
Jam 7 pagi, aku merapikan baju yang baru kuambil dari jemuran. Cuaca kemarin sangat terik jadi bajuku cepat kering, hanya saja aku kelupaan jadi baru kuangkat hari ini. Rencananya, jam 9 nanti aku mengunjungi Sarah dan mengajaknya beli siomay langganan kami. Aku sengaja mengajak jam segitu karena warung siomay baru buka jam 10. Malas banget kalau harus nungguin lama. Ditambah, rumah Sarah cukup dekat dengan tempat siomay. Mungkin sekitar 1 Kilometer.
Aku juga merapikan kasur dan membersihkan sprei. Seingatku, terakhir kali aku mencuci sprei saat kemarau tahun lalu. Mama selalu marah kalau tahu aku malas nyuci sprei. Entahlah, mungkin tahun ini dia terlalu sibuk dengan toko kuenya hingga lupa ada jobdesk yang kutinggalkan di sini.
Benar saja, masih jam 7 tapi matahari sudah lumayan terik. Mungkin aku harus pakai tabir surya lebih banyak hari ini, supaya jerawatku nggak tambah parah. Tapi kabar baiknya, jemuranku pasti segera kering. Jadi, aku bisa tidur dengan sprei kesukaanku ini. Oh iya, hari ini Candra lagi lomba ke luar kota. Katanya mewakili provinsi buat olimpiade matematika. Huft, aku bangga sekali. Tetapi, melihat Candra yang begitu jenius, aku jadi sangat terlihat beban keluarga banget.
Hari ini, mama bikin kue ala-ala korea. Juga jus stroberi. Kulihat, kayaknya enak juga. Dan benar saja, saat aku mencicipi kue tart kecil di meja, rasanya enak banget. Ditambah dengan jus stroberi dicampur susu itu, rasanya segar sekali. Hari ini benar-benar hari yang indah.
"Aku nanti ke rumah Sarah ma."
"Ngapain?"
"Maen."
__ADS_1
"Jangan sampe sore."
"Iyaa"
Aku melanjutkan makan roti tawar dengan selai nanas. Setelahnya, aku mengambil handuk dan mandi. Air dingin menyentuh kepalaku, seolah rasa panik karena belum diterima kuliah terhenti sejenak. Aku merasa begitu tenang. Aku baru ingat kalau paket skincare yang kubeli kemarin akan datang hari ini. Aku pamitan sama mama dan minta tolong untuk menyimpan paket kalau ada pak kurir datang saat aku ke rumah Sarah. Mama mengangguk dan menyuruhku menghabiskan jus stroberi di meja makan sebelum berangkat.
Benar sekali, cuaca hari ini seperti simulasi Padang Mahsyar. Aku benar-benar terbakar saat berada di luar ruangan. Karena jarak rumahku ke tempat Sarah cukup jauh, akhirnya aku memesan ojek online.
Rumah Sarah tidak besar, juga tidak kecil. Cukuplah untuk tinggal keluarga kecil. Rumahnya terletak di dekat Lapangan Voli. Terlihat juga, ada pohon besar di dekat teras rumah. Huhu, itu pohon Rambutan. Aku berdiri di depan pintu yang tertutup.
Tidak ada jawaban.
Kuulangi salam sekali lagi. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. mungkin Sarah lagi nggak ada di rumah. Akhirnya aku putuskan buat menunggu Sarah di teras rumah.
__ADS_1
1 Jam berlalu dan tidak kutemui tanda-tanda Sarah akan pulang. Akhirnya aku memutuskan untuk bertanya ke tetangga yang letaknya agak jauh dari sini.
"Keluarganya Mbak Sarah udah pindah Nduk. Katanya sekalian boyongan ke Surabaya."
Jantungku berdegup kencang. Setengah tidak percaya dengan omongan tetangga tadi. Bisa-bisanya Sarah berangkat ke Surabaya tanpa berpamitan denganku?
kulihat ponselku lagi, sudah 100 pesanku tidak dibalas oleh Sarah. Aku menghela napas panjang kemudian melangkah pulang ke rumah.
Ternyata, hari ini tidak sebaik yang kukira.
Kenapa Sarah tidak berpamitan denganku? Kenapa tidak mengabari?
__ADS_1
Bersambung....