
Sinar terik matahari begitu menyorot langkah gontaiku. Di halte pinggiran jalan, kudaratkan bokong untuk sejenak beristirahat karena kakiku sudah tidak karuan rasanya . Tatapanku berpusat memandangi lalu lalang bermacam kendaraan yang memadati jalan raya yang ada di hadapanku.
Hari ini, sudah beberapa perusahaan yang aku datangi untuk menanyakan lowongan pekerjaan Akan tetapi, tidak ada satupun perusahaan yang sedang menerima lowongan pekerjaaan. Setelah mengusap peluh yang membanjiri pelipisku. aku kembali mengayunkan langkah gontai menyusuri trotoar jalan dengan rasa kecewa karena usahaku tak kunjung membuahkan hasil untuk mendapatkan pekerjaan seperti apa yang aku inginkan. Lelah berjalan, tak terasa akhirnya aku pun sampai ke rumah.
Dari kejauhan, terlihat pria bertubuh tegap sedang berkacak pinggang di hadapan ibuku. Sepertinya pria itu sedang bertikai dengan Ibu, karena jelas terlihat wajahnya penuh amarah. Dengan cepat gegas aku menghampiri ibu
"Alasan terus ... besok ... besok, jadinya kapan Ibu bisa bayar? Saya lelah ibu janji-janji tetapi tidak ditepati," hardik pria penuh penekanan.
"Ya, terus kalau uangnya belum ada Saya harus bayar pakai apa Om?" Tukas ibu. Dia membela dirinya, aku berusaha mengamati pertikaian ibu dan belum mengeluarkan suara.
"Tolong ya Mbak. Ibunya Jangan berasalan terus, Saya juga di sini bekerja lho. Bila ada nasabah yang tidak bayar terus Saya yang kena tegur nantinya," ucap pria itu dengan tatapan nyalang terhadapku. Sepertinya pria yang ada di hadapanku begitu jengkel kepada ibu.
Tanpa menunggu jawaban dariku pria yang memakai jaket hitam itu pun langsung bergegas pergi menaiki sepeda motor miliknya, dan berlalu dari hadapan aku dan ibu. Sementara ibuku pun bergegas ke dalam rumah dengan berdecak.
Aku hanya mengambil napas panjang, mendengar ucapan pria itu. Dia adalah koperasi pinjaman keliling, yang sering meminjamkan uang. Kebiasaan buruk ibu adalah selalu meminjam uang kepada koperasi itu. Bahkan tidak hanya satu koperasi, setiap hari ibuku harus membayar tiga orang setoran koperasi sekaligus. Sehingga keuntungan berjualan kue basah miliknya habis hanya untuk setoran koperasi Bahkan modalnya sekalipun.
Namaku adalah Nindya Mikhayla Putri, aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adik keduaku laki-laki dan kini sudah bekerja, sedangkan adikku yang terakhir adalah perempuan, dia masih duduk di kelas satu Sekolah Menengah Atas.
__ADS_1
Sedangkan bapak, hanya kuli serabutan yang pekerjaannya tidak menentu terkadang ada. Akan tetapi sebaliknya, bapak lebih banyak di rumah, dan harus berminggu-minggu menganggur. Keadaan ekonomi keluarga kami sangat buruk, bahkan untuk makan sehari- hari saja sangat sulit.
Dua bulan terakhir ini, aku baru saja terkena pengurangan karyawan kontrak di perusahaan tempatku bekerja. Tentu saja bila di berhentikan tidak mendapatkan apa-apa. Hanya sekedar upah gajih.
Sedangkan adik keduaku bekerja di warnet ( warung internet). Upahnya pun tidak terlalu besar hanya untuk mencukupi kebutuhannya. Akan tetapi dia selalu berusaha memberi uang saku untuk sekolah adik bungsuku.
Sewaktu malam, saat aku tengah berbaring di tempat tidur, aku mendengar ibu berdebat dengan bapak. Walau pun ini bukan kali pertama mereka beradu argumentasi, tetapi rasanya aku malu mendengar mereka selalu meributkan masalah uang dan uang. Gegas kuberanikan diri untuk keluar menghampiri ibu dan bapak karena aku lelah mendengar kedua orang tuaku.
