
Hari ini aku ngantuk banget. Seharian yang kulakukan hanya mendengarkan lagu sedih dan lagu rohani. Sengaja
aku meminimalisir mendengarkan lagu rock dan dangdut koplo, supaya apa? Supaya hatiku lebih bersih aja. Hah! Padahal nggak ada sangkut pautnya sih. Mama setiap hari membuat kue, tugasku hanya membeli bahan-bahan kue di tempat Bu Nur. Mungkin mama tertarik ingin buat bisnis kue, aku sih mendukung saja asalkan mama masih mampu.
Aku keluar kamar dan mengambil air mineral di kulkas. Mama masih sibuk dengan mixernya. Karena bosan di kamar, aku menghampiri mama.
“Buat kue sebanyak ini buat apa sih Ma?”
Mama menoleh, kemudian Kembali fokus ke adonannya.
“Buat tamu.”
“Hah, siapa?”
“Nanti malem kamu juga tau Can.”
Aku hanya mengangguk, tidak peduli.
“Perasaan kemarin pakai baju itu? Kok bajunya ga ganti? Dua hari ga mandi Can?”
Aku menatap bajuku.
“Kenapa lo? Kan ga kemana-mana.”
“Ya mandi dong… Kamu kan udah dewasa, bentar lagi kuliah. Masa anak perawan nggak bisa ngrawat tubuh.”
“Ih, kuliah juga masih lama.”
“Iya, kan bisa disiapin dari sekarang”
Aku mendengus pelan, mengambil handuk dan melangkah menuju pintu kamar mandi. Dari kamar mandi, terdengar mama sedang menelpon seseorang. Aku mengangkat bahu dan tidak peduli dengan urusan orangtua.
“Nanti pakai baju yang cantik ya Can.”
Aku menatap mama heran. Mama aneh sekali semenjak kedatangan mixer itu. Aku jadi overthingking, jangan jangan mama sudah punya pacar? Mixer itu dari temennya mama kan? Jangan-jangan mama ingin menikah lagi? Aku langsung menggelengkan kepala. Tidak, semoga saja belum. Aku belum siap punya bapak baru, maksudku aku masih belum bisa menerima oranglain di keluarga ini. Cukup Candra saja yang menyebalkan, jangan tambah
personil lagi.
__ADS_1
Tepat jam 8 malam, pintu rumah diketuk. Terdengar suara laki-laki dewasa mengucapkan salam. Aku langsung menatap pintu dengan waspada.
“Buka pintunya Can”
“Siapa sih Ma?”
“Buka aja”
Mama masih membereskan dapur, dan Candra sedang asyik bermain game online. Aku bergegas menuju sumber suara.
“Assalamualaikum”
Suara itu semakin jelas terdengar, dengan hati-hati kubuka pintu rumah. Sangat penasaran siapa pacar mama
sebenarnya. Saat kubuka, sesososk laki-laki memakai jeans hitam dan jaket hijau mencolok berdiri tegap di depanku.
“Atas nama mbak Cantika?”
Aku melongo. Bapak ojol sudah tersenyum lebar sambal menyerahkan sebungkus makanan.
“Martabaknya ini ya mbak.. terima kasih”
Aku masih terpaku di depan pintu. Oh, jadi bukan pacar mama yang dating, huft syukurlah.
“Caan!! Bawa sini!”
Aku berbalik dan menyerahkan martabak itu ke meja makan.
“Mama pesen makanan banyak banget buat siapa sih?”
“Adadeh, lihat aja bentar lagi.”
Benar saja, beberapa menit kemudian pintu diketuk oleh seseorang. Aku bergegas membuka pintu. Sesosok ibu dengan jilbab segiempat lebar melihatku dengan gigi putih yang terpancar. Di belakangnya, ada laki-laki dengan kuping seperti centelan wajan juga nyengir ke arahku. Hah, Bu Nur mau ngapain?
“Eh Bu Nur.. Silahkan masuk Bu”
Mama mempersilahkan Bu Nur dan cecurut ini masuk ke rumah. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam masuk ke
__ADS_1
halaman rumah. Seseorang dengan sepatu convers keluar dari mobil itu, diikuti seorang wanita berumur 40 tahunan dengan tas branded di tangannya.
“Halo, Can”
Senyum itu membuatku membisu sesaat, A-Alvi!!! Alvi datang ke rumah!! Astaga mimpi apa aku hari ini!!
“Eh, hai vi.”
“S-silahkan masuk tante..silahkan masuk Vi” Dengan kikuk aku ikut masuk ke ruang tamu bersama mereka.
Aku kikuk memandang ke empat tamu yang dating. Mereka justru menatapku dengan wajah riang gembira. Belum sampai aku bingung dengan situasi ini, segerombolan ibu-ibu dan anaknya sudah masuk memenuhi ruang tamu.
“Ini acara apa sih Ma?”
“Ini ulangtahunmu Can”
Aku langsung melotot.
“Heh!! Ultahku masih dua bulan lagiiiii Maaa!!”
“Hah? Lha ini ultah siapa kalau gitu?” Mama melihatku panik.
“Nggak taulah, kan mama yang buat acara.”
“Enggak kok, seingatku kamu ultah hari ini”
Mama masih ngeyel dengan argumennya. Semua tamu jadi bingung.
“Bukan Ma.. aku dua bulan lagi.”
Mama diam sejenak, tak lama kemudian beranjak dan memanggil Candra yang sedang asyik bermain game online.
“Ternyata ultahnya Candra, hahaha”
Mama melepas tawa bahagia. Anehnya, ibu-ibu di sana juga tertawa melihat ulah mama. Aku hanya menatap wawan dan Alvi dengan sedikit malu. Mereka justru ikut tertawa. Malamnya, mama meminta do’a supaya aku juga bisa masuk ke universitas dengan mudah dan menjadi perempuan yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Aku hanya berdo’a semoga mama bahagia dan Alvi berjodoh denganku. Malam itu, Alvi bilang kalau tiga hari lagi pengumuman SBMPTN. Aku hanya mengangguk dan berterima kasih. Sedangkan Wawan bilang kalau kue buatan mamaku enak. Bahkan wawan aku suruh bawa pulang kue-kue lain yang dia suka, rumahku penuh dengan kue
eksperimen mama, jadi aku harus membaginya ke orang-orang. Ternyata benar dugaanku, sebentar lagi mama membuka toko kue di dekat Pasar Senen. Namanya “Aljabar Bakery” sungguh toko kue yang tidak menarik sama sekali.
__ADS_1