Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Cantik


__ADS_3

            Aku lagi ngedit foto selfiku di Photoshop. Biar jerawat yang ada di mukaku nggak kelihatan. Padahal, sebelumnya aku sudah pakai filter instgram. Tetapi rasanya masih belum cukup puas dengan mukaku sendiri. Sehabis lihat drama korea, aku sebenarnya juga ingin belajar make up. Tapi kata mama, kalau aku pakai foundation, jerawatku akan semakin parah. Jadi aku nggak berani pakai. Selesai mengedit, aku melihat wajahku di layar. Wah, ternyata kalo aku mulus lumayan cantik juga ya. Hmm.. aku jadi teringat perihal SNMPTN tadi di sekolah. Hatiku sakit sekali. Padahal biasanya juga aku nggak pernah berharap apa pun tentang akademik. Ditambah lagi, sekarang aku mulai suka dengan Alvi. Laki-laki yang begitu masyaallah untuk aku yang astagfirullah. Kalau saja aku bisa pandai, seenggaknya aku masih punya rasa percaya diri. Tetapi badanku saja rasanya sudah nggak support buat jadi pandai. Bisa-bisanya aku stress berlebihan ketika pelajaran matematika lagi. Menyebalkan.


            Mama terus membujukku untuk ikut bimbel. Padahal, aku sudah berencana untuk melupakan Alvi dan sadar diri. Aku tidak mungkin bisa bersama dengannya, dan terus melihat dia hatiku semakin sakit. Tetapi mama rasanya tidak mengerti perasaanku. Sore ini pun, aku harus ikut bimbel lagi. Dijemput Alvi lagi.


“Can. Udah jam berapa ini!!!”


Suara mama memenuhi seluruh ruangan rumah ini.

__ADS_1


“Iya Maa”


Aku langsung mengambil handuk dengan malas.


            Bingung mau pakai baju apa. Semuanya terasa tidak pantas. Tetapi, ayolah.. kali ini aku hanya bimbel. Bukan mau kencan dengan Alvi. Jadi, aku mengambil hoodie dan rok pendek selutut bermotif kotak-kotak. Aku ingat betul, outfit ini dulu aku dapat dari give away olshop. Ingat betul aku sampai menangis karena pada akhirnya aku bisa beruntung. Jujur sih, seumur hidup baru saat itu aku merasa spesial. Aku menggulung rambutku ke atas dan memakai bedak tabur seadanya.


            Jam menunjukkan pukul 4 lebih enam belas menit. Suara motor Alvi sudah terdengar di depan gerbang. Aku

__ADS_1


“Tumben cantik”


Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Apa!! Alvi bilang aku cantik? Allahuakbar!! Tiba-tiba saja dari langit berjatuhan bunga sakura berwarna pink. Seluruh molekul bahagia yang ada di seluruh badanku berkumpul dan bermusyawarah. Kupu-kupu hadir memenuhi perut dan menyesakkan. Pelangi muncul di sekeliling kami dan yang aku tau, motor Alvi berubah menjadi kereta kencana yang indah. Pohon-pohon bernyanyi bersama dengan kebahagiaanku. Tupai mulai berjejer dan menari lagu Kuch Kuch Ho Ta Hai. Seketika, aku merasa sedang diterbangkan di atas awan. “Astaga, Alvi bilang aku cantik? Apa dia lagi kena penyakit rabun senja?


“Heh!!”


Tiba-tiba aku tersadar. Daritadi aku menari-nari dan senyum sendiri di depan Alvi. Wajah Alvi kaget melihat tingkahku barusan. Aku jadi malu sekali. mukaku yang awalnya hitam jadi tambah hitam semu-semu merah. Aku hanya nyengir dan langsung naik ke jok belakang. Alvi, tanpa sepatah kata pun langsung melaju ke tempat bimbel.

__ADS_1


"Dear Diary


Untuk pertamakalinya dalam hidup, ada manusia yang bilang aku cantik. Seorang laki-laki yang jatuh dari langit. Hadir di antara awan-awan hitam yang menyelimutiku belasan tahun ini. Laki-laki itu sekarang berada tepat di depanku. Jarak kami berdua tidak ada. Ya, benar.. tidak ada selain tembok besar yang bernama perasaan. Suatu hari, Vi. Kalau aku sudah bisa seperti yang kuinginkan.. aku akan bahagia dan berhenti menyukaimu. Aku akan bahagia dengan caraku sendiri, tidak bersebab oleh oranglain. Karena setelah ini, aku janji akan rajin belajar. Supaya aku bisa punya uang dan menjadi cantik. Kamu tau Vi, aku nulis ini saat sedang kamu bonceng. Oiya, hari ini kamu menawan sekali. Terimakasih sudah menjadi Alvi dan hidup dengan sehat di gang sebelah."


__ADS_2