Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
ke rumah sakit


__ADS_3

Aku pun menikmati pekerjaanku saat ini. Tidak terasa genap satu bulan aku bekerja dengan Bu Isma. Kegiatanku seperti biasa. Mengurus Dito dan mengantarkan sekolah. Aku pun membantu kegiatan Bu Isma. Seperti berjemur dan menyiapkan kebutuhannya. Bu Isma masih bisa berpindah ke kursi roda sendiri. Tetapi untuk berjalan wanita berumur itu kesulitan.


Aku juga sudah menerima gajih pertamaku. Lumayan besar seperti gaji karyawan di kota pada umumnya. Karena Bu Isma sangat baik kepadaku. Majikan ku adalah seorang istri Tentara. Jadi di masa tuanya, ia masih mendapatkan gajih pensiunan dari Almarhum suaminya. Di tambah lagi Mas Agas sudah bekerja dan memiliki beberapa usaha sampingan.


Dengan gajih pertamaku. Syukurlah aku sudah mengirim untuk orang tuaku di kampung. Separuh gajih ku berikan pada orang tuaku. Aku akan berusaha mencukupi biaya kehidupan mereka. Sedangkan sisanya aku tabung. Untuk keperluan yang lain.


Setelah pulang mengantar Dito sekolah. Aku pun lanjut untuk memasak. Dan setelah itu membantu menyuapi Dito. Anak kecil itu semakin dekat denganku hampir semua kegiatannya aku yang menemani. Terkadang banyak orang menganggap Dito adalah Anakku. Apa mungkin wajahku sudah pantas memiliki anak? Aku terkekeh sendiri bila memikirkannya.


Selesai makan siang aku pun merebahkan diri di kamar karena semua pekerjaanku sudah beres. Sedangkan Bu Isma dan Dito sedang tidur siang. Ponselku berbunyi aku pun langsung meraihnya di atas nakas. Ku buka layar pipih itu. Rupanya Adikku Tia meneleponku.


"Halo Mbak Kay. Ini Ibu mau bicara!" Ucap Tia lewat sebrang telepon. Ia pun memberikan ponselnya kepada Ibuku.


"Iya Bu," Jawabku.


"Kay, uangnya sudah Ibu terima. Tadi Pakde antarkan ke rumah. Terimakasih ya Kay!" Ucap Ibuku. Aku memang mengirim uang ke rekening Pakde. Ia adalah Adik Ibuku. Karena keluargaku belum punya rekening. Mungkin setelah ini aku akan menyuruh Adik laki-lakiku untuk membuatkan untuk Ibu. Supaya tidak susah untuk mengirim uang.


"Iya Bu. Sama-sama. Pergunakan uangnya dengan baik ya Bu! Kalau bisa lunasi hutang koperasi Ibu. Dan jangan meminjamnya lagi! Doakan aku di sini biar banyak rejekinya! Bisa mengirim uang untuk Ibu!" Ucapku.


"Iya Kay. Maafkan Ibu hari lalu sudah memaksakan mu," Lirih Ibuku dengan suara gemetar. Aku tau kalau Ibu sedang menahan air matanya.


"Sudah Bu ga usah di ingat-ingat. Aku sudah memaafkan Ibu," Jawabku.


"Ya sudah. Kamu hati-hati di sana! Jaga diri baik-baik. Doa Ibu selalu untukmu Kay," Tutur Ibuku. Kemudian aku pun mengiyakan ucapan Ibu dan kami pun mengakhiri panggilan telepon.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Malam hari. Setelah menyiapkan makan malam. Aku pun membantu menyuapi Dito. Tetapi seperti ada yang berbeda dengan anak kecil ini. Ia tidak seperti hari-hari biasanya. Saat ku suapi pun tidak berselera. Dan dia sering kali bersin-bersin. Kemudian ku pandangi wajah Dito.


"Dito kenapa? kok makannya ga semangat?" Tanyaku. Membuat Bu Isma menoleh ke arah cucunya.


"Cucu Omah sakit?" Sambung Bu Isma.


Dito pun masih terdiam ia pun menundukkan kepalanya.


