Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Patah Hati, Patah Semangat


__ADS_3

        Aku tahu bahwa gagal tes ujian tidak membuat dunia berhenti berotasi. Hanya saja, itu berdampak besar atas hari-hariku setelahnya. Aku jadi bingung harus melakukan apa lagi, dengan nilai raport yang pas-pasan, tentu akan susah jika memaksa masuk jalur lain. Ditambah dengan uang gedung yang tinggi untuk jalur selain SBMPTN dan SNMPTN. Aku kasihan sama mama, juga pada diriku sendiri.


        Berhari-hari yang kulakukan hanya menangis, mama sampai bosan mendengar tangisanku. Candra juga cuek saja melihat kakak bodohnya gagal masuk kampus. Hingga saat dimana ada pesan masuk di ponselku.


"Can, lu pasti dateng ke acara perpisahan kan?"


Pesan dari Sarah ternyata. Aku langsung membuang ponselku di kasur. Sambil mengambil handuk, perlahan aku beranjak ke kamar mandi dan membersihkan badan, juga mengusap air mataku. Rasanya begitu konyol kalau oranglain tahu aku bersedih.


        Jam 7 malam. Mama sudah menyiapkan makan malam. Candra yang menatapku cuek ikut makan juga  bersama kami. Padahal, aku sudah bilang ke mama kalau jam 8 aku ada acara perpisahan bareng temen-temen. Tapi mama tetap menyuruhku makan dulu  di rumah. Sepereti biasa, mama selalu menyiapkan kue di meja makan. Semenjak mama buka toko bakery, semua makanan di rumah berperisa manis. Aku coba menantang mama untuk membuat chicken spicy level mercon. Eh, ternyata mama beneran menerima tantangan itu. Alhasil, kami bertiga bolak-balik keluar kamar mandi karena mama membuat cabai rawit 4 kilo habis dalam satu wajan. Setelahnya, aku tidak pernah berani menantang mama lagi. Ngeri.


        Selesai makan, aku langsung beranjak ke kamar. Namun saat mau membuka pintu, tiba-tiba udara terasa aneh. Rasanya ada hawa panas menyentuhku dari belakang. Semacam cipratan dosa dari neraka yang tiba-tiba muncul. Saat itu pula, aku sadar bahwa mama sedang naik pitam karena aku meninggalkan piring kotor di meja. Adikku yang melihat mama sudah ingin menerkamku, justru menepuk jidat dan berlalu. Kini, tinggal aku yang cengengesan sambil berjalan melipir membawa piring kotorku ke tempat cucian. Wajah mama masih melihatku dengan penuh ancaman. Keringat dinginku mulai keluar, hingga aku bisa membersihkan piring sialan ini. Setelahnya, berangsur-angsur mama mulai normal kembali menjadi cucu nabi Adam. Aku menghela nafas lega dan berlalu ke kamar dengan cepat. Ya Tuhan, kenapa Engkau beriku ujian seseram ini?

__ADS_1


       Jam 8 malam. Aku pamitan sama mama dan berangkat menuju acara perpisahan. Acara ini diadakan di salah satu gedung di dekat alun-alun kota. Dresscode yang dipakai hitam. Aku juga bingung kenapa harus warna hitam. Kayak mau ke acara Takjiyah aja. Sampai di sana, aku bergegas menghubungi Sarah. Telepon hanya berbunyi dan tidak ada jawaban sama sekali. Aku mengiriminya pesan singkat. Tapi tidak dibalas. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk duluan ke dalam gedung.


        Di sana, juga tidak kelihatan batang hidung Sarah. Bahkan saat namanya dipanggil ke depan pun dia juga tidak ada. Aku sudah mengiriminya pesan yang ke 87 kali, tapi belum mendapatkan jawaban sama sekali. Tiba-tiba saja aku merasa khawatir. Mungkin pulang dari sini sebaiknya aku pergi ke rumah Sarah dulu.


di depan sana terlihat Dewi sedang melirikku dengan tatapan penuh kemenangan. Aku yakin kalau dia sudah tahu bahwa aku gagal ujian kemarin. Dia yang lolos SNMPTN (Ujian masuk jalur undangan) Berdiri di depan bersama dengan Alvi. Saat mereka berdua dipanggil, banyak sekali orang yang bilang "Ihhh so sweeet". Padahal, aku mendengar namanya saja mual. Meskipun kadang aku berpikir, kenapa ya aku terlahir dengan otak pas-pasan seperti ini. Harusnya, kalau aku nggak pintar, tuhan ngasih aku karunia wajah yang cantik.


