
Julian telah berada di depan rumahnya dengan ke adaan setengah sadar, karena ia baru saja pulang dari klub, dengan perlahan ia membuka pintu rumahnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, saat ia masuk ia berjalan ke arah ruang tamu ia melihat seorang gadis tengah tertidur dengan cara memeluk lututnya.
Ia ingin memastikan siapa gadis itu, dan ternyata benar saja saat Julian sudah berada di dekat gadis itu, ia adalah Diana, ia tersenyum sambil menggeleng, Julian berjalan ke arah dapur untuk melarutkan alkohol yang ia minum dengan cara meminum kopi hitam.
Kesadaran Julian sudah mulai kembali normal, setelah rasa pusing di kepalanya sudah agak hilang ia kembali ke Diana.
Ia duduk di samping diana dengan mata yang terus menatap ke arah Diana, ia tersenyum melihat wajah damai dari gadisnya itu.
"I Love you, " ucap Julian tepat di telinga Diana pelan.
Diana yang sedikit terganggu lalu terbangun saat ia terbangun ia mendapati wajah ke kasihnya itu ada di depan wajahnya, ke adaan di ruangan itu kurang cahaya.
Mereka bertatapan seperkian detik, sebelum akhirnya Diana bangun dan Julian pun menjauhkan wajahnya dari Diana.
"Kamu kemana aja?" kesal diana sambil menatap malas Julian dan tangan yang ia lipat di dada.
"Ada urusan yang harus aku selesaikan, " balas julian sambil mencubit sekilas pipi Diana, yang hanya di balas tatapan dingin dari Diana.
"Iya urusan mabok, " sindir diana sambil mencium aroma alkohol yang berada di tubuh Julian.
"Ya aku minta maaf, " mohon Julian sambil memperlihatkan wajah bersalah pada Diana.
Diana yang tidak tahan melihat raut wajah Julian yang lucu menurutnya pun tertawa puas.
"Kenapa gak ngajak aku coba?, " lanjut Diana dengan wajah yang kembali dingin,
"Gak mau, " bantah Julian.
"Ouh iya bentar, " Julian pergi meninggalkan Diana ke kamarnya.
Setelah beberapa menit diana menunggu Julian, ternyata julian membawakan satu hoodie dan selimut untuk Diana.
"Nih pakai, dingin, " ucap julian sambil menyodorkan semua yang ia bawa pada Diana, dan kini ia duduk di samping Diana.
__ADS_1
"Kamu darimana sih? " Diana masih penasaran julian habis dari mana.
"Aku mau bilang satu hal sama kamu, tapi jangan sedih atau marah yah? " ucap Julian dengan nada serius dan tatapan mengerikan.
Suasana malam yang tadinya dingin pun menjadi semakin dingin.
"Yang, kok dingin amat sih, " keluh Diana yang sudah memakai hoodie dan juga selimut.
"Iya aku gak bakalan marah, emang nya apa sih kok aku jadi penasaran, " sambung Diana sambil mengganti posisi duduknya jadi menghadap ke arah Julian.
Julian pun menaikan kakinya ke sofa dan kini mereka berdua sudah saling berhadapan.
"Aku kasih tau sama kamu, siapa pembunuh orang tua kamu, " ucap Julian.
"Memangnya siapa? " kini Diana sudah sangat penasaran.
"Jack, " balas Julian.
Mata Diana membulat ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Julian barusan.
"Tidak,untuk apa aku bohong gak ada gunanya juga buat aku,".
"Kenapa harus dia? "
"Kau tau tidak kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana keluarga mu pindah ke Jakarta, " lanjut Julian.
"Iya aku tau,".
"Kamu tau alasan kenapa mereka pindah? " tanya Julian.
"Tidak, " ucap Diana sambil menggeleng.
"Mereka pindah karena mereka sudah menabrak dan membunuh orang tua dari Jack, " jelas Julian.
"Aku masih tidak mengerti, " bingung Diana.
__ADS_1
"Iya pada saat itu keluarga kamu kan sedang dalam masa kejayaan nya, namun pada saat ayah mu dan ibumu pulang dari kantor ia tidak sengaja menabrak seorang wanita di jalanan sepi," ucap Julian.
"Jalan itu sangat sepi bahkan tidak ada orang atau kendaraan yang lewat saat malam itu, ayah mu yang bingung akan ia kemana kan orang yang ia tabrak, karena kalau ia bawa ke rumah sakit ia tidak mau namanya jelek.
Kau tau, pemikiran orang yang sedang bingung itu kan sangat pendek, begitupun ayah mu pada saat itu pemikirannya sangat pendek jadi ia berniat membuangnya ke sungai, namun saat ia akan membuang mayat wanita itu, seorang lelaki yang tak lain adalah suami dari wanita yang ia tabrak pun datang, dan tentunya lelaki itu marah.
Lelaki yang melihat istri nya sudah menjadi mayat pun tidak Terima, ia memukuli ayah mu saat lelaki itu mengeluarkan pisau yang ia bawa, ayah mu merebutnya dan menusuk lelaki itu berkali-kali, sampai pada akhirnya lelaki itu mati di tangan ayah mu.
Ibumu yang melihat ke jadian itupun sangat syok, ayah mu yang menjadi semakin panik pun segera membuang mayat ke duanya ke sungai yang tidak jauh dari sana.
Sebenarnya saat ayah mu sadar tidak ada orang di sana ayah mu salah besar, aku dan Jack mengetahui kejadian itu, Jack awalnya berniat untuk menghampiri mereka namun aku tahan, aku menyuruhnya untuk sedikit sabar jika ingin membunuh mereka.
Sebenarnya ayah mu apalagi ibumu, itu tidak terlihat jelas oleh kami, karena tempat itu minim cahaya, jadi aku tidak tau kalau itu adalah ibu dan ayah mu, namun entah darimana Jack bisa tau kalau mereka adalah ibumu.
Dan aku sudah membunuh Jack " jelas Julian panjang lebar.
Diana yang mendengar penjelasan Julian pun sedikit marah namun, dalam masalah ini keduanya sama-sama salah, jadi kali ini ia hanya bisa menangis dan mengikhlaskan semuanya.
"Jangan nangis yah, " ucap Julian sambil mendekap Diana.
Diana yang kini berada di pangkuan Julian pun menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya dan membalas pelukan Julian.
Setelah agak lama berpelukan kini Julian melepaskan pelukannya.
"Tidur lagi sana udah malam! " titah julian pada Diana.
"Mau sama kamu, " manja Diana, dengan wajah yang ia imut kan.
"Dasar, " kini Julian memangku Diana dan membawanya ke kamar Julian untuk tidur bersama.
Setelah sampai di kamar Julian, Julian menurunkan tubuh Diana ke kasur miliknya yang berwarna hitam dengan selimut yang bergambar kapten Amerika, Julian suka dengan marvel apalagi kapten Amerika,
Diana tidur di lengan Julian, Julian pun tak henti hentinya mengelus rambut diana, setelah Diana tertidur pulas Julian pun menurunkan kepala Diana, ia turun dari kasurnya namun sebelum pergi dari kamar diana ia menyelimuti tubuh Diana terlebih dahulu.
Julian ke luar dari kamarnya dan menutup perdana pintu itu, ia berjalan menuju ke arah sofa, ia berniat tidur di sofa.
__ADS_1