Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Kata Orang Tantang Nasibku


__ADS_3

Seseorang pernah bilang, kalau masa SMA adalah masa paling indah selama hidup di bumi. Tapi, sampai sekarang bahkan aku tidak menemukan dimana letak keindahan saat SMA? Ngerinya, aku mikir, bagaimana kalau hal indah di hidupku cuma mentok di sini aja? Bagaimana kalau di depan sana aku akan menjadi orang yang menyedihkan? Candra bosan mengakuiku sebagai kakak, mama malu melihat anak perempuannya terlantung-lantung seperti daun yang terbawa arus.


Teknik Elektro. Menyebalkan sekali bukan? Perkuliahan ini terasa begitu sulit. Tapi apa boleh buat? Mama sangat senang ketika aku diterima di jurusan ini. Awalnya, semua orang kaget mendengar kalau aku masuk jurusan teknik. Dikira, aku diam-diam ambis dan sejatinya pintar tapi tidak sombong. Padahal, aku cuma iseng nge-klik jurusan ini karena memang tidak ada pilihan lain. Tapi kenapa takdir jadi menyebalkan begini ya?


Aku melihat semua mata kuliah. Hampir semua diisi dengan matematika dan fisika. Sisanya Elektronika dasar. Aku benar-benar kalap. Kalau boleh, aku ingin sekali kabur dari rumah ini dan mendirikan peradaban baru di suatu tempat. Tapi, aku sadar aku belum bisa mencari uang. Mungkin kalau jam makan, aku balik dulu ke rumah, kemudian minggat lagi sampai sore.


Aku tidak tahan membayangkan kehidupan perkuliahanku.  Ketika mengingatnya, aku merasa seperti masuk angin. Kadang ditambah dengan diare. Beberapa saat setelah aku lupa tentang kuliah, aku sehat walafiat lagi. Tapi kalau dibahas lagi, biasanya aku langsung  sakit perut hebat. Menyebalkan sekali. Bahkan tubuhku sendiri juga menolak masuk sana.

__ADS_1


Tapi nasi sudah dimakan ayam. Tidak ada yang bisa diubah lagi selain menjalani hari-hari dengan baik. Meskipun beberapa waktu lalu, seorang nenek tua tiba-tiba bilang kalau aku akan menjadi perawan tua dan hidup menderita. Aku sudah pasrah. Toh, nenek itu sudah tua, mungkin dulu hidupnya tertekan juga.


Pulang dari toko kuenya mama, aku disambut dengan salah satu kerabat yang tinggal di luar kota. Ketika melihat rambut kriwilku, dia mengernyitkan dahi. Mungkin lupa kalau mama punya anak dua.  Ya karena yang sering dibicarakan di keluarga besar cuma Candra. Aku hanya jadi penonton yang dibayar sama nastar. Paman itu tiba-tiba bilang, "Kamu bakalan jadi orang yang celaka. Semua orang yang dulunya mendukung, akan balik menyerangmu. Jadi, jangan aneh-aneh pas kuliah." Aku terkejut. Kenapa malah jadi kayak perang shinobi gini sih?


Paman itu hanya tersenyum. Aku menatapnya, melihat sekeliling sebentar, kemudian berkata setenagh berbisik. "Tenang, lagian emang nggak ada yang mendukungku kok. Hidupku udah rumit, gausah nambahin beban pikiran deh."


Mama belum juga datang, di ruang tamu hanya ada Candra dan orang tadi. Rasanya jadi malas keluar kamar. Hingga aku melihat ada sebuah notif di ponselku. Ternyata aku disuruh menjemput mama. Akhirnya, dengan berat hati, aku beranjak dari kasur.

__ADS_1


Sepeda motor kunyalakan, aku berpamitan dengan Candra dan menyuruh Candra membuatkan teh buat paman itu. Karena si adik menyebalkan itu bahkan tidak memberinya air setetes pun pada tamu. Benar-benar bukan manusia yang berakhlak mulia emang.


Mama sampai rumah dengan perasaan senang. Katanya ada yang pesan donat 100 pcs jadi malam ini harus kerja lembur. Aku yang mendengarnya setengah bahagia, setengah bersedih. Pasalnya, akulah yang akan direkrut mama dalam kerja rodi membuat donat ini. Ya, siapa lagi kalau bukan aku? Candra kan nggak mau.


Paman itu berbincang dengan mama sambil sesekali menatapku. Mama kadang melihatku dengan prihatin. Aku tidak peduli dengan apa yang dibicarakan karena aku masih sibuk melihat video youtube tentang "Tutorial Merawat Kucing Bagi Pemula!! Dijamin Tidak Nakal!!"


Sampai beberapa menit berlalu, dan paman harus berpamitan kepadaku. Ketika aku menyalaminya, dia menatapku tajam sambil bilang "Jangan merepotkan mamamu. Kuliah yang bener."

__ADS_1


Aku yang sudah bosan dengan kalimat itu langsung mengiyakan saja. Toh, dia juga bukan siapa-siapa.


__ADS_2