Cantik Itu Aku

Cantik Itu Aku
Matematika yang Menyebalkan!


__ADS_3

Pukul lima pagi. Aku merapikan buku paket, buku tulis, buku tebal berjudul bank soal SBM soshum 100% Tembus PTN, dan alat tulis lainnya ke dalam tas. Beberapa bulan lagi sudah memasuki pendaftaran SNMPTN. Aku yang selalu berada di peringkat paralel bawah tentu tak punya harapan buat itu. Jadi, dengan uang yang kusimpan di celengan babi yang kubeli di Pasar Pon, aku bisa beli buku bank soal buat persiapan masuk kampus lewat jalur tes.


Tidak ada kegiatan lain selain belajar dan les tambahan. Benar-benar membosankan sekali hidup seperti ini. Di sekolah, aku masuk jurusan Mipa. Meskipun sebenarnya kemampuanku menghitung seperti pantat ayam, tetapi aku masih percaya diri dan bisa menghirup nafas sampai tiga tahun ini.  Meskipun harus selalu berhadapan dengan remidi dan tugas tambahan setiap hari.


Apakah aku punya pacar? Wah pertanyaan yang bagus! Tentu jawabannya aku fokus dengan akademik dan menghindari hal-hal yang mengganggu masa depanku, alias nggak ada cowok yang deketin aku sama sekali. Terakhir, aku pernah suka sama temanku namanya Reno. Laki-laki yang suka adzan di masjid sekolah. Tapi, beberapa waktu setelahnya aku patah hati  karena dia jadian sama teman sebangkuku.  Point penting kehidupan, pilihlah teman sebangku yang lebih mengenaskan dari kamu. Supaya nggak kena tikung. Eh, nggak bisa dibilang tikung  sih, soalnya aku juga nggak punya wewenang apa-apa buat marah, kan dia juga ga kenal aku. Anjay wewenang, bahasaku udah soshum banget.


Di sekolah, aku absen nomor satu. Meskipun aku punya nama dengan awalan huruf C tetapi sialnya di kelasku nggak ada anak yang punya nama dengan awalan huruf A-B. Nomor absen itu yang menjadi penyiksaan selama di sekolah. Bagaimana tidak? Setiap kali ada soal di papan tulis, bu guru selalu menunjuk aku untuk mengerjakan. Setiap ada pertanyaan lisan, pak guru menunjuk absen nomor satu. Setiap ada perkenalan di tahun ajaran baru, aku juga yang harus kenalan pertamakali. Eww, menyebalkan.


Oiya, namaku Cantika Ekuivalen. Sungguh matematika sekali namaku. Mungkin mama ingin anaknya dulu terlahir cantik dan pintar matematika. Tetapi lahirnya malah kebalikan dari keduanya. Gara-gara nama itulah, setiap jam pelajaran matematika aku selalu jadi sasaran empuk bu guru. Rasanya, aku ingin ke kelurahan dan mengubah


nama sendiri menjadi Shelena Gomez.


Sebelum berangkat sekolah, mama selalu menyiapkan sarapan. Tapi hari ini tidak. Katanya, aku di sarapan di kantin dulu pagi ini. Soalnya tabung gas LPG rumahku ternyata habis. Maklum, aku hanya tinggal bertiga dengan mama dan adik. Papaku meninggal saat aku masih kecil. Jadi sampai sekarang aku nggak pernah lihat papa. Adikku namanya Candra Algebra. Nama matematika juga. Tapi adikku beruntung karena dia bisa jadi jagoan olimpiade matematika di SMP nya. Entahlah, kenapa ibuku ambis sekali dengan matematika sampai kedua anaknya diberi nama itu. Padahal aku sendiri, kalau melihat angka yang dikuadratkan saja sudah mual.


“Tugas matematika udah Can?” Sarah, teman sebangkuku menyapaku pagi-pagi.


“Udah, kenapa?”


“Liat dong”


“Dih, yakin lo nyontek gue?”


“Iyaaa”


“Ambil aja di tas, gue ke kantin dulu.”

__ADS_1


“Okee. Makasih cantik.”


