Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Menjelang UTBK


__ADS_3

            Aku mulai melihat rak buku yang dibelikan mama. Meskipun aku sering bertengkar dengannya, aku sebenarnya sangat menyayangi wanita menyebalkan itu. Di rak itu, mama selalu membelikan aku buku-buku pelajaran. Dia selalu menanyakan apakah aku udah belajar apa belum setiap mau tidur, mekipun saat aku sedang liburan sekolah. Mungkin mama ingin memiliki anak yang pandai. Bahkan, namaku sendiri. Nama yang menyebalkan ini, terdengar begitu ilmiah. Mama sendiri yang membuat nama seperti itu. Doa mama padaku mungkin begitu besar, tetapi usahaku tidak lebih dari sekedar pantat ayam. Aku begitu mudah menyerah dan cengeng.


            Saat pulang dari bimbel kemarin, aku sempat bertanya ke Alvi. Kenapa ya, manusia kok ada yang cantik ada yang nggak, ada yang pinter ada yang nggak? Kayak nggak adil aja. Dan Alvi menjawab, “Semua orang cantik di mata orang yang bersyukur memilikinya. Semua orang bisa pandai kalau mau berusaha. Sebenarnya, penghalang antara keduanya hanya mau dan tidak mau Can.” Aku jadi overthingking sampai hari ini.


            Aku lalu mengambil headset dan mendengarkan dangdut koplo. Rasanya otakku langsung menguap memikirkan hal itu. Apa sebaiknya aku mulai belajar? Tapi apa ini nggak terlambat? Aaah, aku bingung.


Suara notifikasi dari hp. Ternyata pesan dari Wawan. aku mengabaikan pesan itu, tidak penting sekali Si Centelan Wajan itu mengirimiku pesan singkat malam-malam. Tetapi, terlihat di statusbar dia membahas tentang Alvi, dengan sigap aku langsung menyamber ponsel itu.


“Gue liat lu kemarin boncengan ama si Alvi nyet. Lu kok bisa?”


Aku mengernyitkan dahi. Kemudian membalas pesan itu.


“Gue ke tempat bimbel bareng. Mama yang nyuruh.”


“Jah, kirain lu pakai pelet. Wkwkwk”


“Dih, ni anak mulutnya ga disekolahin emang.”


“Santai Can. Lu udah ada rencana nggak mau kuliah dimana?”


“Udah.“


“Dimana?”


“UBN”


“Hah? UBN?” Tulis Wawan dengan emot bergambar monyet penasaran.


“Universitas Bu Nur Nasional”


“Lah, Si tuyul!” Tulis Wawan dengan emot kesal.

__ADS_1


“Lu tau ga, Alvi bakalan ngambil SNM dimana?” tulisnya lagi.


“Nggak. Dimana emang?”


“Kedokterankalo nggak di Jakarta ya di Jogja.”


“Oh”


“Dih, oh doang”


“Lha trus gue harus gimana lagi Wan?”


“Ya berusaha kek buat minimal bisa satu kampus gitu.”


“Auk ah, mager.”


“Can, Si Dewi aja juga ngambil farmasi di kampus yang sama lo,”


“Iyaa, makanya Can. Mulai sekarang lu harus belajar. Biar lu bisa masuk ke sana. Btw,


gue yakin sama lu kok.”


“Yakin gimana?”


“Yakin kalo ga diterima, awowkwowkok.”


“Setan emang!!”


            Aku menutup ponselku dan mulai merebahkan diri di kasur. Pendaftaran UTBK sudah dekat. Aku bahkan belum tau mau masuk ke mana. Tapi, dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sejujurnya aku pengen nyoba di kampus Jogja itu. Tapi, kalau nggak keterima, nanti bakalan jadi penyakit hati deh. Gatau ah, dipikir besok dulu. ngantuk banget mau tidur.


             Aku memejamkan mata dalam-dalam. Pikiranku menuju ke sebuah tempat yang entah namanya apa. Di sana, aku membayangkan bisa mengerjakan soal matematika dengan mudah. Aku sangat jenius hingga membuat semua orang menangis karena terharu melihatku. Di sana, soal-soal integral, limit, dan aljabar seolah berubah menjadi bebek-bebek lucuyang menggemaskan. Aku tersenyum melihatnya, hingga aku terus tenggelam ke dalam mimpi itu. MImpi yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk diriku sendiri.

__ADS_1


***


        Paginya ini terasa berat di kepalaku. Mungkin karena UTBK sudah beberapa waktu lagi. Tuhan, bahkan aku sampai sekarang belum tau aku harus kemana dan jurusan apa. Aku juga sering mendapatkan nilai jelek di tryout. Ya, karena memang otakku mungkin sudah disetting pas-pasan kayak gini. Apalagi soal matematika. Aku benar-benar pengen bakar laut liat soal-soalnya. Menjadi orang yang tidak mudah paham pelajaran membuatku seperti kehilangan harga diri. Teman-teman, bahkan orangtuaku selalu memandangku berbeda. Ya, mungkin perasaanku saja sih. Tetapi memang aku sangat merasa mama lebih sayang sama Candra dibandingkan denganku. Huft, aku merasa tertekan dengan kebodohan ini. Adakah vaksin yang bikin orang jadi pintar sekejab? Adakah obat yang bisa bikin juara kelas?


