby, " sapa Diana sambil merangkul Cherly.


Namun tiba-tiba ada seorang lelaki yang melepas kasar tangan Diana dan malah di pindahkan pada pundak nya.


Diana dan Cherly menatap terkejut pada sosok yang melepaskan tangan Diana.


Namun bedanya, kalau Diana menatap penuh amarah, sedangkan Cherly menatap kagum pada lelaki itu karena lelaki itu menurut nya sangat tampan, tampan nya itu loh gak manusiawi.


"Apaan sih?" kesal Diana sambil melepas tangannya.


"Siapa dia?" tanya Cherly pelan, sambil tak lepas-lepas nya menatap Julian.


"Kenalin,(menyodorkan tangannya ) nama gue Julian pacarnya Diana," Julian memperkenalkan dirinya sambil tersenyum tipis, namun menurut Diana senyuman itu malah menakutkan.

__ADS_1


Berbeda dengan Cherly yang menatap senyuman itu adalah senyuman yang sangat manis, Cherly membalas salam Julian dengan senyum tulusnya.


"Gue Cherly teman baik si Diana," balas Cherly sambil tersenyum ramah.


Julian melepaskan tangannya dan malah menggenggam tangan Diana.


"Bentar, tadi dia bilang kalau dia pacar luh? " tanya Cherly dengan tatapan tak percaya pada Diana.


"Ya begitulah," malas Diana.


"Eh bentar, kok lu ada di sini sih?" sambung Diana yang heran kenapa Julian ada di kampus ini, padahal selama ini ia tak pernah melihat Julian berada di sana.


"Kenapa gak boleh?" tanya balik Julian sambil tersenyum penuh arti.


"Gak juga sih," balas Diana memalingkan tatapannya.


"Ya udah ke kelas ah, aku pindah ke kelas kamu loh," ucap Julian sambil menarik Diana dan meninggalkan Cherly.


"Lepasin sakit tau," keluh Diana, karena Julian terlalu keras.


"Ok, " kini Julian melonggarkan genggaman di tangan Diana, namun ia tetap menari-narik Diana untuk masuk kelas.


Kelas di pagi ini telah selesai dan Diana berniat untuk pulang karena memang cuman satu mata pelajaran pada hari ini.


Namun ternyata ia di ikuti oleh Julian, sampai ia duduk pun Julian ikut duduk di samping nya.


"Kenapa lu tadi ninggalin gue?" ketus Julian sambil menatap Diana dingin, sangking dinginnya sampai Diana bisa merasakan tatapan Julian menusuk jantungnya.


Diana langsung memalingkan tatapannya ke arah lain, karena itu sangat merinding membuat nya tidak bisa berbuat apa-apa jika terus menatap mata Julian.


"Abisnya lama, aku tungguin juga, " balas Diana, dengan seluruh keberaniannya, ia tidak mau di sebut lemah oleh Julian.


"Ya udah sebagai gantinya, pulang sekarang lu ikut gue," ucap Julian.


"Kemana?" tanya Diana.


"Ikut aja, " kekeh Julian sambil memukul meja membuat semua orang kaget dan memandang nya dengan tatapan penasaran.


Namun kini Julian menatap ke arah mereka dengan tatapan kilatan pembunuh membuat semua merasa takut dan kembali ke aktivitas masing-masing nya.


"Iya, " gugup Diana ia kini sudah benar-benar tidak bisa menahan rasa takutnya terhadap seorang lelaki di depan dia.


"Bagus" ucapnya penuh penekanan sambil memenggang pipi Diana.

__ADS_1


"Ya udah cepet makan, " sambung Julian dengan nada dan ekspresi datar.


Diana memesan makanan untuk dirinya saja, dan tak perlu lama menunggu akhirnya makanannya nya datang.


Diana itu kalau makan dengan ke adaan takut, malah membuat makannya seperti orang yang kelaparan tidak makan satu bulan.


Julian saat ini sedang memandang Diana sambil tersenyum, tak lepas-lepasnya ia tersenyum melihat gadisnya makan seperti orang gila, sampai Diana selesai pun ia tetap tersenyum.


"Gak pegel apa tuh mulut senyum terus?" tanya Diana kesal dalam hatinya.


"Kalau mau ngomongin orang tuh, langsung aja jangan di dalam hati, " ejek Julian seakan-akan tau apa yang Diana ucapkan dalam hatinya.


"Apa kok dia bisa tau sih kalau gue ngomongin dia?" batin Diana.


"Udah di bilangin jangan dalam hati," datar Julian sambil tersenyum.


Diana mengerutkan dahinya.


"Lu itu psikopat, atau dukun sih?" tanya Diana polos.


Tiba-tiba Julian mencondongkan kepalanya ke dekat Diana sambil berbisik, "Kayaknya ke duanya," balas Julian sambil tertawa kecil.


"Pantes," ketus Diana sambil meninggalkan Julian, ia berniat membayar makannya, namun ia di dahului oleh Julian yang membayarkan makanan Diana.


Mereka berjalan sejajar menuju parkiran.


"Bentar," Diana menghentikan langkah nya.


"Kalau aku pulang sama kamu, terus mobil aku gimana?" Tanya Diana.


"Bego amat si punya pacar," ketus Julian sambil menatap Diana.


"Ya terus gimana? " bingung Diana, sambil mengangkat pundaknya.


"Gue pulang pakai mobil lu, biarin lah mobil gue, gue titipin dulu, " jawab Julian.


"Terus kalau ada yang ngambil gimana?" tanya Diana takutnya Mobil Julian di ambil orang.


"Ya gampang lah, tinggal aku cari terus aku bunuh," santai Julian.


"Ah emang gak guna sih bicara sama kamu, aku mah bakal kalah mulu," cemberut Diana merasa percuma melawan Julian, pada akhirnya ia akan tetap kalah.


"Ya udah ayok," ajak Julian sambil menarik tangan Diana untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2