
Big projects
Setelah makan siang Marsya di dampingi Livia meeting dengan perusahaan Axel corporindo.Mereka sepakat bekerjasama dalam pembangunan apartement di kawasan strategis daerah Bogor.
"This is big projects. Perusahaan AMC group ingin apartemen yang mewah serta fasilitas yang lengkap. Owner-nya salah satu orang terkaya di Russia.Kita harus bisa memenangkan tender ini." Ucap Leo pada Marsya.
"Kita dan tim harus menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.Aku yakin kita bisa mendapatkan tender ini." Ucap Marsya.
"Saya percaya dengan kemampuan dan tangan dingin Bu Marsya." Ucap Leo.
"Pak leo terlalu memuji...." Ucap Marsya.
"Jika kita memenangkan tender ini.Kita akan mendapatkan keuntungan besar.Serta kita dapat mengembangkan perusahaan kita di kancah Asia.Otomatis saham perusahaan kita akan naik pesat." Jelas Leo.
"Hmm....tawaran yang cukup menarik" ucap Marsya.
"Strategi apa yang akan Bu Marsya buat agar Owner-nya memberikan tender itu untuk kita" tanya leo.
"Saya dan tim akan membahasnya terlebih dahulu.Setelah itu kita adakan meeting lagi.Bagaimana....?" Ucap Marsya.
"Saya tunggu Khabar baik selanjutnya.Terimakasih karena bersedia marger dengan perusahaan kami." Ucap leo.
"Sama-sama.Saya dan tim akan melakukan yang terbaik untuk projects ini." Ucap Marsya.
Usai meeting Marsya dan Livia kembali ke kantor.
"Livia...Aku tahu saham perusahaan Leo sedang terpuruk akhir-akhir ini.Aku bersedia marger dengan perusahaan-nya semata-mata hanya untuk membantu-nya." Ucap Marsya pada Livia.
"Apa ibu sudah punya strategi untuk memenangkan tender AMC group?" Tanya Livia.
__ADS_1
"Belum...Livia....Coba kau cari tahu mengenai perusahaan AMC group dan konsep seperti apa yang di inginkan perusahaan itu." Ucap Marsya.
"Baik Bu...." Ucap Livia.
Setelah itu Marsya bergelut dengan komputer-nya.
Tokk....tokk.....
"Masuk...." Ucap Marsya.
"Mohon maaf Bu.Sudah waktu-nya pulang.Apakah boleh saya pulang duluan? Apakah ibu mau saya buatkan dulu sesuatu." Ucap Livia.
"Hmm....Sudah sore ternyata..." Ucap Marsya sambil melihat jam di pergelangan tangan-nya.
"Silahkan Livia.Seperti-nya aku juga akan langsung pulang." Ucap Marsya sambil membereskan beberapa dokumen.
Marsya merapihkan meja kerjanya.Kemudian meninggalkan ruangan kantornya.
Sesampainya di lobby Marsya agak sedikit kaget ada pak Ujang yang menunggu-nya.
"Lho....pak Ujang koq ada disini?" Tanya Marsya.
"Saya di suruh tuan untuk menjemput nyonya." ucap pak Ujang.
"Kenapa harus di jemput? Saya sudah menyuruh supir kantor untuk mengambil mobil saya.Terimakasih banyak pak Ujang....Sebaiknya pak Ujang pulang saja." Ucap Marsya seraya menunjukkan kunci mobilnya.
"Tapi nyonya....nanti kalau tuan marah bagaimana?" Tanya pak Ujang.
"Tenang saja.Saya akan langsung pulang ke apartement.Tuan-mu itu tidak akan marah." ucap Marsya menenangkan.
__ADS_1
"Tapi....." Ucapan pak Ujang terpotong oleh perintah Marsya.
"Pulanglah....." Ucap Marsya terdengar seperti perintah.
"Baiklah....silahkan nyonya duluan." Ucap pak Ujang.
Marsya hanya menganggukkan kepala-nya.
Setelah memasuki mobilnya.Marsya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Jalanan sore ini terlihat sangat padat.Marsya menghela nafasnya ketika melihat antrian mobil di depannya.
"Huft....macet lagi...." Ucap Marsya.
Setelah satu jam lamanya bergelut dengan kemacetan. Akhir-nya Marsya sampai juga di apartement-nya.
Setelah membersihkan dirinya. Marsya melangkahkan kakinya ke dapur.Mengambil beberapa bahan makanan kemudian mulai memasaknya.Selesai memasak.Marsya pun menyantap makanan-nya di sofa sambil menonton televisi.
Setelah makan Marsya membereskan piring kotor dan alat-alat bekas memasak.
"Hmm....Santai dulu boleh-lah...." Ucap-nya sambil mengambil beberapa koleksi film kesukaan-nya.
Tiiingg.....Noongg.....
Tiiingg.....Noongg.....
Baru saja Marsya akan menyalakan film-nya.Suara bell menghentikan-nya.
"Hmm....seperti-nya Sharon." Gumam Marsya sambil melangkah kaki-nya membuka pintu apartement-nya.
Marsya tertegun sesaat melihat siapa yang datang ke apartement-nya.
__ADS_1