Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Namanya Alvi


__ADS_3

            Jadwal les tambahan bagi siswa kelas 12 sudah diumumkan. Aku masuk ke kelas biologi, tentu saja. Meskipun aku juga nggak paham biologi, setidaknya lebih mendinglah daripada kimia atau fisika. Ruangan itu diisi oleh anak-anak Mipa yang berkebutuhan khusus seperti aku haha. Maksudku, kelasnya berisik banget astaga. Anaknya nggak ada yang punya semangat buat belajar. Aku yang tadi awalnya agak punya niatan mau belajar jadi males. Terlebih cuaca hari ini yang panasnya kayak simulasi padang mahsyar. Sungguh keadaan yang sukses membuat aliran darah ke otak tersumbat. Aku menggelengkan kepala karena pegal, saat itu aku baru menyadari kalau.. kalau.... kalau ANAKNYA IBU WARUNG GANG SEBELAH SATU KELAS SAMA AKU!!!


            Laki-laki yang berada di pojok kanan depan itu ternyata namanya Alvi. Aku tahu karena pak guru memanggil namanya saat mau mengerjakan di depan. Dan, wah, genius sekali. Ternyata dunia nggak sejahat bayanganku sebelumnya. Ada Alvi yang seolah menjadi semilir angin kehidupan di rongga otakku saat ini. Aku membetulkan kacamata dan mulai fokus mendengarkan Pak Guru di depan, sesekali sambil melihat Alvi. Kemudian tersenyum senang. Kemudian melihat Pak Guru lagi. Kemudian melirik Alvi. Tanpa kusadari, Pak guru melihat tingkah anehku.


“Cantika? Makhluk hidup apa yang berhasil berkembangbiak tanpa proses meiosis Nak?”


“Hah! Alvi Pak” Jawabku spontan setengah kaget.


Anjir salah ngomong!!!!!


Aku langsung menutup mukaku.


“Ciyeeee..Hahahahahaaa” suara gemuruh anak-anak membuatku ingin mengganti kepalaku dengan tomat.


                                                                          *** 


            Sepulang sekolah\, aku menggigit pisang sambil melongo menatap pintu kamar mandi. Barusan\, aku habis selesai stalking nama Alvi di semua sosial media. Heran\, kok nggak ada yang mukanya mirip dia ya? Apa orang itu nggak punya instagram? Tapi nggak mungkin banget dia nggak main sosial media. Aku memutar otak berkali-kali. Oh iya\, kenapa aku nggak nyari di official akun sekolah ya\, hahai. Tanganku langsung lincah mengetik username sekolahku di pencarian instagram. Aku langsung mencari nama Alvi di deretan ribu follower itu. @Alvhie @Alfi @Aalvi___ @Alvii @Aalvi_ketche _ @Aelvhie @Alvi_saputra @Alvi123456 ada delapan nama Alvi di follower itu\, tetapi isinya bukan punya Alvi juga. Aaaahhhh!!! Pusing banget nyari instagram dia. Akhirnya aku memutuskan untuk makan jeruk dulu.


“Beliin merica di Bu Nur Can!” Suara mama merusak moodku.


“Suruh Candra aja Ma!!” Balasku.


“Bandel banget disuruh beli merica doang!”


“Ih, males banget aku tu”


“Males terus kapan pinternya!”


“Ya kenapa Mama ga nyuruh si candra tuh!”


“Adekmu lagi sakit perutnya”


“Dih alesan!”


“CAAAAANNNNN!!” Teriak mama sambil membawa spatula di


tangannya, bersiap memukulku.

__ADS_1


“IYAAAAAA”


            Dengan rasa malas sebesar gunung, aku melangkah keluar. Kebetulan kali ini aku memakai kolor bermotif macan dengan gambar kepala upin ipin di pantat kanan dan kiri. Entahlah mama dapat celana ini darimana, karena bahannya adem jadi aku pakai aja. Sebelum keluar, aku mencari ikat rambutku, rasanya rambutku ikalku sedang tidak bisa bersahabat. Yah, udah nggak bisa diatur karena aku lagi malas keramas tiga hari ini. Jadi aku harus menguncir supaya tidak menjulang tinggi ke angkasa, hahaha.


“Ma, kuncir rambut item kemana?”


“Mejaaa”


“Nggak adaa”


“Ada kok”


“Nggaaaak Maa”


“OOH, mama lupa tadi ikut kebuang keknya.”


Aku menghembuskan nafas kecewa.


“Ih gimana orang mau dipakek.”


Dengan cemberut akhirnya aku berangkat juga.


“Bu Nuur, Assalamualaikum!!”


Hening.


Dih kebiasaan banget, Bu Nur nggak pernah denger kalo dipanggil.


“Bu Nuuur Assalamualaikum!!!”


Tidak ada jawaban, hanya suara TV yang terdengar sedang menyala. Aku tebak, Bu Nur lagi nonton konser dangdut dan ketiduran.


Karena kesal, aku siap-siap tenaga untuk teriak sekencang-kencangnya.


“SEMLEKOOOOOOMMM BU NOOOOOOOOOOOOORRRRRR BELIIIIIIIIIIII”


Masih tetap hening.

__ADS_1


“Orangnya nggak ada ya?”


“Ya kalo ada, dari tadi gue udah beli merica nyet!!” Jawabku sewot.


Eh anjir, siapa yang ngomong barusan!!


Aku langsung menoleh ke belakang. Dan.. sesosok orang di belakang itu yang bikin aku mau pingsan setengah hidup. Laki-laki dengan wajah simetris, badan proporsional, mata teduh, kulit putih, rambut bagus, ya manusia itu yang di belakangku dan baru beberapa detik lalu aku panggil dengan sebutan... nyet. Mampus gue.


“Eh, hehe.. Alvi. K.. kkkirain siapa tadi, hehe”


Ya tuhan rasanya pengen jadi komodo.


“Lo kenal gue?” Jawabnya dingin. Matanya melihat dari


ujung rambut sampai ujung kakiku. Sedikit mengernyit ketika sampai pada bagian kolor macan.


“Kan kita sekelas pas les tambahan, ehehe.”


Aku menggaruk kepala yang tiba-tiba gatal.


“Oh”


Laki-laki itu kemudian memalingkan badan sambil membawa tabung LPG di tangannya. Aku? Aku masih saja terpaku dengan celana kolorku. Heh!! Apa! Anjir aku pakek celana kolor macan X Upin ipin pas ketemu Alvi.


AAAAHHHH MALU BANGETTT!!!! Aku langsung lari terbirit-birit pulang.


 DUAAARRRRR!!!!


“MAAAAAAA AKU GAMAU PAKEK CELANA KOLOR INI SELAMANYA!!!”


“MASUK RUMAH SALAM DULU!”


“ASTAGFIRULLAHALADZIM WARAHMATULLAH WABAROKATUH!” Ujarku


"HEH!! Dasar bocah!! Salam macam apa ituuuu!!"


 Mama hanya mengelus dada sambil istigfar dan sholawat nabi. Besoknya, mama menyuruhku ikut ruqyah massal di lapangan alun-alun. Aku malah sengaja breakdance di depan pintu dapur sambil mempraktekkan tutorial ngepet. Mama benar-benar menjewer telingaku sampai sakit sekali. Adikku hanya melihat kami berdua sambil makan roti dan selai kacang. Hmm, sungguh keluarga yang sakinah.

__ADS_1


__ADS_2