Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Pengumuman SNMPTN


__ADS_3

                Sarah tiba-tiba berlari menghampiriku di kelas. Aku yang dari tadi hanya ngalamun sambil menguap langsung heran dengan tingkah aneh manusia ini. Dia menarik tanganku dan mengajakku keluar kelas. Aku hanya mengikuti dia. Langkah kami berhenti di depan papan pengumuman.


“Liat deh, lo 40% siswa yang bisa daftar SNMPTN tahun ini Can!!”


“Hah!! Sumpah?”


“Iyaaa”


Sarah menunjuk namaku di kolom itu. Aku berteriak senang. Ternyata aku dan Sarah masuk 40% yang bisa daftar SNMPTN. Setelah berbahagia, aku dan Sarah pergi ke kantin. Kebetulan di sana ada Dewi yang sedang makan soto sendirian. Haha sudah kutebak kalau dia nggak punya teman di kelas karena dia sok-sokan gitu tampangnya. Aku cuek aja sambil pesen segelas es teh dan gorengan dua. Selang beberapa menit, ternyata datang segerombolan anak perempuan dari MIPA3 yang mendatangi tempat duduk Dewi. Mereka tertawa bersama. Huft,


ternyata Dewi banyak temen.


            Namun, tiba-tiba muka Dewi merah padam karena sesuatu. Kemudian dengan sangat misterius, dia berlari keluar dari kantin. Aku nggak peduli dengannya. yang paling penting, gorengan dua ini sudah bisa mengganjal perutku yang nggak terlalu lapar. Apalagi bakwan jagung manis ini rasanya begitu gurih. Wah, ternyata kalau sedang bahagia tuh apa-apa jadi nikmat ya.


“Pengumuman SNMPTN yang tadi ternyata salah guys, ini udah diperbarui!! Liat yuk!!” Dewi kembali ke kantin sambil mengajak teman-temannya.


 “Whatt??!!” aku dan Sarah saling bertatapan.

__ADS_1


Kami tahu apa yang dipikiran masing-masing, tanpa satu patah kata yang keluar dari mulut, akhirnya kami berdua langsung lari meninggalkan es teh dan gorengan itu.


         Di depan papan pengumuman ternyata ada


banyak sekali anak-anak. Aku dan Sarah kesulitan untuk melihat pengumuman baru


itu.


“Katanya yang dimasukin tuh salah namanya. Harusnya, nama-nama yang tadi tuh yang nggak lolos sih.”


Suara salah satu anak yang kudengar. Hatiku langsung sakit.


“Kenapa Can?”


“Yang tadi tuh yang nggak bisa daftar ternyata.”


“Hah!! Jadi kita ga bisa daftar?”

__ADS_1


“He eh”


Mata Sarah terlihat kecewa. Aku pun demikian. Tapi mau bagaimana lagi, jelas-jelas janggal  banget, aku peringkat ratusan bisa daftar SNMPTN tuh kayak aneh banget. Tapi nggakpapa. Toh yang bisa daftar belum tentu bisa lolos SNMPTN kok.


            Diam-diam aku memegang dadaku, rasanya sakit. Ternyata diberi harapan kemudian dijatuhkan bisa sesakit ini ya? Dalam hati, aku ingin marah tapi bingung marah ke siapa. Akhirnya, aku dan Sarah kembali ke kantin kemudian memesan es teh dan dua gorengan lagi. Kami berdua akhirnya tertawa karena melihat dunia yang baru saja membuat kami kecewa bersama-sama.


         Jadi, Memang aku ditakdirkan untuk ikut tes ya. Sudah kuduga, andai aku punya otak yang cemerlang seperti oranglain, pasti 50% masalah hidupku bisa terselesaikan dengan sendirinya. tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa memilih untuk terlahir seperti apa. Kita hanya bisa menerima hari ini dan menjalani hari-hari berikutnya. Meskipun kadang menyebalkan, ya dinikmati saja. Toh dunia memang hanya berputar diantara orang-orang yang beruntung.


        Setelah minum es teh dan menghabiskan gorengan kami, Sarah kembali ke kantin dan melihatku dengan senyum kemenangan. Aku balik senyum meskipun terpaksa. Tidak lama kemudian, ia menghampiri mejaku.


"Udah kan makannya? Soalnya gue mau duduk di sini sih. Mending Lo minggir deh."


Aku dan Sarah hanya berpandangan, sejujurnya aku ingin balik memaki, tetapi Sarah memberi isyarat untuk mengalah. Aku menghela nafas dan beranjak dari tempat itu. Belum ada lima menit aku meninggalkan tempat duduk, tiba-tiba ada suara dari belakang yang membuatku terkejut.


"Udah bego, jelek, jerawatan, ga lolos SNMPTN, masa sih masih berharap bisa dapetin Alvi. Keknya Alvi bakalan jijik sama lo ga sih, hahaha."


Langkahku terhenti, wajah Sarah memerah karena tidak terima atas ucapan Dewi kepadaku. Cepat-cepat, aku menarik tangan Sarah. Tiba-tiba tanpa sadar mulutku berteriak.

__ADS_1


"Enak ya, jadi anak bontot. Apa-apa bisa didapetin. Sayang, kelakuannya nggak lebih dari beruk di gang depan gue."


    Sarah terbelalak ia menatapku sembari menahan tawa. Kami berdua akhirnya berlari menuju kelas tanpa memperdulikan Dewi yang sedang marah-marah. Kadang aku bingung, bisa-bisanya orang yang udah dapat semua kebaikan dari tuhan kelakuannya malah seperti itu. Mungkin dia bosan merasa bahagia setiap hari.


__ADS_2