
Ini Hari Selasa. Isu-isunya bakalan ada sosialisasi dari kakak mahasiswa di berbagai kampus nanti. Aku jadi nggak sabar pengen males-malesan di belakang sambil tidur. Ya kapan lagi bisa jamkos kan? Aku jadi kehilangan semangat hidup karena semalaman bertengkar sama mama. Aku bilangkalau ingin diet, tapi mama melarang. Katanya aku sudah pas badan segini, padahal aku baru habis timbang dan berat badanku naik 7 Kg.
Kakak mahasiswa dengan almamater warna biru donker masuk ke ruangan. Mereka menjelaskan dengan penuh percaya diri. Tapi semakin ke sini rasanya aku seperti dikasih dongeng. Nggak terasa saat itu aku tertidur pulas sekali.
“Dek, bangun...”
Aku membuka mata dan terkejut karena banyak banget mahasiswa yang mengerumuni aku. Mereka tersenyum sambil bilang.
“Sesi kita udah selesai, sekarang gantian sosialisasi buat kampus selanjutnya ke kelas Mipa 3 ya.”
Aku melongo, nyawaku masih traveling. Mataku masih berat sekali dibuka. Aku menguap berkali-kali sambil mengeluarkan suara kencang.
“Huaaaaaahhhh”.
Terlihat mahasiswa itu menahan tawa melihatku, tapi aku nggak peduli. Kuambil tasku dan berjalan malas ke Mipa 3.
“Permisi kak, maaf terlambat.” Aku masuk menyelonong langsung ke bangku belakang.
“Eh, Dek sebentar sini dulu.” Ujar mahasiswa dengan almamater warna kuning.
“Apa kak?”
“Maju dulu, kenalan dulu.”
“Hah? Emang kenalan segala?”
“Iya, kan kamu dateng terakhir.”
“Ih, gamau”
“Ayo dong dek.”
“Nggak!”
Aku bersikeras nggak mau maju.
“Adik-adik ada yang mau kenalan sama adek yang satu ini
nggak?”
__ADS_1
Kakak ini berteriak.
“Krik..krik..krik” Suara kelas hening. Tidak ada yang mau berkenalan denganku. Sudah kutebak, kenalan sama aku emang nggak ada faedahnya. Mbak mahasiswa itu menarik nafas. Pasti dia sebal denganku, haha peduli amat. Lagian ngapain sih kenalan-kenalan segala.
“Tok..Tok..Tok”
Seseorang melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.
“Maaf kak, saya terlambat. Habis dipanggil wali kelas.”
Dia Si wajah simetris yang kukagumi beberapa hari ini. Whuaa nggak nyangka bisa satu ruangan lagi. Apakah ini yang dinamakan jodoh ya Allah? Apakah Engkau sengaja membuat aku mengenaskan karena akan dipasangkan
dengan Alvi si wajah simetris ini? Huhu terharu.
“Oh iya Dek, nggakpapa.” Jawab mahasiswa itu ke Alvi.
Anehnya kakak itu tidak menyuruh Alvi kenalan di depan. Dih, kenapa beda gitu sih.
Alvi duduk di bangku belakang juga, tetapi tidak di sebelahku. Kulihat wajahnya capek tapi tetap terlihat ganteng. Sambil liat wajahnya, aku jadi ingat salah satu catatan di novel yang kubaca. Katanya, kalau kita bicara dalam hati sama jodoh kita dari jauh, dia akan mendengar dan menoleh.
“Alvi, meskipun kita beda server... kamu ibarat dewa dan aku rakyat jelata. Tapi, semoga saja kita berjodoh ya. Kamu dengar kan aku ngomong apa Vi?”
kalau Alvi menoleh ke arahku, berarti dia jodohku. Satu.... Dua.... Tiga. Tidak ada perubahan di kepala Alvi. Aku putus asa. Tapi beberapa detik setelahnya Alvi benar menoleh ke arahku. Aku langsung terjungkal, terkejut, terbengek, kaget, seneng banget. “ALHAMDULILLAAAAAH YA ALLAAH” Aku berteriak penuh kemenangan. Semua orang di ruangan itu terdiam melihatku. Sebagian dari mereka menatap aneh. Sebagian lagi merasa kasihan. Aku tersenyum kecut dan menggaruk kepala penuh rasa malu. Anjir ngapain sih gue tadi.
