Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Jalan Lain


__ADS_3

Bukan perkara mudah mempersiapkan ujian mandiri. Ini sudah ke tujuh kalinya aku ditolakuniversitas. Mama sampai bingung dan prihatin. Aku hanya termanggu di depan jendela. Sempat terpikir olehku untuk melanjutkan kuliah tahun depan saja. Tetapi mama masih terus menyemangatiku untuk mencoba semua jalur masuk. Meskipun mama tahu kalau jalur mandiri biayanya bisa sangat mahal.


Siang ini, Wawan bilang padaku kalau ada satu jalur lagi yang bisa didaftari. Namun, bukan tes tulis, melainkan jalur raport. Aku menelan ludah, bagaimana mungkin aku mempertaruhkan hidupku dengan nilai yang hanya seperti itu. Aku menolak dan memilih untuk gapyear saja kalau belum juga dapat kampus tahun ini. Toh, bisa juga bantuin mama di toko kue.


Di grub kelas, semua anak sudah menemukan kampusnya masing-masing. Hanya aku seorang yang belum juga dapat. Memang sih, rezeki sudah diatur, tetapi kalau kayak gini jadinya, aku bisa kena serangan gila dan darah rendah secara mendadak.

__ADS_1


Tengah malam aku terus menerus kepikiran. Mungkin benar kata Wawan, kenapa aku nggak nyoba daftar dulu? Kan aku juga belum tahu nanti bakalan diterima apa nggak. Ya, siapa tahu di belahan bumi lain ada yang punya nasip lebih sial dari aku.


Dadaku berdegup kencang, tanganku mengetikkan alamat pendaftaran dan mulai mengisi formulir satu demi satu. Aku mengambil raport dan mengisi nilaiku yang mepet KKM di halaman tersebut. Sampai di bagian terakhir, ternyata ada pilihan jurusan. Kulihat, tidak ada jurusan Sastra Indonesia. Aku bingung, jadi kuputuskan untuk memilih jurusan soshum yang lain.


Namun, aku lupa satu hal. Jalur ini tidak menerima mahasiswa yang lintas jurusan. Aku harus memilih jurusan sesuai dengan jurusanku di SMA. Kulihat satu-satu jurusan yang ditawarkan. Huft, semuanya tidak ada yang kuminati. Karena bingung, akhirnya dengan asal aku meng-klik jurusan Teknik Elektro. Aku jamin, 100% aku tidak akan lolos. Karena seperti yang semesta tahu, kalau nilaiku sangat anjlok dan pas-pasan. Mungkin, aku harus mencium pantat ayam kalau sampai lolos di kampus ini.

__ADS_1


Malam tiba, dan aku tidakpernah tahu ada koin emas yang jatuh di takdirku. Koin itu membentuk angka sempurna, sebuah keajaiban yang tidak terjadi dua kali. SEorang siswa dengan nilai sangat rendah tiba-tiba saja masuk ke dalam daftar orang-orang yang jenius.


Aku tidak tahu, kalau malam ini tuhan sedang baik hati kepadaku. Hingga, aku membuka halaman website itu, dan kutemukan tulisan hijau tanda aku diterima di Teknik Elektro. Sebuah jurusan yang bahkan tidak pernah kusenggol huruf-hurufnya.


Ternyata inilah jalannya. Inilah takdir dari ribuana mozaik yang sudah disusun rapi. Inilah obat yang paling mujarab dari pada Paramek yang kuminum setiap hari karena gagal Move on dan tidak diterima kampus. Duh, entahlah.. Aku harus bilang ini keberuntungan atau kesialan. Artinya, cerita ini baru saja dimulai. Aku, dengan segala lika-liku yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya sudah tersenyum di depan sana. Menatapku manis sekaligus pahit. Ceria sekaligus sedih. Entahlah, rasanya seperti siomay yang tidak dibumbui tetapi dikasih kuah. Yang pasti, aku sedang menunggu waktu itu..

__ADS_1


 


Bersambung...


__ADS_2