
Sehabis dari ruangan gym.Maxx menemui orang suruhan-nya.Mengambil berkas-berkas yang di minta-nya.Maxx mengeraskan rahangnya.Melihat laporan itu.
"Sudah....kau boleh pergi." Ucap Maxx pada orang suruhan-nya.
Tak lama setelah orang suruhan Maxx pergi.Dokter Alvian datang membawa hasil laboratorium milik Marsya.
"Kamu pasti akan kaget melihat hasil-nya." Ucap dokter Alvian memberikan surat itu pada Maxx.
"Seperti dugaan-ku." Ucap Maxx sinis.
"Kau sudah tahu...?" Ucap dokter Alvian terkaget.
"Baru saja orang suruhan-ku yang memata-matai Marsya memberikan laporan-nya.
Bodoh-nya aku tidak pernah melihat laporan-laporan itu." Ucap Maxx sambil mengeraskan rahangnya.
"Jangan terlalu keras padanya.Mungkin dia punya alasan untuk tidak memberitahu-mu." Ucap dokter Alvian menenangkan.
"Saranku sebaiknya kau mengajaknya usg ke dokter kandungan.Untuk memastikan kondisi bayi-nya baik-baik saja." Lanjut dokter Alvian.
Maxx bergegas menuju kamarnya.Saat di tangga Maxx berpapasan dengan bik Cha.
"Air apa itu....?" Tanya Maxx.
"Ini nyonya minta air yang di beri irisan lemon.Seperti-nya nyonya sedikit mual sehingga perlu meminum ini." Jelas bik Cha.
"Biar aku saja yang membawanya." Ucap Maxx mengambil gelas dari tangan bik Cha.
__ADS_1
"Baik tuan." Ucap bik Cha.
Maxx membuka pintu kamarnya.
Marsya baru saja menyelesaikan sarapan-nya.
"Ini minuman pesanan anda nyonya...." Ucap Maxx sinis.
"Terimakasih Maxx...." Ucap Marsya menunduk tidak berani menatap Maxx.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku...?" Tanya Maxx tajam.
"Ma...maksudmu..... mengatakan apa Maxx....?" Ucap Marsya agak sedikit gugup.
"Apa sebegitu benci-nya kamu padaku hingga kau tidak ingin memberitahukan kehamilan-mu padaku....." Teriak Maxx penuh emosi sambil melemparkan kertas hasil laboratorium pada Marsya.
"Aku tahu....reaksi-mu pasti akan seperti ini.Itu sebab-nya aku tidak memberitahukan kehamilan ini padamu." Ucap Marsya tegas.Bagaimanapun caranya Marsya akan terus melindungi anaknya.
"Reaksi seperti apa yang kamu maksud hah...Kamu memang ingin di hukum." Ucap Maxx gelap mata.Maxx mendekati Marsya tak peduli Marsya masih sakit.******* kasar bibir milik Marsya.
Meremas kencang payudara Marsya.
"Saa...saakitt....Maxx....." Ucap Marsya.
Maxx membuka paksa ****** ***** milik Marsya.Tanpa melakukan foreplay Maxx langsung membenamkan penisnya ke lubang ****** milik Marsya.
Marsya merintih kesakitan.Maxx tidak memperdulikan-nya.Maxx melakukan-nya dengan cepat dan kasar.
__ADS_1
Marsya hanya bisa pasrah menerima perlakuan dari Maxx.
Sampai akhirnya Maxx mengeluarkan seluruh spermanya di rahim Marsya.
"Aku membencimu Maxx....." Ucap Marsya sambil menangis.
"Kau masih hutang penjelasan padaku." Ucap Maxx bangkit menuju kamar mandi meninggalkan Marsya.
Marsya merintih kesakitan.Mengelus-elus perut-nya.Menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.
Maxx yang baru selesai mandi.Melihat Marsya merintih kesakitan segera menghampiri Marsya.
"Apa perut-mu sakit...." Ucap Maxx hendak mengelus perut Marsya tapi Marsya langsung menepis-nya dengan kasar..
"Apa peduli-mu.....Yang kau pedulikan hanya *****-mu saja." Teriak Marsya emosi.
"Apa belum cukup hukuman-mu barusan.Kau ingin aku menghukummu lagi...." Seringai Maxx pada Marsya.
"Jangan Maxx...." Mohon Marsya.
"Katakan kenapa kau menyembunyikan kehamilanmu dariku....?" Teriak Maxx.
"Aku takut kau menyuruhku menggugurkannya.Aku ingin punya bayi.Aku tidak mau aborsi Maxx...." Ucap Marsya sambil melindungi perutnya dengan kedua tangannya.
"Alasan....Aku menawari-mu pernikahan tapi kau tidak mau....Apa kau pikir aku rela kau mengandung anak-ku tanpa status pernikahan....Apa kau pikir aku akan diam saja saat dunia menyebut-nya dengan kata tak layak....Sebagai ayah-nya tentu saja aku akan membela-nya..." Ucap Maxx sambil menonjok-nonjok dinding dengan tangannya. Sampai tangan Maxx memar dan berdarah-darah.
"Stop Maxx.....Jangan sakiti dirimu sendiri...." Ucap Marsya bangkit melepaskan jarum infus-nya lalu berjalan tertatih mendekati Maxx.
__ADS_1