
Hari Senin yang membingungkan. Pasalnya, Bu Sumpah bilang kalau minggu ini sudah tidak ada jadwal belajar di sekolah. Tetapi, teman-teman kelas justru ingin membuat jadwal sendiri, belajar bareng katanya. Sejujurnya aku sangat malas pergi ke sekolah. Karena sering sekali aku dan Sarah tidak punya teman kelompok. Mungkin mereka butuh teman yang sama-sama cerdas untuk bertukar pikiran. Sedangkan kalau belajar denganku, yang ada mereka hanya naik pitam dan nambah beban hidup. Mereka harus menjelaskan berulangkali baru aku paham, selepas aku paham pun, aku sering lupa jika ditanya lagi beberapa menit setelahnya. Jadi, atas dasar itu aku memilih belajar di rumah.
Mama menyuruhku mandi dulu, tapi aku malas. Sampai pada akhirnya, mama membawa sapu ke kamar dengan mata melotot. Aku bergegas mengambil handuk dan lari ke kamar mandi seperti tikus dikejar ular. Di kamar mandi, aku masih melamun lagi memikirkan UTBK tiga hari lagi. Aku benar-benar takut.
Karena suara hening di kamar mandi, mama kembali berteriak untuk cepat-cepat menyiramkan air ke badan. Aku langsung menghidupkan shower dan membasuh semua badanku.
“Beliin gula di Bu Nur Can”
Mama memberi uang dua puluh ribuan.
“Sisanya beliin merica yang seribuan itu ya!”
Aku mengambil uang itu dan berlalu menutup pagar rumah.
Ternyata sebentar lagi aku sudah bukan anak SMA lagi. Huft, membayangkan itu rasanya semakin membuatku takut bertindak. Pasalnya, aku merasa tidak memiliki skill apapun. Aku juga lemah di akademik. Mungkin memang sebagian orang diciptakan untuk menjadi biasa saja. Tetapi, kalau begini terus, bagaimana cara supaya aku bisa bahagiain mama? Kalau adik, pasti dia sudah tahu harus gimana. Dia anak yang cerdas dan
ambisius. Tidak sepertiku. Bagaimana kalau nanti aku hanya menjadi beban keluarga selamanya? Apa ada yang mau nikah denganku? Dengan orang biasa, tampang biasa, kemampuan biasa saja, dan hidup yang kayak gini aja?
Jelas kalau aku mungkin bukan tokoh utama di cerita menyebalkan ini. Maksudku, bukankah seorang tokoh utama harusnya yang punya keahlian menonjol? Anak orang kaya? Cantik? Pintar? Direbutkan oleh banyak cowok? Sedangkan aku? Kerjaan sehari-hari hanya berantem sama mama dan membeli bumbu dapur di Bu Nur.
Selepas beli gula, aku langsung pulang ke rumah. Dengan raut muka yang bingung, aku mengunci diri di kamar. Lampu kamar kumatikan, tinggal lampu tidur yang menyala. Aku sengaja memutar lagu sedih untuk menambah sensasi dramatis dari hidup yang kualami. Namun, bukannya menjadi dramatis, aku justru mengantuk dan ketiduran. Akhirnya, aku bangun dan keluar kamar melihat pemandangan seperti biasa. Candra yang membawa piala, mama yang sudah hafal dengan pencapaian anak laki-lakinya, kue bolu di atas meja, susu coklat, dan aku yang beban keluarga. Aku jadi teringat dengan kata-kata Dewi. Ternyata Dewi benar. Aku memang perempuan yang menyedihkan. Hatiku terasa sakit saat memikirkan hal itu, tetapi itu memang fakta yang sebenarnya. Langkah kakiku akhirnya membawaku masuk lagi ke kamar. Aku lalu mulai membuka laptop dan mencari materi-materi ujian masuk kampus. Tanganku bergetar, belum pernah aku merasa bersemangat seperti kali ini.
Semenjak hari itu, aku mulai berusaha untuk menjadi perempuan yang serius belajar. Aku selalu menghubungi Alvi jika ada soal yang tidak kubisa. Aku juga sering bertanya kepada mentor bimbelku. Berjam-jam kuhabiskan dengan mengerjakan soal latihan di kamar. Mama yang tidak pernah melihatku belajar se-ambisius ini, terlihat sangat bahagia dengan kebiasaan baruku. Ia bahkan berjanji untuk mengajakku ke perawatan wajah kalau aku bisa lolos ujian masuk kampus ini. Aku dengan dukungan yang mama berikan, semakin termotivasi untuk membuktikan bahwa aku nggak sebego yang mereka kira. Malam itu, aku belajar hingga larut malam. tidak terasa ada darah yang menetes di buku latihan soalku. Saat itu, aku baru sadar kalau aku sudah melampaui batas. Akhirnya aku beristirahat dan melanjutkan belajar esok harinya. Aku belajar diam-diam. Bahkan Sarah pun tidak tahu kalau aku segiat ini. Aku juga berusaha maklum kalau teman sekelasku tidak mau sekelompok denganku.
“Nanti UTBK nya minta dianter apa berangkat sendiri Can?”
Mama masih menata meja makan.
“Berangkat sendiri Ma”
__ADS_1
“Kenapa nggak bareng sama anaknya Bu Nur?”
“Mager ah”
“Lagi berantem ya?”
Mama melihat ke arahku.
“Nggak, pengen sendiri aja sih.”
Aku mengambil secentong nasi, tak peduli dengan pertanyaan mama.
“Kalo dalam hubungan tuh, berantem ya wajarlah. Yang penting jangan sampe putus.” Mama meledekku.