        Belum selesai aku ngalamun, terdengar suara berisik dari belakang.


"Cocok banget sih Si Alvi sama Dewi. Soalnya Dewi cantik, terus Alvi ganteng. Mana sama-sama pinter lagi. Eh, btw masa ada yang bilang kalau Cantika juga suka sama Alvi. Hahaha, kok kayak nggak tahu diri ya? Udah muka jelek kayak gitu, trus bego juga. Berani-beraninya gangguin Alvi."


Jujur saja suara itu menyakiti hatiku. Kalau membunuh orang tidak dosa, mungkin dua orang tadi sudah kutinju mulutnya. Dengan perasaan dongkol, aku menatap mereka berdua. Karena sadar kalau aku menatap mereka, mereka pun memberhentikan pembicaraannya. Setelah itu, baru deh aku tinggalkan tempat itu dan beranjak menuju kamar mandi.

__ADS_1


         Di kamar mandi, ada suara lain yang juga membicarakanku. Mereka bilang, si pembawa sial di kelas  menyukai idola sekolah. Aku hanya diam saja awalnya. Tetapi, ketika mereka sudah mulai menjelek-jelekan wajahku dan menyangkutpautkan mukaku dengan mama, aku tidak bisa diam. Kugedor pintu itu, mereka setengah kaget melihatku yang sudah memasang wajah monster.


"Kenapa sih marah? Emang nyatanya lo pembawa sial di kelas kan? Udah jelek, bego lagi. Gara-gara nilai lu tuh, rata-rata kelas jadi turun. Dasar anak monyet! Pasti nyokap lo dulu kelakuannya nggak bener deh, jadi anaknya kek gini. Dih, mana namanya Cantika Ekuivalen. Nyokapnya keknya juga bego deh, muka kek gini kok diberi nama cantik Hahaha."


Aku yang sudah muak langsung menjambak rambut perempuan itu. Kuteriakkan dengan lantang bahwa mukaku ini nggak ada sangkut pautnya sama mama. Otakku ini juga nggak ada sangkut pautnya sama mama. Dia yang tidak terima dengan perlakuanku, gantian menjambak rambutku. Temannya juga ikut membantu menampar pipiku. Aku tidak mau kalah, kuinjak kaki perempuan setan ini. Bukk!! Tiba-tiba ada yang memukul kepalaku dari belakang. Seketika aku ambruk. Karena rasanya sakit sekali pukulan itu. tubuhku lemas, hingga tak sadarkan diri. Saat bangun, aku sudah berada di kursi atas panggung dengan dua perempuan setan ini lagi. Hal yang pertamakali kulihat saat aku membuka mata adalah tatapan mata dari teman-temanku.


            Mereka seolah menatapku dengan sangat menyedihkan. Bahkan ada beberapa yang melihatku jijik. Entahlah, apa yang sudah mereka lakukan saat aku tidak sadarkan diri.


"Gila, udah jelek, gatel lagi. Dasar gatau diri!" Celoteh orang-orang di sana. Aku bingung, apa yang mereka katakan.


Tiba-tiba saja, ada yang menarik tanganku dan cepat-cepat membawaku lari dari tempat itu. Orang ini mungkin berlagak sebagai pahlawan, tapi sialnya dia tidak tahu kalau aku punya darah rendah. Saat aku ditarik, seolah dunia langsung gelap dan aku jatuh tersungkur. Semua orang tertawa melihatku. Akhirnya ia menggendongku keluar dari tempat itu.

__ADS_1


Aku melihatnya samar-samar. Siapakah orang ini? Kenapa dia menolongku?


Bersambung...


__ADS_2