
Kini Julian, Diana, dan kedua orang tua Julian tengah bercanda di ruangan keluarga.
"Diana nanti kau tidur di kamar tamu yah, " ucap Karin.
"Iya tante, " balas Diana sambil tersenyum, dan menatap Karin.
"Eh tapi jangan lupa, kalau mau tidur kunci pintunya yah, soalnya nanti pacar kamu ini malah masuk loh ke sana, " saut ayah Julian.
"Apaan sih, saya itu adalah orang yang baik, mana mungkin masuk ke kamar orang tampa ijin, " sombong Julian.
"Bisa aja kalau ngomong, terus kemarin kemarin apa, hah " geram diana dalam hati, sambil menatap tajam julian sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap nya dengan senyuman, karena Julian berbalik menatap nya membuat Diana takut.
"Ya sudah mamah culik dulu ah," ucap Karin sambil menarik Diana untuk ikut bersama nya.
"Itu milik ku, mau di bawa kemana? " seru Julian sambil ikut berdiri.
"Lepasin, mamah mau ajak dia ke dapur, buat bantuin mamah bawa makanan, " jelas Karin sambil melepas tangan Julian dari tangan Diana, dan Karin langsung saja berjalan dan menarik Diana pergi.
Kini Julian kembali duduk dan papahnya.
"Kau suka sama dia? " tanya ayah Julian dengan nada yang serius.
"Entah lah, aku pun tak tau, " malas Julian sambil mencoba menghindari tatapan ayahnya.
"Aku tau kau menyukai nya, dari cara mu menatap nya, menjaganya, jika kau tidak suka padanya mungkin, kau akan membunuhnya kan, " ucap ayahnya Julian, sambil tak lepas lepasnya menatap Julian.
Ayah Julian memang tau siapa Julian yang sebenarnya nya, namun tidak dengan ibunya.
"Aku hanya berpesan, tolong jangan sakiti dia, dia terlalu polos untuk kau sakiti, sudah cukup kau membunuh orang yang tak bersalah," sambung Dodo dengan tatapan yang serius.
"Kalau aku berniat untuk membunuh nya sudah ku bunuh dia sejak dulu, aku tak pernah melepaskan tawanan ku begitu saja, " balas Julian dengan suara berat nya.
"Bagus, ini sebabnya aku membawa mu dulu, aku tau suatu saat nanti akan ada orang yang bisa sedikit membuat mu merasakan cinta, " ucap Dodo sambil menepuk pelan bahu Julian.
Kini suasana kembali ceria saat Diana dan Karin datang membawa makanan, dan juga minuman.
"Pah main game yuk, " ajak Julian.
"Ok, gimana kalau misalkan yang kalah besok harus nyiram bunga, " usul Dodo, sambil tersenyum licik kearah Julian.
"Oh Julian terima tantangan papah, " setuju Julian.
"Ah ya sudah kita ke kamar tante yuk Diana, kita nonton drama Korea, " seru Karin, yang tak mau kalah dengan anak dan suaminya.
__ADS_1
"Ah, ide bagus tu tante, sekalian makanan nya kita bawa, biarin aja mereka ngambil sendiri, siapa suruh mau main game, " kesal Diana, sambil berdiri dan membawa kembali makanan yang di bawanya tadi.
"Iya juga yah, ya udah ah, " kini Karin berjalan sambil menggandeng Diana pergi ke kamarnya.
"Eh jangan sama makanan nya napa, " teriak Dodo yang melihat istri nya membawa kembali makanan nya.
"Kalau mau, di dapur juga masih banyak, ambil aja sendiri, " balas karin tanpa melirik Dodo, membuat Dodo memonyongkan bibir nya.
"Yah pada kemana mereka? " tanya Julian yang baru datang.
"Biasa mau pada nonton drama Korea, " kesal Dodo.
"Kamu pasang cepetan!" sambung Dodo.
"Iya, " datar Julian.
Sementara itu, di kamar Diana dan Karin tengah asik menonton drama Korea sambil menakan cemilan.
"Diana? ".
"Iya tante, " balas Diana sambil berbalik menatap Karin, namun kini Diana sadar kalau misalkan orang tua Julian itu tidak mirip dengan Julian, yah kalau memang ganteng Ayah-nya juga ganteng, ibu-Nya cantik, namun mereka tidak mirip Julian itu seperti blasteran Amerika dan Indonesia, sedangkan orang tuanya benar-benar wajah Indonesia.
"Kau sayang sama Julian?" tanya Karin.
"Sayang, " jawab Diana canggung, sebenarnya ia juga masih bingung dengan perasaan nya, ia takut jika ia terlalu menyimpan harap pada Julian sang Psikopat, kalian tau kan seorang Psikopat adalah manusia yang diciptakan tanpa hati, jadi apakan bisa ia juga merasakan cinta, jika memang bisa pun mungkin akan berbeda dengan orang normal, itu yang membuat diana ragu.
