
Pukul delapan pagi. Tryout akan dimulai lima belas menit lagi. Aku dan sarah habis beli cimol di depan gerbang. Sekarang kami berdua duduk di depan teras sambil sok-sokan pegang buku sambil makan cimol. Sebelum ke sini, aku bertemu dengan Si Wawan dia bilang kalau aku minimal harus masuk sepuluh besar waktu tryout supaay bisa dilirik oleh Alvi. Aku hanya mengiyakan saja. Aku pikir toh aku ngambilnya soshum, jadi masih ada kemungkinan buat bisa masuk sepuluh besar.
Bel sudah berbunyi dan semua anak memasuki ruangannya masing-masing. Aku masuk di ruangan berbeda dengan Sarah karena aku murtad dari jurusan. Di sana, semuanya orang asing dan seragam yang beragam juga. satu kelas emang nggak ada yang semenarik Alvi, eh nggak hanya satu kelas tapi satu Kabupaten. Komputer yang di depanku sudah siap untuk di-klik tombol start-nya. Entah kenapa setiap kali aku ujian, aku selalu merasakan sakit perut secara mendadak dan hati yang bergetar. Aku selalu panik dan ragu dengan jawaban yang kubuat. Huft! Entah kenapa aku selalu merasakan hal ini, bahkan saat ujian pun aku tersiksa dengan soal-soal yang bergantian memutari kepala.
Sebelumnya, aku sudah belajar meskipun nggak terlalu giat. Kukira dengan belajar, aku akan lebih tenang saat ujian. Tetapi karena trigger dari Wawan yang menyuurhku untuk jadi 10 besar ini, ternyata membuat perutku semakin sakit. Aku benar-benar tersiksa dengan soal-soal ini. Tangan kananku memegang mouse, tangan kiriku memegangi perutku. Waktu dua jam berjalan seperti dua tahun. Lamaa sekali. Dua jam pula aku nyengir-nyengir sendiri karena aku menahan sakit.
Aneh. Saat ujian selesai, rasa sakit itu tiba-tiba lenyap. Aku jadi mikir, apakah aku kena syndrom insecure tingkat tinggi? Hah sudahlah.
“Can, gimana tadi?” Sarah menarik tanganku.
“Gatau, kek biasanya gue sakit perut.”
"Hedeeeh, padahal tadi soal soshum."
“Dih, soshum atau saintek keknya sama aja gue gabisa ngerjain. “ Aku cemberut.
“Udaah nggakpapa, lo udah nyoba udah keren.”
“Huaa tumben lo baik.” Aku sok-sokan memeluk.
“Dih, sinetron ni anak.” Dia tertawa membalas pelukanku.
Kami berdua tertawa karena sarah juga nggak bisa ngerjain katanya. Aku tenang karena merasa ada teman.
“Mau balik apa nunggu pengumuman dulu?” Sarah melahap siomay yang ada di tangannya.
“Nunggu dulu deh, siapa tau ada keajaiban gue bisa masuk sepuluh besar haha.”
“Tadi lo nggak bisa ngerjain berapa?”
__ADS_1
“Banyak.”
“Berapa Can?”
“Emm, gue tadi sakit perut. Bener-bener sakit banget. Jadi gue gabisa mikir terus akhirnya gue jawab A semua.”
“Anjir ni anak!!” Sarah sampai keselek mendengar jawabanku.
Aku hanya nyengir sambil menggaruk kepala.
“Kenapa harus A sih?” Sarah menyelidik.
“A sama dengan Alvi, ehehe.”
“Astaga Can, gue mau pingsan sekarang.”
“LO BUCIN BANGET ANJIR.” Sarah memijat kepalanya. Aku hanya termanggu sambil membayangkan Alvi dan aku menikah dan punya anak lima.
***
Pengumuman pun tiba. Anak-anak berlarian menuju papan pengumuman. Aku dan Sarah juga histeris karena ikut-ikutan aja. Kami berdua memasuki halaman dan melihat urutan ranking paling atas. “Alvi Refanda Putra” aku serentak berteriak senang. Kulihat posisi kedua, Claudya Dewita Sari” aku menelan ludah.
“Sar, Claudya Dewita ini cewek yang berantem ama gue itu bukan sih?”
Sarah menoleh ke arahku kemudian mengecek papan pengumuman lagi.
__ADS_1
“Iya bener Can, kenapa emang?”
Aku menghela nafas panjang.
“Dia emang sering dijodoh-jodohin gitu sama Alvi di kelasnya. Soalnya paling pinter ya mereka.”
Aku semakin insecure.
“Kenapa kamu nggak liat yang di soshum. Katanya sekolah kita juga lo yang juara satu. “
Aku mengangguk dan berlari menuju papan pengumuman.Mencari namaku di deretan paling atas. Ternyata nihil. Kemudian di urutan 20-50.. Aku benar-benar serius membaca nama per nama. Dan ternyata nihil juga. aku membaca lagi dari peringkat 50-100. Terus kubaca berulang-ulang, ternyata namaku juga nggak ada. Sampai seseorang menepuk pundakku.
“Selamat ya, lo masuk sepuluh besar.”
Aku terkejut. Ternyata laki-laki kumel dengan kuping seperti centelan wajan itu berdiri di belakangku.
“SUMPAH!?” Aku berteriak senang sekali.
“Iya, ..... dari belakang.”
Wawan menahan ketawa.
“Hah!!?”
Tanpa basa basi aku melihat peserta dengan point paling rendah.. dan benar ternyata aku peringkat dua... dari belakang.
“AAAAAAAAAAAA MALU BANGET!!!!!!”
__ADS_1