“IH APA SIH MA!!!”
Aku bersungut-sungut menyendok makanan, sedangkan mama tertawa kecil sambal mengelus kepala Candra yang sibuk dengan kue bolunya.
“Heh!! Katanya mau berangkat jam 7? Ini udah jam berapa Can!!! Bangun!!”
Aku mengucek kedua mataku. Samar-samar terlihat wanita 40 tahun sedang berkacak pinggang di depanku. Aku
mendengus pelan.
“Oh, nggak mau UTBK?”
Aku serentak melihat jam dinding. Sial. Hari ini UTBK pertama. Hah!! Kenapa aku semalem begadang sih!!! Tanpa
aba-aba, aku langsung berlari menuju kamar mandi. Tidak ada lima menit, aku sudah keluar dengan handuk putihku. Sejujurnya aku panik, Cuma aku sadar kalau panik justru bikin aku tampah pusing. Jadi, aku berusaha menahan diri untuk baik-baik saja.
__ADS_1
Di ruang UTBK, aku memegang erat kartu pesertaku. Pengawas mulai memeriksa
kelengkapanku. Nasip baik, mama membantuku menyiapkan semuanya. Aku diperbolehkan masuk dan duduk di urutan nomor 15. Kulihat komputer besar dengan layer monitor segede televisi seolah menatapku galak. Aku ngeri dibuatnya. Oiya, semalam aku berdo’a kepada tuhan supaya aku dihilangkan dari serangan panik yang menyebabkan aku sakit perut hebat. Aku benar-benar tamat kalau sampai sakit perut. Berkali-kali aku memastikan diriku sendiri, self love, belajar meski ngantuk banget, dan ikut bimbel. Menurutku itu sudah cukup menjadi penangkal kepanikan.
Jam berdetak lebih keras. Aku menatap sekeliling, semua anak seolah sedang menahan beban berat di pundak masing-masing. Aku menelan ludah dan melihat kearah monitor lagi. Waktu pun dimulai. Udara dingin mulai mencekam diujung jari kakiku. Dingin itu juga menyerang kedua tanganku. Kepalaku seolah terbakar dan sesuatu seperti monster ingin memberontak keluar dari perutku. Aku Menghela nafas Panjang. “Bismillah, nggakpapa Can, nggak harus jadi kayak oranglain. Nggak harus sesuai ekspektasi. Kerjain aja. Demi Mama.”
Udara dingin masih menggerogoti jari kakiku, tetapi setidaknya monster di perut mulai melunak. Kepalaku juga agak ringan. Aku tersenyum dan mulai membaca soal di monitor. Menjawab satu persatu dengan kemampuan yang kubisa. Entah kenapa, sepanjang mengerjakan soal, aku terus menerus teringat sama Mama. Sampai akhirnya aku bertemu dengan soal matematika dasar. Monster di tubuhku mulai memberontak hebat lagi. Aku memegangi perutku sambil meringis kesakitan. Tapi, aku tidak menyerah untuk terus mencoba mengerjakan soal yang kubisa dan meninggalkan dulu soal yang menurutku susah.
Satu jam telah berlalu, waktu masih banyak untukku mengulangi lagi soal yang kukerjakan sebelumnya. Kulihat beberapa nomor masih berwarna merah, berarti aku masih belum menjawab soal tersebut. Kubaca soal itu berulangkali, kucoba mencoret-coret di kertas. Sampai banyak sekali coretan di lembar itu, dan ketemu! Hasilnya -25. Aku buru-buru melihat monitor dan… tidak ada angka -25 di pilihan jawabannya. Aku mengernyitkan dahi, kok bisa? Aku salah ngitung yang mana sih?
Kuulangi lagi, kali ini aku sangat berhati-hati menghitungnya. Kepalaku mulai sakit tetapi aku masih penasaran dengan jawabannya. Aku terlalu asyik di satu nomor tersebut, hingga aku lupa kalau waktu sudah habis. Aku menghentikan coretanku, kemudian menghela napas panjang. Sengaja aku membawa tumbler minum, beberapa teguk air menyelamatkanku kali ini. Yasudahlah, waktu sudah habis.
Belum selesai disitu, masih ada tes yang satunya lagi. Kali ini tentang soshum. Aku bersiap untuk mengerjakannya lagi.
“Ssst, santailah mbak. Tegang amat.”
Aku menoleh ke samping kiri. Laki-laki dengan rambut kribo sedang nyengir ke arahku. Aku balas tersenyum. Enggan terlalu menanggapi.
Sesi kedua sudah dimulai, aku langsung membuka soal tersebut. Kubaca satu persatu, kujawab yang sekiranya aku bisa. Kalau aku nggak bisa, aku memilih untuk mengikuti kata hati. Yah, siapa tahu
tuhan mengasihani aku. Waktu berakhir, dan aku langsung keluar dari ruangan. Kali ini, aku UTBK di kampus dekat rumah. Kampus ini salah satu kampus favorit di Indonesia. Ingin sebenarnya bisa kuliah di sini, biar dekat sama mama. Biar punya teman banyak, dan nggak ngekost.
Aku berlalu menuju parkiran, langsung kupesan ojol dan pulang ke rumah. Udara siang
itu panas sekali. Aku lupa nggak pakai sunscreen, jadi rasanya ada yang lagi
manggang daging di mukaku, alias puanas bangettt!!!
“Panas banget Pak, bisa lebih cepet nggak?”
__ADS_1
“Yaelah mbak, kan kaca helmnya bisa ditutup.”
Oh iya juga ya, kenapa bego banget sampai nggak kepikiran.