"Sudah Bu. Malu kalau didengar tetangga yang di ributkan masalah uang terus," tukasku. Saat menghampiri mereka di depan ruang televisi.
Aku Hanya menarik napas panjang, aku bingung harus mengatakan apalagi. Ingin rasanya membela bapakku yang terus di salahkan tetapi, itu malah membuat ibuku makin menjadi nantinya dengan mengeluarkan seribu omelan. Kalau punya uang sudah kuberikan pada Ibuku pikirku.
"Kay, sudahlah Nak. Kamu mau sama Pak Permadi. Biar hidupmu enak tidak seperti Ibu!" Tiba-tiba Ibuku berbicara seperti itu padaku.
Memang ini bukan kali pertama wanita yang melahirkan aku menyuruhku menikah dengan Pak Permadi, dia adalah laki-laki beristri untuk menjadikan aku istri keduanya karena alasan istri pertamanya belum juga memberi keturunan untuknya, bahkan usia Pak Permadi di atas usia bapakku. Pria paruh baya itu memang terbilang kaya di kampungku. Dia terkenal juragan sawah dan Pak Permadi pun punya penggilingan padi sendiri hingga banyak orang yang dipekerjakan di rumahnya.
"Enak buat aku atau Ibu? Aku bilang aku tidak mau Bu. Dari pada nikah sama kakek-kakek mending aku jadi perawan tua saja," aku menjawab dengan nada meninggi kepada ibu.
__ADS_1
"Kamu memangnya tidak kasian sama Ibu Kay," jawab Ibuku. Sepertinya dia marah mendengar jawaban dariku.
"Sudahlah Bu, jangan paksain Kayla terus!" timpal bapak membelaku.
Gegas aku langsung melangkahkan kakiku ke kamar, Dan dengan kasar aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur, aku lelah dengan semua ini. Mungkin adik laki-lakiku pun merasakan hal yang sama denganku itu alasan dia jarang pulang ke ke rumah, dan memilih tidur di tempat kerjanya.
Pikiranku melanglang buana memikirkan bagaimana aku bisa membantu perekonomian keluargaku? Terlebih aku lelah mendengar ibu memaksaku menjadi istri dari Pak Permadi. Bahkan mencari pekerjaan pun sulit di kampung seperti ini. Apa aku ikut Tika ke kota untuk merantau barangkali bisa mendapatkan pekerjaan seperti Tika di sana? Agar aku bisa mengirim uang satu bulan sekali untuk orang tuaku seperti Tika. Mungkin besok aku harus meminta nomer ponsel Tika kepada ibunya.
Aku berharap Tika mau membantuku, lelah bergelut dengan pikiran sendiri membuat mata ini menjadi redup. Apa lagi kedua kakiku terasa nyeri karena siang tadi aku berjalan jauh mencari lowongan pekerjaan. Aku pun mencoba memejamkan kedua mataku untuk pergi ke alam mimpi yang mungkin menyenangkan.
Pagi pun menjelang, aku perlahan membuka mata dan beranjak dari pembaringan, gegas aku langsung membersihkan diri. Setelah itu, seperti biasa aku membantu ibu menyiapkan kebutuhan jualan kue basahnya. Setelah selesai bapak dan adik bungsuku yang menitipkannya ke warung- warung tetangga, karena kami tidak punya modal untuk membuka kios. Akan tetapi aku juga sering membantu memposting untuk mempromosikan dagangan ibu melalui online.
Siang ini setelah membantu ibu di rumah, aku berniat mendatangi rumah Tika, untuk meminta nomer ponsel Tika kepada ibunya. Tika adalah teman kecilku, kini dia merantau bekerja ke ibukota, aku pun berniat mengikuti jejaknya agar bisa secepatnya membantu perekonomian keluargaku. Semoga aku bisa seperti Tika.
...****************...
Terimakasih untuk yang sudah mampir🙏🌺 mohon dukungannya untuk karyaku lebih baik ❤🌺🌺Salam hangat dari ku RSH🥰
__ADS_1