Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Pertengkaran.


__ADS_3

Sudah dua hari aku. Berada di kamar, terkadang sesekali melihat keadaan Ibu dan Dito. Aku juga tidak mengantar sekolah Dito. Sudah beberapa hari ini Ibu menyuruh Bi Sum. Untuk mengantarnya. Ibu pun telah mendapat asisten rumah tangga baru. Untuk membantu di rumah. Karena Ibu menyuruhku lebih banyak beristirahat. Mungkin Ibu mertuaku tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Aku pun memilih menghabiskan waktu di kamarku.


Begitu pula dengan Mas Agas. Semenjak kejadian malam itu dia lebih sering berada di rumah. Aku tidak banyak bertanya kepada Mas Agas. Bahkan aku masih menunjukan sikap kecewa bila di hadapannya.


Setelah melakukan shalat ashar ku rapihkan mukena dan memilih membaringkan tubuh di tempat tidur. Suara pintu terbuka. Terlihat Mas Agas pun masuk ke kamar dan mendudukkan diri di sofa. Aku pun membalikan tubuhku membelakanginya.


"Sampai kapan kau mau seperti ini?" Tukas Mas Agas.


Aku hanya terdiam tidak menghiraukan ucapnya.


"Lagi pula aku kan sudah berkali- kali meminta maaf kepadamu, itu semua terjadi di luar kendaliku " Seloroh Mas Agas.


Aku pun bangkit duduk dari pembaringan. Ku tatap tajam ke arah suamiku.


"Aku mengerti Mas. Kau takkan sudi menyentuhku? Kalau begitu, aku ingin tahu siapa orang yang menjebak mu? Hingga kau tidak sadar menyentuh istri yang terpaksa kau nikahi. Hanya demi baktimu sebagai seorang anak kepada Ibunya! Hardikku penuh penekanan.


Mas Agas hanya terdiam seperti memikirkan apa jawaban yang akan ia katakan.


"Jawab Mas!" Sambungku.


"Cantika yang telah melakukan itu. Mungkin wanita itu berharap setelah meminum teh buatannya. Yang sudah dia masukan obat perangsang untukku. Aku akan menidurinya" Ucap Mas Agas.

__ADS_1


Aku tercengang dan menggelengkan kepala mendengar jawaban dari Mas Agas.


"Untuk apa malam- malam, seorang pria beristri. Mengunjungi rumah mantan ke kasihnya, kalau tidak ada maksud apa-apa?" Senyum kecut ku layangkan pada suamiku.


"Kau masih mencintainya Mas?" Sindirku.


Ia hanya terdiam sembari menunduk. Membuat aku semakin penasaran. Tentang perasaan Mas Agas kepada Mantan kekasihnya.


"Jawab Mas." Sahutku. Tatapan tajam ku layangkan kepada Mas Agas.


"Aku sudah tidak mencintainya. Cinta adalah omong kosong bagiku. Bahkan aku sudah tidak percaya kepada wanita manapun," Tukas Mas Agas. Menarik sudut bibirnya.


"Termasuk kepadaku?" Sindirku.


"Miris memang. Hanya karena satu wanita yang menyakitimu. Tetapi semua wanita kau anggap seperti itu!" Sindirku.


"Kau menyesal menikah denganku?" Tanya Mas Agas menatapku tajam.


"Menurutmu? Ku kira kau butuh pengganti mantan kekasihmu. Untuk mengobati luka hatimu Mas. Maka dari itu aku mengiyakan permintaan Ibumu. Aku pun melakukannya, untuk rasa berterimakasih kepada Ibumu. Untuk kebaikan yang selama ini ia berikan. Tetapi aku salah mengambil keputusan. Kau terlalu dalam tenggelam bersama masalalu mu. Hingga kau sulit membawa dirimu ke permukaan" Hardikku.


Aku pun mengambil ponsel milikku. Bergegas keluar kamar untuk meninggalkan Mas Agas. Aku butuh menenangkan diri. Aku bukan wanita yang ada di sinetron televisi. Yang selalu sabar menghadapi suami dinginnya. Aku pun menuruni anak tangga, beruntung Ibu dan Dito berada di kamarnya.

__ADS_1


Ku ambil kunci motor di atas lemari pendingin. Kemudian ku nyalakan motor matic yang berada di bagasi. Dan aku pun pergi tanpa tujuan. Ku tepikan kendaraan di taman kota. Kemudian mendudukkan diri di bangku taman. Ku tatap anak kecil yang bermain begitu riang bersama orangtuanya.


Pikiranku bergelut. Aku bingung harus bagaimana menghadapi sikap Mas Agas. Aku pun memikirkan bagaimana nasib pernikahanku. Apakah harus menyerah atau terus berjuang membuat Mas Agas mencintaiku. Tetapi apa itu bisa? Apa Mas Agas akan mencintaiku suatu saat nanti? Rasanya pikiranku sangat tidak menentu. Air mataku mengalir deras walau jari tanganku berkali-kali mengusapnya. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sakit ini.


Tidak Terasa sudah hampir dua jam aku berada di taman kota. Aku pun bergegas untuk pulang, karena akan tiba waktu magrib sebentar lagi. Ku lajukan kendaraan hingga sampai ke rumah.


Saat ku parkirkan motor di bagasi. Ku lihat Dito sedang duduk seorang diri di bangku teras.


"Sayang, kenapa sendirian?" Tanyaku duduk di bangku samping Dito.


"Aunty dari mana? Kenapa tidak ajak Dito?" Anak kecil itu mengerucutkan bibirnya.


"Dari taman kota Sayang, tadi Aunty mau ajak Dito. tetapi Dito lagi bobo! Besok ya Aunty ajak Dito!" Ucapku. Mengelus pucuk kening Dito.


"Benar ya Aunty. Janji lho!" Sahutku Dito kegirangan.


Aku pun mengangguk. Mengajak Dito kedalam rumah. Ini juga satu alasanku untuk mempertahankan pernikahanku dengan Mas Agas. Aku kasihan pada Dito. Aku sudah menyayanginya seperti anakku sendiri. Terlebih Dito tidak seberuntung seperti anak-anak lain. Yang mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya. Aku ingin membahagiakan Dito dan Ibu mertuaku.


Setelah mengantarkan Dito ke kamar. Aku pun menaiki anak tangga untuk menuju kamar atas. Terlihat Mas Agas sedang tertidur. Aku tidak menghiraukannya. Aku memilih membersihkan diri untuk mengambil wudhu. Karena azan magrib sudah berkumandang. Aku berniat melaksanakan shalat. Setelah itu Aku berdoa kepada sang pemilik kehidupan. Aku minta petunjuk menghadapi pernikahanku ini. Air mataku mengalir deras. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara.


...****************...

__ADS_1


Bersambung✍️👋 next episode selanjutnya🌺🌺🌺🌺 Mohon dukungannya untuk karya ini lebih baik readers.


Salam hangat dariku Rahellya Sella Hidayat. ❤🌹🌹🥰


__ADS_2