
Tentu saja ini hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa kelas 12 se-Indonesia. Ini pengumuman
SBMPTN, tentu saja. Dari subuh tadi,mama sudah menanyakan perihal pengumuman itu. Aku menguap hebat, gara-gara kepikiran tentang pengumuman ini, aku semalam jadi nggak bisa tidur. Selain berdo’a dengan giat, aku jadi sering membantu ibu dan meminimalisir gangguin Candra. Hal ini kulakukan supaya mereka ridho denganku, dan ikut mendoakan aku juga.
Mama masuk ke kamar dengan segelas susu. Ia mengelus rambut ikalku yang mengembang. Dia tersenyum dan menyuruhku mandi. Aku merengek untuk menunda mandi, masih malas rasanya melangkah dari kasur. Mama nggak marah, maksudku biasanya mama langsung ngomel-ngomel, tetapi ini tidak. Dengan segala kekuatan yang kupunya, setelah meneguk habis susu itu aku langsung mengambil handuk putih dan membuka
pintu kamar. Di sana, Candra sudah menyantap sepotong roti tawar dicampur selai kacang buatan mama.
“Can! Kamu pake sabun cuci mukaku ya!!” Aku marah melihat sabun cuci mukaku habis.
“Enggak.”
“Heleeh!! Ngaku aja!!”
“Ih, dibilangin nggak!”
Aku mendengus kesal, pasti Candra nggak mau mengakui kalau dia pelakunya.
__ADS_1
Pagi itu, suasana rumah seperti biasa, pertengkaranku dengan Candra, roti dan selai kacang di meja makan, mama yang mengantar susu ke kamar, dan aku yang masih menjadi beban keluarga. Semuanya terlihat biasa saja, hanya mood mama yang sedikit membaik hari ini. Tetapi sebenarnya ada sesuatu yang tidak biasa.
Maksudku, ada hal yang spesial hari ini. Sebuah hal yang belum aku ketahui sebelumnya, sesuatu yang akan mengubah hidupku selanjutnya.
Mama menyuruhku membeli sabun cuci muka baru di warung gang depan. Karena terpaksa, aku mengiyakan suruhan mama, sekalian bisa ketemu sama Alvi. Aku bergegas menuju kamar, memakai pakaian terbaik, sedikit memakai bedak dan lipstik, dan berangkat. Udara hari itu cukup segar, aku sangat menikmati suasana pagi ini. Banyak anak kecil yang sudah bermain sepeda di jalan gang ini. Tidak terasa,
aku sudah sampai di warung mamanya Alvi. Namun sayang, nggak ada Alvi di sana. Dia mungkin bangun kesiangan, atau barangkali sedang melakukan sesuatu di dalam rumah.
Sampai rumah, mama langsung memelukku. Aku kikuk, kenapa mama ini? Tumben sekali? Apa
mama yang sebenarnya menghabiskan sabun cuci mukaku?
Mata mama berkaca-kaca.
Aku gemetar mengambil ponsel dan membuka halaman website itu. Dengan gugup aku memasukkan nomor peserta dan tanggal lahir di sana. Layer pun berganti dengan warna putih, perlahan website itu terbuka…
“Maaf, anda tidak lolos seleksi SBMPTN tahun ini…”
__ADS_1
Aku terpaku. Dalam hidup, baru kali ini aku merasa kecewa sekali. Saking kecewanya, aku sampai bingung harus berekspresi apa. Kulihat mama menatapku dengan iba, begitu pun Candra yang melirikku. Aku menghela napas panjang, berusaha menarik garis bibirku. Ih aku nggak boleh kelihatan sedih di depan Mama. Nggak keren banget. Nanti mama ikutan sedih. Aku berusaha mendongakkan kepala ke atas. Bermaksud agar tidak ada air mata yang
keluar. Tetapi Mama buru-buru menarik tanganku, memelukku erat, mengeluh kepalaku, bilang kalau dia akan tetap mendukungku di seleksi mandiri.
Aku masih membatu, tanganku dingin. Oh, ternyata sesakit ini ya rasanya berharap dan ditolak. Mama terus meyakinkan aku di seleksi mandiri. Tetapi aku yakin, mama akan sangat bekerja keras di biaya kuliah. Seleksi mandiri pasti biayanya jauh lebih besar.
Ternyata, sebenarnya mama sudah tau perihal pengumuman ini sejak tadi pagi. Ia diam-diam
membuka pengumuman, dan mendapati penolakan yang aku terima. Tapi, mama berusaha membuatku baik-baik saja hari ini, dengan bersikap sedikit manis dan sengaja menghabiskan sabun cuci mukaku supaya aku bisa pergi ke rumah Alvi dan merasa lebih baik. Oh, mama. Hari ini dia memberi obat di luka yang justru belum ada. Aku sayang sama mama, selalu.
***
Malamnya, aku batuk hebat setelah beberapakali
menangis terisak di kamar. Kalau dihitung, mungkin sehari bisa nangis sampai 15 kali. Aku benar-benar merasa sangat sedih, ditambah dengan kabar bahwa Sarah sudah diterima di kampus impiannya. Dunia terasa begitu gelap, aku benar-benar merasa sedang berada di gua yang besar dan sendirian. Sesekali mama datang membawakan minum dan menyuruhku mandi. Tetapi, aku nggak menghiraukan. Hatiku masih belum menerima kenyataan kalau aku sudah ditolak SBMPTN.
Aku membalik badan dan tidur terlentang. Tanganku mengusap air mata yang mengalir di sudut kelopak. Dengan nafas tersengal, aku menatap langit-langit kamar. Baru kali ini aku merasa sangat sedih. Maksudku, pasca Papa meninggal, baru kali ini aku merasa ada kejadian yang menyakitkan lagi. Teman-temanku sudah diterima di
__ADS_1
kampus impiannya, bahkan Sarah yang setiap hari bercanda denganku pun juga diterima. Kenapa aku nggak diterima sendiri? Apa aku kelewatan? Apa website itu salah? Ah, barangkali ada kesalahan di websitenya. Aku buru-buru beranjak dari kasur dan mengambil ponsel di atas meja. Kubuka website itu lagi, kumasukkan nomor pesertaku. Beberapa detik halaman layer berubah menjadi putih dan layer pun terbuka. Terbelalak aku saat melihat layer hijau di halaman website. Sungguh, tulisan yang aku inginkan itu kini berada tepat di depanku. Aku bahagia, sangat bahagia. Ternyata benar websitenya ada yang salah. Dengan kalap aku berlari menuju dapur ingin memberitahu mama soal ini. Namun saat aku beranjak, kakiku seperti ringan sekali. Aku seolah bisa terbang. Namun, tiba-tiba saja aku terpental jatuh dan… “BRUKKK” badanku jatuh dari tempat tidur. Aku langsung mmebuka mata. Ah, sial!!! Ternyata Cuma mimpi!