Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Kehidupanku dan Mama


__ADS_3

                    Sial! Minusku tambah lagi. Sudah tiga kali ini aku harus mengganti kacamata selama satu semester. Lebih tebal lagi lensa yang kugunakan. Aaaah ini sangat menyebalkan. Aku semakin kelihatan culun dengan mata ini. Huft!


“Makanya! Jangan HP terus! Bocah bandel!” Ujar mama marah.


“Iya Maaa” Jawabku malas.


Pukul tiga sore, aku juga belum mandi. Malas rasanya menyentuh zat cair itu. Jadi aku memilih masuk kamar dan rebahan.


“Nggak capek ya? Tidur terus! “ Suara mama melengking di telinga.


“Nggak tidur Ma”


“Lha ini apa?”


“Rebahan”


“Sama aja!”


“Ini nggak merem kok”


“Beliin micin di gang depan!”


“Nanti yaaa”


“Can! Sekarang!”


Mama mulai melotot ke arahku. Serentak aku berdiri sembari hormat di dengan sikap sempurna.


“Siap! Laksanakan Nyonya!”


Kegiatan sehari-hari selain berantem sama mama adalah membelikan mama bumbu masak di gang depan. Tempatnya di Toko Bu Nur. Ibu-ibu kelahiran Palembang yang galaknya satu level sama mama.


“Bu Nuuuuurrr.. Beeliii”


Tidak ada suara.


“Buuuu Assalamualaikum”


Hening.

__ADS_1


Aku menarik nafas panjang kemudian berteriak lebih kencang lagi.


“BUUUUUUU NOOOOOOOOOOORRRRRRRRRR BEEEEEELLIIIIIIIIIIIIIII”


Bukannya Bu Nur yang keluar, justru laki-laki memakai kaos oblong dengan muka datar dan telinga seperti cantelan wajan keluar dari pintu itu.


“Apa mbak?” Ujarnya sambil menggaruk kepala.


“Ibuk ada?” Tanyaku.


“Nggak”


“Kemana?”


“Tak lem”


“Hah!!”


“Kajian Taklim mbaak..”


“OOHH, kirain dilem haha.  Beli micin.”


“Ih, masak?”


“Iyaaa. Liat aja sendiri”


Aku melirik sebal laki-laki itu. Tetapi ternyata benar, setelah aku cek tidak ada namanya micin di warung ini.


“Tumben banget nggak ada”


“Belum ke pasar. Besoklah balik lagi. Besok kan Senin Pon.”


“Ih orang butuhnya sekarang.”


“Lha gimana orang udah abis”


“Yaudah balik dulu”


Masih jam tiga lebih tiga puluh menit. Pasti mama marah kalau aku pulang dengan tangan kosong. Mungkin aku bisa nyoba ke warung di gang sebelah. Agak jauh sih sebenarnya dan aku juga malas. Tetapi, kalau nggak kubelikan, nyawaku bisa terancam.

__ADS_1


“Bu, Assalamualaikuum”


“Waalaikumsalam warahmatullah”


Aku baru tau kalau yang jual di sini ternyata bukan ibu-ibu. Tetapi.. astaga. Apa orang ini manusia? Bentuk badan yang proporsional, dengan kaos putih bersih selaras banget sama kulit putihnya. Wajah yang simetris dan mata teduh alias GANTENG BANGET ANJIR!


“Beli apa?” Tanyanya.


“Eh, beli ini... apasih lupa. Ehe”


Dia hanya diam menatapku. Aku semakin canggung. Panik. Blank. Eror 404. Dan.. akhirnya aku ingat.


“Beli garem. Eh, iya garem.”


“Oh, bentar ya.”


“Oke”


Dia kembali dengan satu kantung kresek yang isinya garam. Setelah membayar, aku segera mempercepat langkah supaya sampai rumah.


“Semlekomm!”


Duaarrrr! Pintu rumah nggak segaja kebanting keras.


“Bagooossss patahin aja engsel pintunya Can!” Teriak mama dari dapur.


“Maap Ma, nih garemnya aku taruh meja ya.”


“Heh! Sapa yang nyuruh beli garem!?”


“Mama kan tadi.”


“Allahumma sholli ala sayyidina muhammaad!!! Beli micin sayaaanggg!! Dasar!! Makanya kalo punya kuping didengerin baik-baik! Jangan HP teros!”


“Iihihi, iya ya. Lupa tadi Ma, di tempat Bu Nur ga ada terus ke warung satunya.”


“Hedeeeeh. Yaudah, mandi sana!”


“Iyaaa”

__ADS_1


Kali ini aku nggak berani berkutik. Aku harus menurut karena, yaa baginilah nasipku di rumah. Nggak terasa akhir pekan lewat gitu aja. Besok sudah senin lagi dan sekolah lagi. Kesibukan kelas 12 bikin sekolah jadi tempat paling membosankan. Kenapa sih!! Harus ada sekolah-sekolahan di dunia ini!!!


__ADS_2