
Pukul tiga sore. Mama menyuruhku membeli micin lagi ke warung Bu Nur. Kali ini aku capek berdebat jadi langsung kuturuti. Mama terkejut melihatku tiba-tiba gampang diatur. Aku hanya cuek dan langsung pergi ke warung.
“Assalamualaikum Bu Nur!!!”
Laki-laki kucel keluar dari pintu sambil menguap. Telinganya yang mirip centelan panci dan badan kurus keringnya selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
“Beli micin.”
“Berapa?”
“Dua.”
Dia mengambil dua bungkus micin dan meletakkannya di depanku.
“Berapa?”
“Empat ribu”
Aku merogoh uang yang diberikan mama.
“Duitnya pas ya” Katanya.
“He eh”
Aku berbalik badan dan melangkah pulang.
“Lo yang berantem sama Dewi tadi kan?”
Langkahku berhenti. Aku menoleh ke arahnya.
“Kenapa emang?” Tanyaku sewot.
“Lo demen ama si Alvi kan?”
“Hah! Nggak!”
“Hilih, ngaku aja”
“Kenapa sih?”
“Keliatan anjir”
“Hah! Masa?”
“Iyaa”
Aku cemberut, membenarkan kacamata tebalku.
“Kalo iya, emang kenapa?” Tanyaku menyelidik.
“Gue kasian aja sama lo tadi pas di sekolah.”
“Njir, kasian kenapa?”
“Gue tau kalo Si Dewi yang mulai duluan.”
Aku mulai murung teringat kejadian tadi.
“Oh, bagus deh.”
Manusia ini menghampiriku dan menepuk punggungku.
“Gue deket sama Alvi. Gue bantuin lo bisa deket sama dia.”
__ADS_1
Mataku langsung melotot, terkejut, bahagia.
“SUMPAHHH!!”
“Iyaaa”
“Waaa makasih. Eh sapa sih nama Lo? Wawan ya?”
“Yoi, lo sapa?”
“Gue Cantik.”
“Anjir PD banget nama lu, hahah.”
“Ih paan sih emang nama gue Cantika.”
“Hahahahahhahaa.”
Aku mulai curiga kenapa si kuping centelan wajan ini mau membantuku. Mataku meliriknya dengan penuh curiga. Dia jadi salah tingkah sendiri.
“Kenapa si?”
Tanyanya kelihatan risih.
“Kenapa lo mau bantuin gue?”
Dia diam. Aku semakin curiga.
“Jangan-jangan lo suka ya ama gue!!!!” Wawan terkejut dengan pernyataanku tadi.
“Anjiiirrr!!!! Kaga lah!!!”
“Lha terus??”
Tiba-tiba aku teringat dengan micin yang ada di tanganku. Anjir fiks gue kena marah mama.
“Maaa, nih micinnya.”
Mama yang dari dapur tiba-tiba menghampiriku.
“Can, kamu suka sama anaknya Bu Nur ya? Pasti pacaran dulu tadi!”
“WHAT!!! SAMA SI KUPING CENTELAN WAJAN ITU? ENGGAK!”
Mama melotot mendengar ucapanku tadi. Akhirnya aku dijewer lagi untuk kesekian kali.
***
Pukul lima pagi, aku sudah bersiap di depan cermin menatap bayanganku sendiri. Sedih banget rasanya setiap kali melihat wajahku yang banyak flek hitam, jerawat, kantung mata, kusam, ih kenapa sih manusia tuh diciptain dengan kulit yang beda-beda? Kenapa nggak semuanya sama kayak punya artis korea aja gitu? Kan se-Bumi bisa goodlooking semua. Nggak bakalan ada namanya kata “Insecure” gegara muka.
Aku beralih melihat rambut ikalku yang ngembang kalau nggak rajin keramas. Setiap pagi harus bangun awal banget biar bisa nyatok rambut. Tapi bukan itu yang terpenting sebenarnya. Hari ini aku nggak pergi ke sekolah, tapi ke tempat tryout massal. Eh, maksudku tryout akbar hahaha. Katanya semua sekolah SMA sederajat di daerah bakalan ngumpul di sana nanti. Ya, kamu taulah maksudku gimana. Andai aku bisa cantik dalam sekejab, pasti minimal aku bisa menggaet satu diantara ribuan laki-laki gitu. Tapi, melihat mukaku yang semakin menyedihkan, aku memutuskan untuk fokus tryout. Anjir, fokus wkekek.
“Klunting”
Suara notifikasi dari gawai. Aku membuka pesan itu.
“Keknya Alvi suka sama cewek pinter deh. Kalo bisa lu dapet nilai bagus pas tryout ini Can.”
Pesan dari wawan yang membuat pagiku penuh overthingking. Seakan teringat semua dosaku selama SMA yang sering tidur pas kelas. Huft, bismillah. Habis ini bakalan belajar deh.
“Mama goreng telur nggak?”
Aku duduk di meja makan. Di sana adikku sedang fokus dengerin sesuatu memakai earphone.
__ADS_1
“Iya, kenapa?”
Mama meletakkan sepiring telur ceplok di atas meja.
“Emmm kalo menunya mulai sekarang diganti gimana?”
“Loh, bukannya kamu suka makan telur?”
“Emm tapi kata youtube, telur bikin jerawat makin parah Ma.” Rengekku.
“Kenapa nih, tiba-tiba jadi mikir gitu? Biasanya cuek sama penampilan?”
“Nggakpapa Ma. Kan cantik mau kuliah juga udahan.”
“Oh mama tau nih, kamu sekarang lagi suka sama anaknya Bu Nur itu kan?”
Aku langsung tersedak mendengar ucapan Mama.
“Heh!! Sembarangan! Enggaaaaak!!!”
“Kirain.”
“Aku tuh malu lo Ma, masak namakau cantik, tapi akunya nggak cantik. “
Mama menatapku dan berhenti makan.
“Semua perempuan tuh cantik.”
“Kecuali aku kan?”
“Kamu juga cantik. Kalo nurut sama Mama.”
“Ih, apa hubungannya.”
Aku melanjutkan makan. Kulirik Candra dari tadi diem aja.
“Woe! Diem-diem baek! Ngomong napa!”
Dia hanya melirikku sebentar, kemudian melanjutkan makan.
“Napa sih?” Tanyaku.
“Dia juara tiga pas olimpiade.” Mama memberitahu.
“Terus?”
Kataku heran.
“Ya biasanya kan juara satu. Terus dia sedih.”
“Dih, nggak bersyukur banget.” Kataku sewot.
Bocah tengil itu justru menatapku tajam. Aku menghembuskan nafas panjang.
“Berangkat
dulu Ma, Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.
Belajar yang rajin.”
“Oke Ma. "
__ADS_1