"Tante minta tolong yah, jaga dia! Julian adalah orang yang menurut tante susah untuk di tebak, selain itu Julian juga buka anak tante, jadi tante tidak tau bagaimana hati Julian sebenarnya, " jelas Karin sambil sedikit sedih.
Diana membulatkan matanya ia terkejut dengan apa yang ia dengar, bahkan matanya hampir saja mau copot.
Ternyata apa yang ia pikirkan itu benar.
"Maksud tante?" Diana meminta penjelasan yang lebih dari Karin.
"Sebenarnya tante tidak tau asal usul sebenarnya tentang orang tua Julian, dulu om membawa Julian yang kira kira masih berumur 10 tahun, dengan ke adaan yang memprihatinkan, dengan bercak darah dalam bajunya, namun saat tante buka tidak ada luka dalam tubuhnya, saat tante tanya pada om, dia tidak pernah memberi tahu yang sebenarnya, sampai sekarang tante tidak tau yang sebenarnya, " jelas Karin.
Kini Diana semakin mendekati Karin dan mencoba menenangkan Karin.
"Tante dulu sudah punya anak perempuan, namun anak tante meninggal saat umur nya baru 6 tahun, " sambung Karin, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalau boleh tau?, meninggal nya kenapa yah tante? " Diana memang kalau sudah kepo, pasti tidak tau suasana.
"Saat dia main dia hanyut di sungai, " balas Karin.
__ADS_1
Namun Diana yakin kalau itu bukan mati karena Hanyut, melainkan ulah Julian, Julian kan tidak ingin jika ia di duakan.
Kini Diana mulai masuk lebih dalam ke kehidupan Julian, membuat rasa penasaran tak sampai di sana, ia memang sangat penasaran orangnya, tak jarang ia berada di dalam masalah hanya karena penasaran.
Tanpa di sadari Diana kini sudah dalam masalah besar, karena ia mengetahui siapa Julian yah walau tak sepenuhnya, namun secepatnya Diana akan tau yang sebenarnya.
Hari sudah mulai malam, Diana pun sudah berada di kamar tamu, ia kini tengah duduk di kasur dengan pikiran yang kacau.
Namun suara ponsel Diana membuat ia tersadar dari lamunan nya, saat ia melihat ponsel nya ternyata juan lah yang menelpon nya.
"Halo, " ucap Diana.
"Dian lu dimana? " tanya Juan dari sebrang telponnya,
"Gue di rumah Julian, " balas Diana.
"Kan gue udah bilang, lu tinggal di apartemen nya si Cherly aja, ".
"Gak mau, gue gak mau ngerepotin Cherly, " tegas Diana.
"Emang di sana gak ngerepotin apa, ".
"Ya beda lah, kalau di sini itu itung itung gue latihan, buat jadi menantu yang baik," ucap Diana sambil tertawa kecil.
"Lu tuh gak bisa di bilangin yah, ".
"Lu tu kenapa sih, kok jadi aneh, " heran Diana.
"Julian itu orang yang berbahaya, ".
"Apaan sih gak jelas, " kesal Diana sambil mematikan telponnya, dan melemparkan ponsel nya ke sembarang arah.
"Napa lagi tu anak, " bingung Diana, Diana tidak bisa tidur malam ini membuat ia bosan lalu ia kembali mengambil ponsel nya.
Diana itu orang yang senang membaca artikel, kini ia tengah membaca artikel yang tak sengaja ia lihat, yaitu artikel tentang persahabatan lawan jenis.
**Apakah bisa bersahabat dengan lawan jenis?.
Walau bisa terwujud, april masini, relationship expert, cukup sangsi dengan konsep persahabatan lawan jenis ini, menurut nya, pasti ada salah satu pihak yang lainnya, "Gagasan bahwa pria dan wanita bisa berteman di penuhi banyak rintangan, waktu terus bergulir, suatu hari, pasti ada salah satu pihak yang menyukai sahabat nya" ujarnya.
Dan pria lah yang dilaporkan paling sering tertarik dan memiliki ke inginan kuat untuk berpacaran dengan temannya sendiri di bandingkan dengan wanita, para peneliti percaya ini di sebabkan oleh insting dasar manusia untuk melakukan perkawinan**.
"Ah masa Iyah si Juan suka sama gue, diakan udah punya pacar, " ucap Diana.
__ADS_1
"Lagian kayaknya ini penelitian gak semua harusnya, buktinya gue ama juan kan gak saling cinta, " sambung nya sambil langsung tidur dan menyimpan ponselnya di samping kepalanya.