
Saat Julian mulai melihat ke sekeliling ruangan itu ia baru sadar kalau ternyata, banyak coretan di tembok yang bertuliskan kata play.
Kini Diana sudah lemas dan mulai tidak sadarkan diri, dengan cepat Julian menelpon polisi untuk membereskan kekacauan ini, sementara Julian akan membawa diana ke rumah sakit terlebih dahulu.
Setelah sampai di rumah sakit kini Julian langsung menggendong tubuh Diana menuju dokter, setelah diana di periksa kini Julian menunggu diana di ruangan tunggu.
Wajah Julian tak sama sekali memperlihatkan tampang panik, ia tetap menampilkan wajah santainya, padahal ia kini tengah berpikir keras akan siapa dalang di balik ini semua.
Kenapa ini malah semakin ribet saja, bukannya selesai ini malah nambah lagi.
Ia pastikan kalau orang ini tidak akan lepas dari julian, sampai kapanpun.
"Maaf mas, mba nya udah siuman, " ucap seorang dokter yang menghampiri Julian.
Tanpa menjawab ucapan dokter itu kini Julian berjalan mengikuti dokter itu masuk ke ruangan diana di periksa.
Julian langsung menghampiri Diana yang kelihatan nya masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kamu gak papa yang? " tanya julian sambil duduk di samping Diana dan membelai rambut diana halus.
"Yang aku takut, " panik Diana sambil menangis histeris.
"Kamu gak boleh lemah, kalau kamu lemah berarti kamu kalah, mereka akan sangat senang karena kekalahan mu, " ucap Julian mencoba menenangkan Diana.
"Aku takut yang, aku takut, " takut Diana sambil tak lepas-lepas memegangi tangan Julian.
"Ini akan menjadi urusan ku, kau tenang aja yah, kau Terima beres aja, oke, " tenang Julian sambil mengecup lembut kening Diana singkat.
"Aku takut, " diana tetap saja merasa ketakutan walau berada di samping Julian.
"Tenang saja kau harus istirahat, bentar lagi kita tunangan aku tidak mau tunangan kita gagal, " ucap Julian sedikit tegas.
"Ya udah aku istirahat dulu yah, kalau kamu mau pergi tolong panggil Cherly yah, buat temenin aku, aku gak mau sendirian, " ucap Diana pasrah.
"Ya sudah aku pergi, " dingin Julian sambil kembali mengecup kening diana sebelum akhirnya pergi ke luar dari sana.
Diana mulai menatap ke sekeliling ruangan itu sambil bernafas kasar.
"Cherly mana sih lama amat, " gumam Diana.
Sementara Julian kini sudah berada di parkiran mobilnya, ia juga tadi sudah menghubungi Cherly untuk menemani Diana.
Setelah itu kini ia pergi ke rumah Diana untuk melihat situasi di rumah diana saat ini.
__ADS_1
Setelah sampai si rumah Diana, Julian turun dan menghampiri para polisi yang sedang memeriksa ke sekeliling rumah dianalisis.
"Maaf Pak, " ucap Julian sopan.
"Anda yang tadi hubungi saya? " tanya seorang polisi yang berada di depan Julian.
"Iya saya, barusan saya habis antar anak dari korban ini ke rumah sakit, karena syok jadi dia pingsan, " balas Julian sambil tersenyum.
"Baik apakah anda bisa ceritakan kronologis nya bagaimana? " ucap polisi itu.
"Bsa kok pak, " jawab Julian.
"Baik ikut saya ke Kantor, " kini Julian dan polisi itu pergi ke Kantor.
Setelah sampai di kantor Julian langsung di suruh menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Julian langsung saja menceritakan apa yang tadi ia lihat dengan sangat detail.
"Lalu apakah ada orang yang kau curigai? " tanya pak Polisi sambil menatap Julian.
"Tidak, saya tidak terlalu kenal dengan mereka" santai Julian.