“Jangan lupa akhir pekan ini adik-adik datang tryout tepat waktu ya!”
“Baik kak”
Sosialisasi selesai. Semua orang keluar kelas termasuk Alvi. Aku sengaja mempercepat langkahku
supaya bisa berjalan di belakang dia. Saat akan keluar kelas, aku merasa ada
yang menarik tasku.
“Lo suka sama Alvi?”
Perempuan di depanku ini cantik sekali. Tapi tatapannya membuatku merasa seperti penjahat. Aku merasa takut, terpojok. Ditambah pertanyaannya yang nggak mungkin aku jawab.
“Alvi siapa?” Tanyaku pura-pura bego.
__ADS_1
“Alvi Mipa 4. Gue liat dari tadi lo liatin dia mulu.” Tatapannya tajam ke arahku. Aku jadi merinding.
“Ng..nggak kok. Aku malah nggak kenal.” Jawabku kikuk sambil menelan ludah.
“Bagus deh. Tapi nggak mungkin juga Alvi bakalan suka sama cewek kek lo.”
Ia menyeringai sambil melihat wajahku seperti melihat tikus berit dimakan kucing. Puas sekali kelihatannya.
“Kenapa sih?” Tanyaku.
“Nggak pantes aja.”
“Kenapa nggak?”
“Ya, lo ngaca aja sendiri.” Perempuan berwajah peri berhati nenek lampir itu kemudian berpaling dan berlalu keluar kelas. Anjir sejak kapan gue jadi penakut kek gini sih.
Merasa harkat dan martabatku terancam, aku membenarkan tasku dan berlari mengejar perempuan tadi.
“WOY!!!”
Aku menarik tasnya dengan kasar.
“SINTING YA LO! DASAR MUKA MONYET! NGAPAIN LO NARIK-NARIK GUE!”
Mendengar ucapannya aku naik pitam.
“APA LO BILANG? MUKA MONYET? JAGA MULUT LO! DASAR NENEK LAMPIR!”
“APA!! NENEK LAMPIR!! ANJIR NI CEWEK BERANI BANGET AMA GUA!” Dia mulai kesal.
Tanganya menjabak rambut ikalku. Terasa sangat sakit sekali. Karena nggak tahan, aku gantian menjambak rambut panjangnya. Kami berdua bertengkar dan berteriak dengan kencang. Anak-anak bukannya melerai justru menonton kami berdua. Ia mencakar wajahku dan terasa snagat perih. Aku ingin menangis tapi rasanya nggak kece kalau aku menangis. Tiba-tiba saja, entah ada angin apa cewek ini langsung berhenti menyerangku dan menangis. Lebih tepatnya pura-pura menangis. Aku terkejut karena dia juga tiba-tiba jatuh terduduk. Aku panik. Karena seolah-olah akulah yang menyiksa dia.
Dari belakang, tiba-tiba saja sesosok laki-laki muncul dan menolong penyihir ini. Ia membantu penyihir jahat ini berdiri.
“Lo ada masalah apa sih!” Gertak laki-laki itu kepadaku.
Aku tertegun. Karena laki-laki itu adalah Alvi.
Alvi membawa perempuan itu ke UKS. Perempuan itu diam-diam tersenyum licik ke arahku. Aku terpaku dan menahan perih di wajahku. Lebih perih lagi hatiku. Akhirnya aku berlari ke kamar mandi. Kubasuh mukaku yang
__ADS_1
berdarah, dan kuberi tisu supaya darahnya berhenti. Aku menangis keras seperti anak kecil. Kenapa jadi kayak gini sih?