Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Salah tingkah.


__ADS_3

Setelah beberapa saat di perjalanan, akhirnya kami sampai di UGD rumah sakit. Perawat membantu membawa Mas Agas untuk berbaring di ruangan. Sedangkan aku harus ke tempat pendaftaran.


Kemudian Mas Agas pun segera di tangani oleh Dokter. Aku menunggu di depan ruangan.


Tidak beberapa lama perawat pun memanggilku untuk ke dalam. Terlihat Mas Agas masih terbaring lemah di bed hospital di dalam ruang UGD.


"Nyonya dengan keluarga pasien?" Tanya Dokter. Saat aku memasuki ruangan.


"Iya, Dok. Saya istrinya," jawabku.


"Begini Nyonya. Suami Anda harus mendapatkan perawatan medis karena darahnya begitu rendah dan hb (hemoglobin) nya juga cukup rendah. Di haruskan di rawat di sini untuk beberapa hari!" Titah Dokter.


"Baik Dok" Ucapku. Aku tidak banyak berpikir. Supaya Mas Agas cepat pulih.


"Sebentar pasien akan di pindah ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi" Pamit Dokter. Lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan.


Sedangkan Mas Agas. Masih terkulai lemas. Wajahnya pun pucat. Tangannya sudah di pasangi infus. Untuk memberikan cairan obat.


Tidak lama kemudian perawat memindahkan Mas Agas. Untuk ke ruang rawat, aku pun mengekor di belakang.


Sesampainya di ruang rawat. Setelah mengecek keadaan Mas Agas. Perawat pun meninggalkan ruangan Mas Agas. Dan pramusaji mengantarkan makanan untuk suamiku.


"Ini Mas! Makan dulu. Supaya cepat bertenaga" Titahku.


Mas Agas pun sedikit menaikan tubuhnya. Supaya bisa duduk untuk menyantap makanan yang sudah ada di meja pasien. Sepertinya ia begitu kesulitan. Tetapi enggan meminta tolong kepadaku. Mungkin karena malu.


"Biar ku bantu Mas!" Kuraih satu nampan berisi nasi, lauk pauk dan buah.


Untuk kali ini Mas Agas menuruti ucapanku. Tidak ada penolakan seperti di rumah tadi. Mungkin dia memang benar-benar sudah kehabisan tenaga.

__ADS_1


"Kau tidak makan?" Tanyanya. Saat aku duduk di sofa. Sehabis membantunya makan.


"Biar, nanti saja" jawabku.


Setelah itu Mas Agas. Memejamkan matanya, mungkin karena reaksi obat yang telah dia minum. Aku pun beranjak dari duduk untuk mencari makan di luar. Rasanya cacing dalam perutku sudah meronta-ronta minta di beri makan.


Terdengar suara ponsel milikku berbunyi. Aku pun segara meraihnya di tas yang menyelempang di tubuhku. Terlihat nama Ibu mertuaku memanggil pada layar benda pipih itu.


"Halo, Bu" Sapaku.


"Halo, Kay! Bagaimana keadaan Agas?" Tanya Ibu. Aku pun tahu pasti Ibu mencemaskan keadaan Mas Agas.


"Mas Agas. Sudah membaik Bu! Hanya saja perlu di rawat untuk beberapa hari," jawabku.


"Ya, sudah Kay. Mudah-mudahan Agas cepat pulih. Ibu titip dia," ucap Ibu.


"Apa kamu mau Ibu kirimkan pakaian ganti, untukmu dan Agas? Nanti Ibu suru Bi Emi untuk menyiapkannya!" Tawar Ibu.


"Boleh Bu! Kirim pakai ojek online saja. Biar tidak merepotkan!" Titahku.


Ibu pun mengiyakan ucapanku dan mengakhiri panggilan telepon. Setelah pesanan ku datang, aku langsung melahapnya hingga tandas. Kemudian bergegas kembali ke ruangan Mas Agas. Terlihat suamiku masih terlelap.


Selesai melaksanakan shalat isya aku merebahkan diri di sofa. Terdengar rintihan Mas Agas. Terlihat Mas Agas meracau. Aku langsung menghampirinya dan duduk di kursi di samping suamiku. Ku tempelkan punggung tanganku ke keningnya. Tetapi suhu tubuhnya hangat tidak panas, tidak seperti saat di rumah tadi. Entah mengapa mataku begitu ingin memejam. Sehingga tidak sadar, aku tertidur di sisi Mas Agas dengan tangan bertumpu di atas tempat tidur rumah sakit.


Saat terbangun membuka mata. Mas Agas pun terbangun. Tangannya menggenggam erat tanganku. Aku pun terkejut dengan apa yang terjadi. Hingga tersadar Mas Agas pun langsung menarik tangannya. Terlihat ia begitu salah tingkah. Wajahnya pun memerah. Mungkin dia malu.


Aku pun langsung beranjak dari duduk. Untuk melaksanakan shalat subuh. Sedangkan Mas Agas. Kembali memejamkan matanya.


Satu hari di rumah sakit keadaan Mas Agas pun mulai membaik. Ia sudah bisa untuk makan sendiri, karena tubuhnya sudah tidak lemas seperti hari lalu. Aku pun bergegas mencari makan siang ke kantin rumah sakit.

__ADS_1


Setelah selesai mengisi perut. Aku kembali ke ruangan Mas Agas. Sungguh aku cukup terkejut melihat Cantika ada di ruangan Mas Agas. Wanita itu seperti hantu yang selalu datang tiba-tiba. Aku pun menatap heran kepada mereka. Kenapa wanita ini bisa ada di ruangan Mas Agas? Apa suamiku yang mengabarinya? Sedangkan Mas Agas sudah salah tingkah dengan kedatanganku.


"Oh, ada tamu!" Ucapku.


"Ya, kenapa keberatan dengan keberadaanku?" Tukas Cantika. Seringai senyum licik ia persembahkan untukku.


"Oh, tentu tidak! Aku malah berterimakasih kamu mau menjenguk suamiku! Sekalian tolong tunggui dia di sini. Aku lelah!" Sindirku. Tatapan sinis ku berikan kepada Mas Agas.


"Dengan senang hati," jawab Cantika menarik sudut bibirnya.


Aku pun bergegas mengambil tas di atas nakas di samping tempat tidur Mas Agas. Tetapi tanganku di cekal olehnya.


"Biarkan dia yang pergi dari sini," tukas Mas Agas. Tatapannya sinis ke arah Cantika.


"Tapi Gas!" Ucap Cantika. Tetapi lebih dulu di potong oleh Mas Agas.


"Pergi dari sini! Aku tidak membutuhkan mu Cantika!" Hardik Mas Agas.


Wanita itu pun menatap lekat kepada diriku. Tatapannya menggambarkan dendam yang begitu membara.


"Semua gara-gara wanita kampung ini kan Gas?" Hardiknya.


Aku pun menyeringai senyum licik kepadanya. "Lelaki manapun tau tidak akan memilih, sampah dari pada berlian kampung" Sindirku.


Wanita itu pun bergegas pergi dari ruangan Mas Agas. sedangkan Mas Agas terlihat menarik sudut bibirnya. Sungguh aneh, aku pun tidak menghiraukan Mas Agas. Kemudian aku duduk di sofa. Untuk merebahkan tubuhku. Aku selalu merasa emosi bila berhadapan dengan wanita itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bersambung✍️🌺🌺Next episode selanjutnya 🙏👋👋❤ mohon dukungannya untuk karya ini lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2