Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Pameran Kampus


__ADS_3

            Mataku sakit sekali, kayaknya kelilipan. Serentak aku berdiri dan mencari obat tetes mata di rak atas. Akhirnya kutemukan juga obat itu. Aku kembali ke depan cermin, kemudian dengan hati-hati meneteskan obat tersebut ke mataku. Aduh!! Masih terasa pedih, tapi nggakpapa. Aku kembali melihat diriku di cermin. Rambut ikalku yang kusayangi, jerawat banyak yang tak kunjung sembuh, kulit kusam yang kumiliki, bibir hitam, dan banyak hal yang selalu menjadikanku insecure itu, kini pelan-pelan berusaha kuterima. Maksudku, ya kalau aku memang diciptakan kayak gini, mau gimana lagi? Sekarang, seharusnya yang aku fokuskan adalah, gimana caranya biar aku keterima SBMPTN jurusan Sastra Indonesia tahun ini.


Dering telepon mengagetkanku, ternyata dari Sarah.


“Halo?”


“Nyet, ikut pameran kampus kuy!!”


“Dimana?”


“Di depan Perpusda”


“Ok”

__ADS_1


“Jam 7 berangkat ya”


            Aku keluar kamar, menuju dapur. Kulihat mama sedang sibuk membuat sesuatu dan tangannya memegang mixer. Eh,sebentar.. mixer? Kok aku baru tahu mama punya mixer? Pasti gara-gara menang arisan nih. Beberapa menit kemudian kue sudah tercium harum di meja makan. Aku cukup senang, setidaknya setiap hari nggak makan telur dadar terus. Aku berpamitan sama mama untuk pergi ke pameran kampus. Dia hanya mengangguk saja. Aku berdehem dan menanyakan perihal mixer itu. Tetapi mama hanya tersenyum misterius. Ah, peduli apa aku sama mixer mama, yang penting perutku sudah kenyang dan siap pergi ke pameran kampus pagi ini.


            Saat berangkat, aku sengaja membawa dua potong roti di ranselku. Siapa tau, Sarah mau makan roti ini. Pintu rumahkututup rapat dan aku melihat Sarah sudah nyengir gila di depan gerbang. Aku langsung berlari dan menjerit kesetanan sebagai ritual pertemuan. Kami langsung berangkat menuju tempat pameran. Tetapi, di tengah jalan kita balik lagi karena baru ingat kalau aku belum pakai helm. Aku mengambil helm dan berangkat lagi,


tetapi di tengah jalan Sarah baru ingat kalau acara pameran kampus ternyata dilaksanakan besok pagi. Kami berdua saling nyengir dan meratapi kebodohan diri sendiri.


Sarah kalau aku ingin kuliah di jurusan Sasindo. Di kampus mana pun nggak apa-apa asalkan jurusan Sasindo. Dia berbinar menatapku. Mungkin karena kali ini aku punya tujuan yang keren. Setelah kutanya, ternyata Sarah berbinar karena rotinya enak.


            Keesokan harinya, kami berdua sudah berada di depan gerbang pameran. Banyak mahasiswa yang melihat kami karena mungkin terlihat agak aneh. Aku tetap cuek, meski kadang sebal dilihat dengan tatapan kayak gitu. Karena semakin banyak yang menatap, aku jadi penasaran sama diriku sendiri. Sebenarnya, apa sih yang aneh. Aku tanya sama Sarah, tetapi dia juga bingung kenapa. Jadi kami memutuskan untuk ke kamar mandi aja.


            Saat akan melangkahkan kaki dan memunggunginya, aku langsung ditarik oleh Sarah. Dia melotot dan menutup mulutnya. Aku ikutan panik.

__ADS_1


“Kamu pake ****** ***** buat ikat rambut?!”


“HAHH!!”


Aku langsung memegang ikat rambut yang ada di kepalaku. Astaaga, ternyata benar. Aku tadi pas mandi memang pakai ****** ***** buat alternatif ikat rambut soalnya tali rambutku hilang. Dengan cepat, aku menarik ****** ***** itu dan menyembunyikannya di saku rok. Kami berdua saling bertatapan. Karena malu, aku mengajak sarah berlari menuju kamar mandi.


            Di kamar mandi, aku sedikit canggung dengan Sarah. Dia menatapku. Kakinya mendekat ke arahku. Aku hanya melihatnya pasrah. Kupikir, dia bakalan jadi orang terakhir yang mau berteman denganku. Ya, benar kata mama. Aku memang aneh banget jadi manusia.


“Nggakpapa Can. Gue juga pernah kayak lo kok. Pas ikut nyokap ke mall.”


Kami berdua serentak tertawa keras sekali. Ternyata tuhan memang baik. Mempertemukan aku dengan manusia yang sama gilanya kayak gini.


            Di pameran kampus ini, aku jadi semakin yakin untuk masuk di Jurusan Sastra Indonesia. Selain itu, aku juga sudah punya pandangan ingin kuliah di kampus mana. Begitupun dengan Sarah. Dia juga sudah tahu mau ngambil kampus mana. Rasanya bahagia karena seolah sudah menemukan jalan hidup. Bahkan, aku juga sudah membayangkan mau kost dimana semisal aku diterima di kampus tersebut. Wah, pasti akan sangat menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2