
Pukul sepuluh malam. Aku duduk di depan cermin sambil joget-joget tiktok dengan musik manual dari mulut. Meskipun kemarin aku gagal jadi juara ujian, aku tetap sayang dengan diriku sendiri. Bahkan gara-gara mama tau kalau aku gagal, mama mulai panik dan menyuruhku untuk ikut bimbel. Aku terkejut, akhirnya mama tau apa yang kuinginkan selama ini. Mama bilang, kemarin pas arisan, ada temannya cerita kalau anaknya juara tryout karena bimbel di situ. Karena malu dengan akhlakku yang kayak gini, mama jadi tertarik buat ikut bimbel di situ juga. Katanya, besok aku disuruh bareng berangkatnya karena memang aku belum tau tempat bimbelnya dimana.
Aku memegang erat-erat buku Bank Soal UTBK Soshum 100% tembus PTN Favorit. Siapa tau dengan aku bimbel di situ, aku bisa dapat kampus yang bagus, bisa kuliah sambil magang, terus punya karir yang keren, dan punya dana buat glow up. Ya seenggaknya aku nanti bisa beli perlengkapan skincare sama make up yang bagus, terus bisa pakai make up ala-ala. Whuaa bahagia membayangkan semua itu.
“Can, kamu udah punya nomor anaknya Bu Santi belum?”
“Belum Maa”
“Tak kirim ke Whatsapp ya”
“Oke”
“Kluntingg!!”
Notifikasi pesan dari mama muncul. Jantungku berdetak dengan kencang seperti sedang Ujian Nasional. Allah, apakah benar kita berjodoh?? Nomor itu tertulis dengan nama kontak Alvian. Foto profil dengan senyuman manis yang nggak pernah kulihat selama hidupku. Aku benar-benar ingin koprol sambil bilang Waw!!!
“Ini bener nomornya Ma?” Tanyaku memastikan.
“Iyaaa” Mama terdengar sedang sibuk.
“YESSSSSS!!!!!!! YIIHAAAAAA!!!”
Rasanya aku ingin segera tidur dan berganti hari esok. Benar-benar keberuntungan kali ini. Eh, apa sebaiknya aku ngechat dulu sambil memperkenalkan diri? Whuaaa!!! Bingung!! Eh, nggak deh. Harusnya aku sok-sokan cuek gitu kan ya? Emm jangan, kalo sok-sokan cuek nanti dia malah ngiranya aku nggak suka sama dia.
__ADS_1
Eh, gimana nih?Aku ngechat aja basa-basi kalik? Dih, gimana ya tapi? Eh, apa aku latian dandan aja buat besok? Oiya mending milih baju.
Aku berlari menuju lemari, membuka dan memilih pakaian yang ingin kukenakan besok pagi. Tidak ada yang cocok ternyata. Aku berusaha menjodohkan dengn berbagai macam style. Tapi tetap nggak ada yang cocok. Aku bingung. Bagaimana ini? Aku terus memilah baju dan mengeluarkan semua baju yang sekiranya mendingan buat kupakai.
“Anjir kenapa banyakan kaos oblong sama kolor sih” Aku menggerutu.
Setelah dua jam bingung soal baju, aku memutuskan untuk
memakai baju muslim. Terlihat sopan dan agamis. T-tapi kayak mau takjiyah.
Akhirnya aku ganti lagi. Emmm apa pakai kaos? Eh emang bimbel boleh nggak sih
pakai kaos? Ih bingung nggak pernah bimbel. Pakai kemeja aja kalik ya? Tapi
Setelah berpikir dengan lama, akhirnya aku menemukan satu pasang outfit berwarna pink dusty yang mendingan dibandingkan dengan baju-baju lain. Sekarang yang jadi masalah adalah rambut ikalku yang kayak tarzan. Aku bingung lagi mau menata rambut kayak gimana. Ketika kuikat rambut, kepalaku jadi kayak pentol korek api. Kalau
kuurai, jadi kayak kunti. Namun, kali ini aku punya ide, aha! Aku pakai jilbab aja besok. Akhirnya aku mencari jilbab segi empat yang diberikan temannya mama dulu waktu aku ulang tahun. Yes!! Akhirnya bisa tidur dengan tenang.
Aku benar-benar tidak sabar menantikan hari besok. Sampai tanpa sadar, aku masih terjaga sampai tengah
malam. Alhasil, saat subuh aku susah dibangunin dan sehabis sholat ketiduran sampai pagi. Jadi, ketika Alvi sudah sampai di depan rumah, aku belum mandi dan mama memarahiku.
Kali ini aku benar-benar panik. Padahal, aku jarang pakai jilbab segi empat sebelumnya. Tetapi biarlah,
__ADS_1
daripada Alvi nunggu lama. Aku cepat-cepat memakai sepatu dan pamitan. Di depan gerbang, Alvi sudah menunggu. Dia kaget ketika melihat mukaku.
“Heh, Alvi” Kataku nyengir. Dia masih melihatku kaget.
“K-kenapa Vi? Kaget ya kalo kita ketemu lagi.” Tanyaku
“Ng-nggak. Ini, lipstikmu sampek hidung. Kukira tadi kamu luka.”
Aku terkejut lalu ngaca di spion. Anjir, lipstikku kemana-mana. Mana gigiku juga jadi merah lagi. Ih malu banget!!
“Oh, hehe. Iya tadi cepet-cepet soalnya. “
Dia menyuruhku untuk duduk di jok belakang.
“Nggak bawa helm nggakpapa kan?” Tanyaku.
“Nggakpapa, deket kok.”
“Oke”
Kita pun berangkat. Hatiku dipenuhi dengan rasa nano-nano. Ada senengnya, ada malunya, ada gugup, pengen meninggoy, ih banyak deh.
Ternyata tempat bimbel nggak terlalu jauh. Sampai di sana, aku langsung mendaftar dan ikut bimbelku yang pertama. Aku masuk kelas dengan senyuman, di dalam kelas penuh tekanan, dan keluar kelas dengan perasaan ingin pingsan. Ternyata bimbel juga sama menyebalkan kayak sekolah biasa. Heuuu!! Apalagi, aku juga nggak sekelas sama Alvi. Soalnya dia saintek, terus aku soshum.
__ADS_1
Pulang bimbel, Alvi bilang ditelpon ibunya suruh cepat pulang. Jadi dia ngebut dan aku bingung mau gimana. Angin bertiup kencang sekali, sampai jarum pentul yang ada di leherku terlepas dan jilbabku terbang begitu saja. Aku terkejut dan bingung karena motor melaju dengan sangat kencang. Hingga ketika sampai rumah, Alvi kaget melihatku yang tiba-tiba saja nggak pakai jilbab. Aku hanya menatapnya setengah malu setengah ingin lenyap dari bumi. Tanpa sepatah kata pun, aku lari ke dalam rumah dan meninggalkan Alvi dengan segala kebingungannya. AAAAAH!! aku benci hari ini.