“Yoi”


Biasanya kantin jam segini sudah buka dan banyak sekali anak-anak dengan wajah kelaparan yang nongkrong di sana. Aku masuk ke dalam dan membeli soto, tempe goreng, dan teh anget. Sengaja aku makan agak pelan karena malas sekali bengong di kelas sambil liatin orang ngerjain PR. Sebego-begonya aku, aku selalu ngerjain tugas kok. Meskipun sering salah ngerjainnya. Ya, seenggaknya itu satu-satunya yang bisa bikin aku percaya diri hidup di habitat sains kayak gini.


            Bel sekolah sudah terdengar nyaring. Sebenarnya sotonya sudah habis sampai mangkoknya bersih. Karena sambil ngalamun tadi, aku meminum kuahnya juga pakai sendok makan. Aku bergegas menuju kelasku yang terletak di lantai dua. Jadi untuk sampai kelas aku harus naik tangga dulu. Terlihat dari tangga, Bu Sumpah, guru matematikaku sudah berjalan dengan jilbab poninya. Aku berniat lari supaya bisa sampai kelas lebih cepat. Tetapi, aku tidak sadar kalau tali sepatuku ada yang lepas dan... Wuaaaaaaa! Aku hampir terjatuh tetapi ada tangan yang menarik lenganku.  Sekilas aku melihat dia, laki-laki yang berambut jamet  dengan kuping mirip centelan panci tersenyum melihatku. Beberapa detik aku terselamatkan, tapi ternyata dia kehilangan keseimbangan dan.. GUBRAKKKK alhasil kami berdua dibawa ke UKS.


“Lo anaknya Bu Nur kan?” Tanyaku penasaran.


“Iya, Lo yang kemarin beli micin kan?” tanyanya balik.


“Iya.”


Huft. Kenapa harus ada kejadian kayak gini sih? Tapi


Tok tok tok... suara pintu uks diketok. Di sana terlihat bayangan besar menakutkan mulai melangkah memasuki ruang UKS. Aku mengernyitkan dahi, ngeri.


“Cantika Ekuivalen?”


Astaga, Bu Sumpah ngapain ke UKS.


“I.. iya Bu?”


“Gimana? Masih sakit?”

__ADS_1


“Eh, nggak Bu, udah sembuh kok.”


Bu Sumpah tersenyum. Ekor matanya melirik anaknya Bu Nur.


“Wawan, tugasmu matematika kemarin salah semua. Besok ke kantor ya.”


Dia terlihat lebih pucat dari yang tadi. Sorot matanya lebih mengenaskan.


“Baik Bu”


“Can, sekarang ke kelas ya? Hari ini ulangan dadakan soalnya.”


“Hah? Ulangan Bu?”


“Iyaa”


“ANAK-ANAK


KELUARKAN KERTAS SELEMBAR” Bu Sumpah mengeluarkan pesonanya. Semua mata jadi terbelalak.


“Hah, ulangan ya Bu?”


“Sudah ikuti saja arahan Ibu”


Semua anak mempersiapkan kertas masing-masing.

__ADS_1


“Soalnya A B ya. Nomornya acak. Jadi tulis kodenya. Di lembar jawaban.”


Keringat dingin mulai memberontak keluar dari bagian epidermis kulitku. Tanganku terasa dingin seperti sedang camping di kutub utara. Kakiku tiba-tiba bergetar dengan sendirinya. Pikiranku cemas, pusing, angka yang ada di soal seolah terlihat seperti gambar bebek yang menangis. Tidak ada yang bisa kukerjakan satu pun.  Aku semakin gugup. Kubalik lembar soal, berharap di lembar berikutnya aku bisa mengerjakan soal lain. Naas, semua angka hanyalah bebek-bebek yang berenang sambil menangis. Hari itu, aku hanya menulis ulang soal ke lembar jawaban. Bu Sumpah menepuk jidat melihat lembar jawabanku. Teman-teman memandangku dengan iba. Dan aku hanya membeku sambil overthingking. Kamu tahu apa yang terjadi? Ya, Bu Sumpah memberiku hadiah dengan 100 soal matematika dikumpulkan besok pagi di mejanya. Seketika aku ingin menjadi pisang goreng saja.


__ADS_2