"Saya berpikir kalau orang itu adalah pembunuh profesional karena saya tidak sama sekali mendapat sidik jari atau bukti yang lain, di TKP, ".
"Apa kau tau siapa orang yang terakhir masuk ke rumah itu? "sambung polisi itu.
"Baik kami akan menyelidiki kasus ini, " ucap Polisi.
Julian dan Polisi itu bersalaman sebelum akhirnya Julian pergi dari sana, kini cuaca gerimis, Julian keluar dari Kantor Polisi dengan gagahnya melintasi gerimis.
Ia pergi menaiki mobilnya, seperti nya ia sudah tau siapa yang ada di balik semua ini, ia mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sampailah ia di sebuah rumah tua dekat hutan, ia langsung saja turun dari mobilnya, dan mendobrak masuk ke dalam rumah itu, dan saat ia masuk ia mendapati seorang pria sedang asik menonton televisi.
"Kau apakan mereka? " tanya Julian sedikit tegas.
"Mereka siapa? " tanya balik orang itu ia kini seperti orang kebingungan.
"Gak usah sok bodoh, " santai Julian sambil tersenyum kecut.
"Aku tidak mengerti dengan ucapan mu Julian, " saut orang itu sambil menatap aneh pada Julian.
Julian menarik kerah baju orang itu, dan membuat orang itu sontak berdiri karena tarikan dari Julian.
__ADS_1
"Kau ini gila yah, " kesal orang itu sambil melepas paksa tangan Julian.
"Aku memang gila, lalu kau kenapa ingin bermain dengan seorang pemain" tegas Julian.
"Ouh, santai dong ga usah ngegas, " ledek orang itu sambil tersenyum miring.
"Lu yang mulai duluan, " balas Julian.
"Baiklah, ada maksud apa kau datang ke rumah ku? " tanya pria itu pada Julian.
"Aku sudah bilang jangan pura-pura bodoh dengan menanyakan hal itu, " geram Julian.
"Gara-gara gadis itu, " santai pria itu sambil tersenyum meremehkan.
"Jadi benar kau yang melakukannya? " penasaran julian sambil menatap penuh arti pada lelaki yang kini berada di depannya.
"Bisa jadi? " ucap lelaki itu sambil tersenyum penuh misteri.
"Kenapa kau lakukan itu? " tanya Julian serius.
"Kau pasti tau alasan nya apa, " balas pria itu sambil mengangkat kan satu alisnya.
"Tapi kenapa harus gadis itu? " kesal Julian.
"Kau tanyakan saja pada Tuhan, kenapa ia di lahir kan dari orang tua yang biadab" santai pria itu sambil menepuk pundak Julian.
"Tapi tetap saja kau sudah buat sedih gadis itu, " kekeh Julian.
"Kau mau menghabisi ku, silahkan, " santai pria itu sambil merentangkan tangannya di depan Julian.
"Baik lah, kau yang minta, " ucap Julian santai sambil menusuk perut pria itu sambil tersenyum.
"Aku pikir kau tidak akan berani menusukku, " ringis pria itu sambil memegang perutnya yang kesakitan.
"Bukannya kau yang minta, " balas Julian santai.
"Aku hanya bercanda, " balas pria itu yang sudah mulai lemas.
"Sayangnya aku tidak suka bercanda, siapapun dirimu aku akan tetap membunuhmu jika kamu sudah melukai gadisku, " jelas Julian sambil pergi ke luar rumah itu dan mulai membakar rumah itu.
Julian kembali masuk ke dalam mobilnya, sebelum pergi ia memandangi api yang melahap rumah itu dulu, sebelum akhirnya ia pergi dari sana, ia pergi ke sebuah toko perhiasan.
__ADS_1
**maaf yah aku baru up, soalnya aku sekarang ini lagi sakit, jadi maklumi aja yah kalau kemarin telat, 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏**