Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Dari Sisi Wawan


__ADS_3

Saat itu Wawan tengah bangun dari tidur siangnya. Habis nonton anime, rupanya dia ketiduran. Saat baru ngumpul nyawanya, ada suara teriakan cempreng di bibir pintu. Seorang perempuan dengan rambut kriwil dan badan gempal tengah berdiri dan berteriak kencang. Dengan setengah sadar, ia mengusap mukanya dengan tangan sembari menguap.


"Mau beli micin"


Perempuan itu menyodorkan uang 4 ribu rupiah. Kebetulan hari ini Ibunya sedang kehabisan stock bumbu dapur. Jadi dia langsung bilang kalau nggak ada. Nggak disangka kalau perempuan dengan wajah menyebalkan itu ngeyel dan ingin memastikan sendiri stock bumbu dapur. Hal ini tentu sangat merepotkan. Karena enggan mendengar suara cerewet perempuan itu, akhirnya wawan mengalah dan membiarkannya melihat sendiri.


Wajahnya kecewa. Ia langsung pergi begitu saja. Hampir setiap hari dia disuruh mamanya membeli bahan makanan dan bumbu dapur di sini. Tapi, Wawan belum pernah kenal dia. Lebih tepatnya, ia malas berkenalan dengan dia. Dari wajahnya saja sudah tidak menyenangkan. Terlebih lagi, dengan suara cempreng dan rambut kriwil menyebalkan itu. Hah, rasanya seperti menambah beban hidup saja.


Beberapa waktu setelahnya, dia dan Alvi berangkat bersama. Seperti biasa, Alvi membawa bekal untuk makan siang jadi dia harus menunggu sebentar di depan gerbang. Motor Supra model zaman dulu sudah bertengger di gerbang dan siap untuk meluncur ke sekolah.


Hari ini, sudah ada 365 cewek yang mengirim pesan ke Wawan. Bukan karena wawan laki-laki yang menyenangkan, tetapi perempuan itu hanya pura-pura ingin berteman dengan Wawan karena ingin tahu lebih dekat dengan Alvi. Sejak kecil, nasib Wawan memang seperti itu. Menjadi perantara antara perempuan di luar sana dengan sahabat karibnya. Tidak jarang, perempuan yang ia puja ternyata menyukai Alvi juga. Nasib baik Alvi bukan anak yang suka bermain perempuan. Dari kecil, Alvi seperti malas meladeni mereka. DIa terkesan dingin dan cuek. Dia juga tidak peka ketika ada perempuan yang dengan terang-terangan mendekatinya. Alvi itu orang yang beruntung tapi bodoh. Ya, kira-kira begitu menurut pandangannya.


Selama SMA, tidak ada perempuan lain yang berhasil merebut hatinya selain Dewi. Murid kelas MIPA3 yang menjadi ambassador salah satu brand make up remaja. Juga menjadi sekretaris osis, sekaligus paralel dua. Paras yang cantik dan body sumlehoy juga melekat di tubuhnya. Bagaimana mungkin seorang anak adam tidak tergoda?


Tapi sialnya, lagi-lagi Dewi suka dengan Alvi. Bahkan, kalau dilihat dari semua cewek, Dewilah yang paling terang-terangan mendekati Alvi. Kadang Wawan prihatin, karena Alvi tidak pernah sedetik pun meliriknya. Bahkan, kalau dilihat-lihat, mungkin Alvi hanya menganggap dia sebagai teman belajar kelompok. Tidak lebih.


Sedangkan Wawan, ia selalu berusaha membuat dia bahagia. Semua dilakukan. Mulai dari membuat puisi yang ditempel di mading, membuat pengumuman di siaran radio sekolah, memberi bunga saat valentine, menyanyi lagu cinta di hari ulangtahunnya, bahkan ia pernah dengan sengaja bernyanyi mengikutinya di jalanan dengan memakai baju rhoma irama yang mempesona. Dewi terlihat tersipu malu. Wawan pikir saat itu ia telah berhasil merebut hati Dewi dengan nyanyian dan kostum khas Rhoma Irama miliknya. Namun, beberapa detik setelah Dewi tersipu, sebuah sepatu melayang di kepalanya. BUKKK!!! Wawan sempoyongan. Esok harinya, ia minta Bu Nur untuk mengantar ke puskesmas karena kepalanya jadi migran.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, ia tahu kalau perempuan kriwil yang sering ke rumahnya itu menyukai Alvi. Mungkin,  ini adalah strategi yang sangat bagus untuk bisa membuat Dewi berhenti menyukai Alvi dan berpaling ke pelukannya. Akhirnya, dengan startegi yang cukup licik, Wawan berusaha untuk membantu perempuan itu untuk mendapatkan Alvi, dan dia terus berikhtiar sambil sholat hajat tiap malam agar Dewi mau menerimanya sebagai calon suami.


Beberapa bulan berlalu dan hubungan mereka tidak ada perkembangan. Sialnya, perempuan kriwil itu justru berboncengan ria bareng Alvi ke suatu tempat. Dia pikir perempuan itu bisa merebut Alvi, namun setelah ditanya, ternyata mereka hanya berangkat bimbel.


Dan hari ini adalah kelulusan. Tuhan mungkin sedang berbaik hati karena Wawan bisa masuk SNMPTN meskipun ia sering bolos sekolah. Ia masuk di jurusan Fisika murni. Sebuah kekonyolan yang fantastis. Hal ini karena ia asal klik saja saat pendaftaran. Dipikir ia tidak akan diterima, eh entah ada angin apa ia justru diterima di kampus itu. Kampus yang sama dengan Alvi.


Bu Nur tentu mengucap syukur tiada henti. Tapi wawan hanya membeku karena tekanan batin. UKT dengan golongan tinggi terpampang di akunnya. Bu Nur bilang, dia akan berusaha membiayai meskipun harus rela hutang di bank. Wawan bilang tidak usah, tapi justru pantatnya kena pukul pakai sapu.


Kali ini, ia benar-benar merasa seperti kehilangan arah. Saat perpisahan beberapa waktu lalu, entah ada angin apa Alvi bergandengan tangan dengan Dewi. Rasanya, seperti sebuah batu sebesar gajah tengah dinaikkan setinggi atap rumah, kemudian dengan sengaja dijatuhkan tepat di kepala Wawan. Sedih bukan main dibuatnya.  Ternyata bara cemburu sudah membakar jantungnya. Bukan, ini bukan gejala asam lambung. Ini benar-benar api cemburu. Dia tidak tahan lagi dan langsung menelpon Alvi.


"Masalah apa?"


"Lo pegangan tangan sama Dewi njir!!"


Alvi hanya diam.


Selang beberapa menit, ia menjawab.

__ADS_1


"Gue lagi bingung."


"Kenapa?"


"Saat itu gue ga sadar kalo tangan gue dipegang Dewi. Gue soalnya lagi kaget pas anak-anak kelas mipa5 segitunya ngebully Cantika. "


"Maksud lo?" Wawan masih tidak mengerti.


"Iya, gue kasihan, tapi gue bingung harus gimana. Untung ada orang yang ngajak dia kabur kemarin."


"Jadi lo ga jadian sama Dewi?" Wawan memastikan lagi.


"Kaga lah. Ngapain juga."


"ALHAMDULILLAAAH." Wawan bergedup kencang. Kini dia bisa bernafas dengan lega dan tidur dengan nyanyak lagi.


Bagi Wawan, Dewi adalah segalanya. Segala yang tidak pernah bisa tergantikan oleh apapun. Meski dia tahu, kalau Dewi mencintai sahabatnya sendiri, dia tidak juga berputus asa. Dia tetap istiqomah melanjutkan sholat hajat, ditambah sholat dhuha, ditambah dengan dzikir serta sholawat nabi. Supaya Allah membukakan pintu hati Dewi, dan mau diajak menikah muda seperti para selebgram di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2