            Setiap kali aku membaca buku pelajaran, aku langsung diserbu oleh jutaan rasa kantuk. Mataku seperti sedang tertutup kabut tebal. Tiba-tiba dari sela-sela atap kamar keluar gas beracun yang membuatku menguap ribuan kali. Seperti obat bius yang sangat manjur. Aku akhirnya tertidur dengan pulas. Keadaan ini selalu berulang kulakukan dari SD. Mama sering menjewer telingaku karena kebiasaan ini.


            Aku merebahkan diri ke atas kasur, memeluk guling bauku. Harus kemana ya aku habis SMA? Harus mengambil jurusan apa? Apa aku ikut jurusannya temanku? Tapi aku tidak tau apakah aku layak apa nggak. Sarah katanya ingin mendaftar di PGSD. Ya, seenggaknya dia sudah tau kalau kelebihannya bisa mengajar dan bersabar. Contohnya sudah sabar sekali berteman denganku selama 3 tahun ini. Aku


kembali terdiam. Aaaahhh!!!!! Mikir terus bikin aku tambah pusing. Tanganku meraih ponsel yang ada di atas meja. Kulihat, di grub sudah ada beberapa anak yang dapat kampus. Ucapan selamat bermunculan sampai memenuhi grub angkatan. Aku semakin merasa tidak percaya diri. Pasti bahagia banget orangtuanya.


            Aku kembali merenung banyak hal. Apakah aku memang diciptakan untuk jadi orang yang tersakiti kayak gini ya? Kenapa aku nggak punya kelebihan satu pun di dunia ini? Mama dulu ngidam apa sih? Capek banget hidup jadi manusia yang kayak gini. Padahal, aku Cuma ingin bahagiain mama. Ya, minimal nggak bikin mama malu karena anak perempuannya jadi beban keluarga. Aku meneguk jus melon di tanganku. Aku tersadar, ternyata ini bukan jus melon, tetapi melon palsu. Maksudku, ini hanya minuman rasa melon. Aku mengerutkan dahi dan meletakkannya di atas meja belajar. Kecut banget anjir.


            Ruangan kotak itu membuatku selalu menyesali hidup. Ya, mungkin akhir-akhir ini saja sih, karena memang mendekati ujian dan UTBK. Sarah juga tiba-tiba menjadi sibuk karena harus mempersiapkan diri untuk UTBK. Sedangkan aku, aku menghabiskan minimal 6 jam perhari untuk bersedih dan menyesali diri, mengapa aku terlahir sebagai Cantika Ekuivalen?!!! Ah, menyebutkan nama sendiri saja sudah membuat emosi.


            Pintu terbuka. Mama masuk dengan membawa sebuah apel merah. Wajahnya sumringah karena barusan menang arisan. Dia meletakkan apel itu di meja belajarku. Aku mengucapkan terimakasih dan mama kembali ke dapur. Aku memandang apel itu dengan seksama. Teringat, kalau dulu gaya gravitasi ditemukan gara-gara apel. Ah, andai saja apel dulu nggak jatuh, pasti pelajaran fisika jadi berkurang dikit bebannya. Aku langsung berlari keluar kamar. Melihat sekeliling rumah, kemudian melihat mama ternyata sedang menyiram bunga di depan. Aku berlari menghampiri mama.


“Ma, nanti aku masuk jurusan apa ya?”


Mama yang sedari tadi menyiram tanaman, mematikan kran dan menghampiriku.


“Kamu maunya jurusan apa Can?”


Aku bingung.


“Nggak  tahu, makanya aku tanya mama”


Mama menghembuskan nafas dalam. Ia memberitahuku untuk mulai kepoin jurusan di kampus. Mulai dari mata kuliah, prospek kerja, dan akreditasi juga. Kata mama itu sangat penting dipertimbangkan biar aku nggak salah jurusan.


            Aku langsung mengangguk dan menuju meja belajarku. Mulai mencari tahu berbagai jurusan soshum dan kepoin jurusan itu. Seharian aku bersusah payah mencari tahu, tidak juga ada yang kuminati. Aku semakin bingung dengan diriku sendiri. Tetapi, entah kenapa malam ini aku cukup bersemangat dengan diri sendiri. Mulutku melambangkan bulan sabit. Tersenyum dengan kegiatan yang kulakukan hari ini, ternyata bisa juga aku di depan meja belajar sampai malam. Untuk pertama kalinya, meja belajar tidak membiusku.


            Setelah larut, akhirnya aku menemukan sebuah jurusan yang cukup menarik perhatianku. Yaps, jurusan yang kurasa bisa kugapai dan aku mampu menjalaninya. Jurusan Sastra Indonesia. Aku mulai merasakan pegal di punggung, karena seharian aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk membandingkan ratusan jurusan di Indonesia. Wah, aku sampai lupa mandi. Ah, bodoamat deh.

__ADS_1


__ADS_2