Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Mozaik kasih sayang


__ADS_3

Rupanya aku sudah melarikan diri cukup jauh. Kutepuk punggung orang yang menggendongku seperti kucing kelindes truk, siapa dia berani-beraninya membawaku dan memperlakukanku seolah-olah punya hak menyentuh tubuhku. Sebentar, sepertinya aku mengenal postur tubuh ini. Aku langsung mengernyitkan dahi dan menabok kepala laki-laki tersebut.


"Duh!! Sakit tau!!"


Benar saja suara khas itu muncul dari laki-laki sialan ini. Tidak salah lagi.


"Woy!! Can!! Kenapa ngikutin gue sih!!"


Candra hanya diam. Seperti biasa dia hanya cuek. Meskipun dia adikku, tubuhnya memang lebih tinggi daripada aku. Dadanya bidang dan postur tubuhnya seperti sudah dewasa. Tetapi tetap saja, Candra adalah adik paling menyebalkan di muka bumi.


"Disuruh Mama"


Ia hanya melongos sambil berjalan menjauhiku. Aku semakin curiga dengan bocah tengil ini.


"Bukannya udah bilang kalau ada acara bareng temen ya?"


"Acara apa sih kak? Acara kayak gitu mending gausah dateng! Apa lo nggak sakit hati dipermalukan kek tadi?"


Nada suaranya lebih tinggi. Seumur-umur baru kali ini Candra mengucap kalimat lebih dari 3 kata dalam satu helaan nafas.

__ADS_1


Adikku ini, meskipun dia terlihat tidak peduli denganku, dia seringkali mendengarkan apa yang aku katakan dengan baik. Bahkan sebagai adik, kadang aku berpikir kalau dia jauh lebih dewasa daripada aku. Sebagai kakak, aku kadang ingin memberi contoh yang baik, tetapi bumi berputar sangat kencang di sekitarku hingga membuatku pusing sendiri. Jadi, aku hanya hidup sebagai perempuan seperti ini.


"Yaudah yuk balik."


Dia tidak menanggapi, tapi terus berjalan di depanku. Aku yang masih pusing beberapa kali jalan sempoyongan. Aku tahu kalau yang dilakukan temanku tadi sudah keterlaluan. Pembullyan dengan kekerasan fisik. Kalau aku anaknya konglomerat, pasti sudah kulaporkan ke Komisi Perlindungan Anak. Tapi sudahlah, toh ini pertemuan terakhir aku dengan mereka. Peduli setan aku dengan perasaanku ke Alvi. Bukannya dia juga diam saja saat aku dianiaya tadi? Cih!! Dasar laki-laki jahat!!


Sampai rumah, mama berdiri di depan pintu. Aku bingung kenapa tumben mama menungguku pulang, biasanya juga bodoamat.


"Kamu gapapa kan sayang?"


Tangan mama langsung menarik tubuhku. Dia memelukku erat sekali. Aku masih bingung. Apa mama tahu kejadian tadi ya? Tapi bagaimana mama bisa tahu?


"Gapapa kok Ma"


"Ada apa sih Ma?"


Dia mengusap air matanya. Kemudian menyuruhku masuk rumah terlebih dahulu. Aku duduk di sofa dan mengambil air minum di atas meja. Beberapa teguk sudah membuatku merasa lebih baik.


Mama memberiku sebuah video. Video yang dikirim oleh anaknya Bu Nur. Itu semua video atas pembullyanku tadi. Terlihat jelas sekali. Anjir, sempet-sempetnya si Cantelan wajan itu memvideo! Kenapa ga nolongin gue!!

__ADS_1


"Anaknya Bu Nur Sakit mencret jadi gabisa dateng perpisahan. Trus tadi dia dikirimi video itu sama temennya. Akhirnya, dia ngehubungin mama, jadi mama nyuruh adekmu jemput kamu saat itu juga."


Aku hanya diam. Ternyata Si Wawan. Kenapa dia sepeduli itu sama aku ya?


"Makasih ya Ma"


"Buat apa?"


"Udah khawatir."


Mama menghela nafas panjang.


"Meskipun kamu sering bandel, dan mama sering marah-marah, bukan berarti mama nggak sayang sama kamu."


Aku hanya diam.


Hari ini, aku sadar bahwa aku nggak sebeban yang aku kira. Buktinya, mama dan Candra masih nganggep aku manusia. Ternyata ada banyak yang masih sayang sama aku.


Tiba-tiba saja aku kipikiran dengan Sarah. Kenapa ya dia tidak datang malam ini? Andai ada dia, pasti di acara tadi aku ada yang membela. Apa dia juga sakit mencret?

__ADS_1


Mungkin besok pagi-pagi aku harus mengunjunginya. Malam ini, aku menyetel lagu dangdut koplo dengan kencang. Sesekali aku ikut bersenandung keras di depan cermin. Ini merupakan bentuk perayaan dari patah hatiku malam ini. Kau tahu kenapa? Ya. Divideo tadi, terlihat Alvi tidak berkutik sedikitpun saat melihatku dibully di atas panggung. Aku melihat sendiri, pegangan tangan itu. Pegangan tangan yang erat antara Alvi dan Dewi. Mungkin mereka sudah jadian malam itu. Tepat saat aku masih diseret seperti tikus got di panggung, saat tidak ada yang berani menolongku karena dua perempuan penyihir itu memang terkenal tukang bully di kelas. Atau barangkali, mereka memang tidak ada yang ingin menolongku. Entahlah, rasanya kepalaku pusing sekali, biasanya kalau sakit hati begini, mama menyuruhku untuk kerokan. Biarlah, dipikir besok lagi saja. Barangkali, besok aku kan bertemu dengan Sarah lagi.


Bersambung.....


__ADS_2