
Setelah dari toko bunga. Aku kembali menjemput Dito ke sekolah. Terlihat anak kecil itu setia menungguku di depan kelasnya.
"Aunty!" Sahut Dito. Ia pun berlari ke arahku.
"Dito sudah tunggu Aunty lama?" Tanyaku. Saat Dito memeluk.
"Tidak Aunty. Dito baru saja keluar kelas!" Jawabnya.
"Ya, sudah. Kita pulang sekarang!" Ajakku.
"Oke"
Aku langsung menaiki sepeda motor, seperti biasa Dito memilih ku bonceng di belakang. Ia juga sangat suka memeluk erat tubuhku. Setelah beberapa menit di perjalanan kami pun sampai di rumah. Ibu sudah menunggu kami di teras.
"Eh, cucu Omah sudah pulang!" Ucap Ibu saat aku dan Dito menghampirinya.
"Ini Bu, aku sudah beli titipan Ibu" Ucapku menunjukan bibit anggrek yang sudah ku beli.
"Iya, Kay terimakasih. Simpan saja di situ biar nanti Ibu meminta tolong Bi Emi untuk menanamnya!"
"Baik, Bu!"
"Duduklah Kay! Ada yang Ibu mau bicarakan denganmu!" Titah Ibu. Aku pun mengiyakan duduk di kursi.
"Sayang, ganti baju sama Bi Emi ya!" Titah Ibu. Kepada Dito.
"Kay, apakah kalian bertengkar?" Tanya Ibu. Tidak biasanya Ibu menanyakan ini.
__ADS_1
"Ibu tau Kay, tidak mudah untuk menghadapi sifat keras Agas. Terlebih dia mempunyai masa lalu buruk tentang kehidupannya" Sambung Ibu. Tatapannya sendu mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.
Aku masih terdiam. Mencoba mencerna apa yang Ibu bicarakan. Aku pun mengerti perasaan Ibu. Beliau takut jika aku tidak sabar menghadapi sikap Mas Agas.
"Apa, Ibu yakin Mas Agas akan mencintaiku? Sedangkan Cantika bersikeras ingin kembali kepada Mas Agas?"Tanyaku.
"Ibu Sangat meyakini itu Kay. Agas akan Mencintaimu. Ibu pastikan dia tidak akan kembali kepada wanita itu. Ibu sangat tidak suka. Ibu hanya minta kepadamu! Bersabarlah menghadapi Agas. Walaupun Ibu tau tidak semudah membalikkan telapak tangan" Tutur Ibu.
"Baik, Bu. Aku akan mencoba terus bersabar, menghadapi Mas Agas. Semua ku lakukan demi Ibu dan Dito" Ucapku.
"Terimakasih Kay, kamu wanita yang baik. Sudah seharusnya Agas tulus mencintaimu!" Ucap Ibu. Netranya mengembun.
"Oh, ya Kay. Ibu lupa, kalau Agas sudah pulang pagi tadi. Ibu lihat wajahnya sedikit pucat. Apa dia sakit? Tolong buatkan sup untuknya Kay! Tadi sepulangnya Agas. Ibu sudah tawari sarapan tapi dia ingin istirahat" Titah Ibu.
Aku pun mengiyakan perintah Ibu. Untuk membuatkan sup kesukaan Mas Agas. Dan kemudian beranjak untuk ke dapur. Aku langsung berkutat membuatkan yang Ibu perintahkan. Tidak butuh waktu yang lama, aku pun sudah membuat sup untuk Mas Agas.
Sesampainya di kamar, terlihat Mas Agar sedang memejamkan kedua matanya di atas tempat tidur. Aku merasa heran tidak biasanya Mas Agas tidur di tempatku. Ia pun menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Seperti menggigil kedinginan.
"Mas, ini aku bawakan sup untukmu. Tadi Ibu menyuruhku membuatkannya," ucapku.
Mas Agas pun tidak merespon ucapanku. Ia tetap menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Kau baik-baik saja, Mas?" Tanyaku mendekati Mas Agas.
Aku memberanikan diri membuka selimut di bagian wajah Mas Agas. Ia terlihat begitu pucat. Aku pun mencoba menempelkan punggung tanganku ke kening Mas Agas. Suhu tubuhnya terasa panas.
"Kau demam Mas?" Ucapku.
__ADS_1
Mas Agas masih terdiam. Ia hanya membuka sedikit matanya lalu memejamkan nya lagi.
"Mas, makanlah ini. Sudah ku buatkan, mumpung masih hangat! Setelah itu kau harus meminum obat penurun panas. Agar cepat pulih!" Ucapku. Aku pun memberikan sup kepada Mas Agas.
Ia pun beranjak untuk duduk dari pembaringannya. Menuruti untuk memakan sup. Yang telah aku buatkan. Tetapi tangan Mas Agas gemetar. Saat meraih sup yang ku berikan.
"Biar ku bantu Mas!" Tawar ku.
"Aku bisa sendiri" Mas Agas mengelak. Aku pun mengiyakan sambil memperhatikannya. Memang egois sudah tau tangannya gemetaran. Mana bisa ia makan sendiri, Aku pun hanya menggelengkan kepala. Di saat seperti ini pun dia masih seperti itu.
"Sini biar ku bantu, tanganmu saja gemetar Mas. Bagaimana bisa melakukannya sendiri?" Tukasku. meraih piring dan sup untuk menyuapi Mas Agas.
Suamiku hanya terdiam. Kemudian menuruti perintahku dan mau membuka mulutnya. walau terlihat salah tingkah di hadapanku. Kemudian aku beranjak untuk mengambilkan obat untuk Mas Agas. Setelah meminum obat Mas Agas. kembali memejamkan matanya. Tetapi tidak beberapa lama terdengar ia meracau. Aku pun menghampiri kembali Mas Agas. untuk mengecek suhu panasnya. Ternyata panasnya tidak juga reda. aku pun bergegas untuk mengambilkan air hangat. Berniat untuk mengompresnya. Namun, demannya tak kunjung turun.
"Mas kita harus ke rumah sakit. Demammu sangat tinggi," Ucapku. Seketika aku panik dengan kondisi Mas Agas. Biar bagaimana pun aku adalah istrinya. Sudah kewajibanku untuk mengurusnya. Walau aku hanya seorang istri yang tidak di anggap.
Untuk kali ini Mas Agas selalu menuruti perintahku. Ia pun tidak menolak untuk aku bawa ke rumah sakit. Langkahku cepat membuka lemari pakaian, untuk mengambil jaket Mas Agas. Karena terlihat ia masih kedinginan. Kemudian setelah di rasa siap aku pun memapah Mas Agas untuk melangkah menuju teras rumah, suamiku itu begitu lemas. Aku pun sudah menesan taksi online. Karena aku tidak bisa mengendarai mobil.
"Bu, aku mau membawa Mas Agas ke rumah sakit!" Ucapku kepada Ibu yang sedang duduk di depan televisi.
"Agas sakit Kay! Ya sudah hati-hati Kay!" Wajahnya Ibu pun berubah menjadi panik.
Setelah sesampainya di teras. Mobil yang ku pesan pun datang. Aku kembali membantu memapah Mas Agas untuk masuk ke dalam mobil. Entah mengapa rasa cemas begitu menyelimuti perasaanku melihat Mas Agas terkulai lemas seperti ini.
...****************...
Bersambung✍️🌿🌿👋 next episode selanjutnya 🌺🌺🌺Mohon dukungannya untuk karya ini lebih baik. Salam hangat dariku. Rahellya Sella hidayat👋🥰🥰
__ADS_1