Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Pradika Mahameru


__ADS_3

"Ayo Aunty!" Sahut Dito. Yang sudah tidak sabar menunggu di teras rumah. Sore ini kami akan bermain ke taman kota. Aku menepati janjiku pada Dito. Lagi pula Mas Agas belum pulang dari kantor.


"Iya Sayang, sebentar Aunty bantu Omah dulu.," Jawabku. Saat membantu Ibu ke tempat tidur.


"Aku ajak Dito dulu ya Bu!" Pamitku pada Ibu.


"Iya Kay. Hati-hati di jalan," Ucap Ibu.


Aku pun berlalu dari kamarnya. Bergegas menghampiri Dito yang sudah tidak sabar menungguku.


Kami pun siap berangkat dengan motor matic yang biasa ku gunakan. Dan setelah di rasa siap. Ku lajukan sepeda motor. Menuju taman kota.


Selang beberapa lama, kami pun sampai di tempat tujuan. Dito pun sangat antusias melihat anak-anak sebayanya sedang riang bermain.


Aku mengajak Dito membeli minuman boba. Minuman kekinian yang banyak di jual di tempat itu. Dan juga membelikan telor gulung kesukaanku waktu di kampung hehehe.


"Yummy.. Aunty!" Ucap Dito senang. Mungkin baru pertama kali mencicipi telor gulung. Jajanan pinggir jalan.


"Iya Sayang, ya sudah kalau Dito suka. Habiskan!" Titahku.


"Aunty. Dito mau itu!" Sahut Dito menunjuk ke arah penjual bola angin.


Aku pun mengiyakan permintaan Dito. Setelah membelinya Dito pun asik bermain sambil menendang-nendang bola itu.


Aku memang sedikit ceroboh saat menemani Dito. Karena aku malah membuka ponsel untuk membuka pesan. WhatsApp dari Tia Adikku.


Saat ku melihat ke arah Dito. Anak kecil itu tidak ada di penglihatan ku. Aku berdiri bangkit untuk mencarinya. Aku pun seketika panik. Pikiran buruk sudah lalu lalang di otakku.

__ADS_1


"Dito!" Teriakku saat melihat dia sedang mengejar bola ke arah jalan. Dari depan tampak sepeda motor dengan kecepatan tinggi.


Dengan sigap ada laki- laki yang menarik Dito hingga masuk ke dalam pelukannya. Aku pun bernapas lega karena tidak terjadi apa-apa pada anak kecil itu. Aku langsung menghampiri Dito yang terlihat masih shock.


"Dito tidak apa-apa?" Tanyaku. Membawa Dito ke pelukanku.


"Tidak apa-apa Aunty" Jawab Dito.


"Terimakasih ya Mas. Sudah menolong keponakan Saya." Ucapku pada pria yang menolong Dito.


"Iya sama-sama. Saya kebetulan sedang lewat" Jawabnya.


Pria itu pun menatapku dengan lekat. Aku jadi canggung dengan tatapannya.


"Apa kita pernah bertemu?" Tanyanya padaku.


Aku pun terdiam. Sepertinya juga aku tidak asing dengan wajah pria ini. Aku merasa mengenalnya tapi entah dimana?


Aku tercengang mendengar pria itu memanggil namaku. Dia tau dari mana namaku? Sedangkan berkenalan saja belum.


"Aku, Pradika Mahameru. Teman sekolahmu!" Jelasnya. Mengembangkan senyuman.


Aku mencoba mengingat-ingat. Karena daya ingatanku lumayan kurang bagus. Mungkin karena terlalu banyak melamun hehehehe. Setelah beberapa menit akhirnya aku mengingat pria yang ada di hadapanku. Dia adalah Dika. Teman sewaktu aku sekolah SMA dulu.


"Dika! Ya ampun. Aku sampai tidak mengenalimu!" Sahutku.


"Baru ingat?" Ucapnya.

__ADS_1


"Ko kamu ada di sini Dika? Bukannya sewaktu lulus orang tuamu pindah ke solo?" Tanyaku. Karena setahuku setelah lulus orang tua Dika pindah ke Solo. Waktu itu aku sempat dekat dengan Dika. Tetapi kami sempat tidak berpacaran. Karena aku tidak merasa sederajat dengan nya. Dika terbilang berada sedangkan aku hanya anak kuli serabutan seperti Bapak.


"Iya Kay, orang tuaku di Solo. Hanya aku bekerja di kota ini" Jelasnya.


Kami pun banyak berbincang-bincang di pinggir jalan. Terlihat mobil menepi di depan kami. Aku juga tahu itu adalah mobil Mas Agas.


"Dito!" Sahut Mas Agas. Suamiku itu menatap tajam ke arah Dika. Tatapan yang mengartikan tidak suka.


"Mas ini kenalin Dika. Teman SMa ku!" Ucapku.


Mereka pun berjabat tangan. Menyebutkan nama masing-masing.


"Mas tadi Dika yang..!" Belum sempat aku meneruskan perkataan ku. Mas Agas memotong pembicaraanku.


"Ayo Boy! Kita pulang!" Ucap Mas Agas. Menggenggam tangan Dito.


"Aku Mau sama Aunty Om" Rengek Dito.


"Sama Om aja. Aunty lagi sibuk," Sindir Mas Agas kepadaku. Kemudian ia berlalu dengan Dito . Bergegas untuk pulang mengendarai mobilnya. Aku pun hanya menarik napas dalam, melihat tingkah Mas Agas. Yang menurutku sangat kekanak-kanakan.


"Maafkan sikap suamiku ya Dik! Dia memang seperti itu kalau sama yang baru kenal," Ucapku tidak enak hati pada Dika.


"Iya. Santai aja Kay! Oh ya, aku boleh minta no ponsel mu?" Tutur Dika.


Aku pun mengiyakan permintaan Dika. Setelah itu aku pun pamit kepada Dika. Waktu sebentar lagi azan magrib. Lagi pula aku takut Mas Agas akan berpikir macam-macam.


Ku ambil motor di parkiran taman. Lalu kulajukan sepeda motor menuju rumah.

__ADS_1


...****************...


Bersambung βœοΈπŸ‘‹πŸŒΊπŸŒΊ Next episode selanjutnya πŸ™πŸŒΏπŸŒΏ Mohon selalu dukungannya Readers.. πŸ™ untuk karyaku lebih baikπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ‘‹πŸŒΉπŸ₯°


__ADS_2