Cara-ku.....Mencintai-mu.....

Cara-ku.....Mencintai-mu.....
Meredakan Amarah


__ADS_3

"Kenapa kamu tega Marsya....Kenapa kamu begitu kejam padaku...." Ucap Maxx masih terus menonjok dinding dengan tangannya.


Marsya tidak menyangka Maxx akan bersikap seperti ini.Dengan tergesa-gesa Marsya menghampiri Maxx.


"Pukul saja aku.....Sakiti saja aku.....Jangan menyakiti dirimu sendiri Maxx...." Ucap Marsya sambil menggenggam tangan Maxx yang penuh dengan darah.


"Lepaskan....Apa kau senang melihat-ku seperti orang bodoh...?Apa kau puas membuatku menjadi pecundang....?" Tanya Maxx sambil menepis tangan Marsya.


"Aku tidak bermaksud seperti itu Maxx...." Ucap Marsya lembut.


Maxx terlihat seperti orang putus harapan.Marsya mencoba meredakan amarah Maxx.


Marsya mendekatkan bibirnya pada bibir milik Maxx.


*******-nya dengan lembut tapi Maxx hanya diam saja tak membalas *******-nya.


Marsya mengecupi kedua mata Maxx yang mengeluarkan air mata.Lalu kembali ******* lembut bibir Maxx.Maxx membalas *******-nya.Ciuman maxxx beralih ke leher milik Marsya.


"Akhh...." Desah Marsya.


Maxx menggendong Marsya ke atas ranjang.Merobek dress Marsya lalu menciumi dan


menghisap payudara Marsya lembut.Beralih ke perut Marsya.Maxx terpaku menatap perut Marsya yang sedikit terlihat buncit.Maxx menciumi perut buncit Marsya.Kemudian bangkit meninggalkan Marsya.


"Ada apa Maxx...." Tanya Marsya.


"Aku akan membawamu ke dokter kandungan." Ucap Maxx penuh sesal.


"Aku tidak apa-apa...." Ucap Marsya.


"Jangan memulai-nya lagi...." Ucap Maxx tajam.

__ADS_1


"Aku menginginkan-nya Maxx...." Tantang Marsya.


"Nanti setelah memastikan kalau dia baik-baik saja" ucap Maxx.


Marsya tersentuh mendengar-nya.Baru kali ini Maxx mengalah menekan ego-nya.


Marsya bangkit dari ranjang.


Dengan tubuh telanjang-nya Marsya berjalan menuju kamar mandi.Sementara Maxx sibuk mengetik sesuatu di handphonenya.


Marsya yang sudah selesai mandi hanya mengenakan bathrobe milik Maxx.


"Apa boleh aku meminjam baju-mu..." tanya Marsya.


"Di dalam lemari putih ada dress yang sesuai ukuran badan-mu." Sahut Maxx sambil terus menatap handphonenya.


Marsya membuka lemari putih.Di sana ada piyama,dress,kaos-kaos dan celana sesuai ukuran tubuhnya.


Sharon yang selalu mengatakan pada Marsya untuk memakai pakaian yang longgar agar bayi-nya bebas bergerak.


Setelah selesai memakai dress dan merias tipis wajah-nya.Marsya berjalan mendekati Maxx.


"Dimana kau menyimpan tasku..?" Tanya Marsya.


"Aku sudah membuangnya...." Ucap Maxx enteng.


"Kenapa kamu membuangnya.... Bagaimana aku menghubungi Sharon..." Tanya Marsya sambil cemberut.


"Pakai saja handphoneku...." Maxx memberikan handphonenya pada Marsya. Namun Marsya menolak-nya.


"Jangan bercanda Maxx....Dimana tas-ku?" Tanya Marsya lagi.

__ADS_1


"Coba tanya pak Ujang.Mungkin pak Ujang tahu." Jelas Maxx.


Maxx memejamkan matanya.


Tanpa sadar Maxx tertidur.


Setelah mengambil tas dari pak Ujang.Marsya meminta kotak obat pada bik Cha.


Lalu Marsya kembali ke kamar Maxx.


Dering suara handphone Maxx terdengar.


Marsya melihat nama kontak si pemanggil.


"Shakila....." Ucap Marsya pelan.Marsya memencet tombol hijau-nya.


"Hallo....afan aku sudah menunggu dari tadi pagi.Kau janji menemaniku pemotretan.Aku tidak mau melakukan photo shoot kalau kau tidak ada..." Rengek manja si pemanggil.


"Maaf....afan masih tertidur.Seperti-nya dia sangat kelelahan setelah melakukan aktivitas ranjang semalaman." Jawab Marsya.


"Hei....ini siapa....lancang sekali kau ******....Mana afan berikan handphone-nya pada afan..." Teriak Shakila dari ujung sambungan telpon.


Marsya mengakhiri panggilan secara sepihak.


"Dasar gatel....pemotretan di jadikan alasan." Gerutu Marsya.


Marsya mengobati tangan Maxx yang terluka.Memperban serta mengunci-nya dengan plester luka.


{Maxx tertidur sangat lelap.Seperti-nya semalaman Maxx tidak tidur.} Pikir Marsya.


"Maaf aku membuatmu tak nyaman.Aku pamit ke kantor." Ucap Marsya sambil mengecup kening Maxx.

__ADS_1


Marsya meninggalkan Maxx yang sedang tertidur.


__ADS_2