"Iya Omah. Kepala Dito pusing" Jawab Dito. Kemudian ku raba kening Dito.


"Dito demam," Ucapku.


"Ya ampun. Tolong ambilkan obatnya penurun demam Kay. Di atas lemari pendingin!" Titah Bu Isma.


"Aku mau di temani Mbak kay. Tidurnya" Ucap Dito. Bu Isma mengangguk ke arahku. Aku pun mengiyakan Ucapan Dito. Tidak lupa aku membantu Bu Isma ke kamarnya. Setelah itu aku masuk ke kamar Dito. Ku usap lembut punggung dan rambutnya. Dengan bersenandung sholawat islami. Lagi-lagi aku meneteskan air-mata. Aku benar-benar tulus menyayangi Dito. Rasanya Iba melihat Dito sekecil ini tidak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya.


Dito pun sudah terlelap. Tak terasa aku juga ikut memejamkan mata di samping Dito. Kami layaknya Ibu dan anak. Aku tidur memeluk tubuh kecil Dito.


Saat malam sudah larut aku terbangun mendengar Dito meracau. Ku raba keningnya, aku pun langsung panik saat mengetahui Dito demam tinggi. Bahkan mulut kecilnya pun menggigil. Kemudian ku langkahkan kaki keluar dari kamar Dito. Berniat membangunkan Bu Isma untuk mengabari keadaan Dito. Ku ketuk pelan kamar Bu Isma kemudian Bu Isma mempersilakan masuk.


"Maaf Bu, Dito demam tinggi. Mulutnya sampai menggigil!" Ucapku. Bu Isma langsung terkejut dan terlihat cemas.


"Bantu Ibu menemui Dito Kay!" Titah Bu Isma. Kemudian setelah membantu memapah Bu Isma ke kursi roda. Aku mendorongnya untuk ke kamar Dito. Tidak lupa Bu Isma meraih ponsel miliknya. Ia berniat menghubungi Mas Agas. Pria itu pun mengangkat telepon dan kemudian langsung mengiyakan perintah Bu Isma untuk segera pulang. Tetapi kantor Mas Agas lumayan jauh. Butuh satu jam perjalanan untuk sampai ke rumah Bu Isma.


"Bu Ini Dito sudah menggigil, kita harus secepatnya membawa Dito ke rumah sakit. Biar Kay bawa Dito pakai taksi Bu!" Ucapku.

__ADS_1


"Ya sudah Kay hati-hati. Nanti biar Ibu telepon Agas agar menyusul ke rumah sakit!' Jawab Bu Isma. Ia begitu terlihat sangat panik bahkan suaranya pun bergetar. Mungkin akibat rasa trauma karena kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Dito.


Setelah mendapatkan persetujuan Bu Isma. Aku pun memesan taksi online lewat aplikasi ponselku. Ku pakaikan jaket menutupi tubuh kecil Dito. Tidak beberapa lama taksi online pun datang. Aku gendong tubuh Dito.


"Ibu kalau perlu apa-apa hubungi aku! " Ucapku saat berlalu dari hadapan Bu Isma. Rasanya khawatir meninggalkan keadaan Bu Isma sendiri di rumah apalagi beliau juga sakit.


Saat sudah menaiki mobil. Supir pun melajukan kendaraannya ke rumah sakit. Aku meminta pak supir agak cepat mengemudikan mobilnya. Beberapa menit di perjalanan kami sampai di rumah sakit. Aku cepat menggendongnya ke ruangan unit gawat darurat. Kemudian Dito langsung di pasang infus untuk di berikan obat oleh perawat. Aku menemani di samping Dito terus karena ia selalu menggenggam tanganku.


"Dito" Sahut Mas Agas baru saja datang. Dan langsung merengkuh tubuh kecil Dito.


"Om!" Dito pun menangis di pelukan Mas Agas.


Aku pun memundurkan sedikit tubuhku. Karena aku takut Mas Agas tidak mau dekat denganku.


"Mbak Kay. Tunggu di luar ya Dito" Ucapku. Dito malah menarik tanganku.


"Mbak Kay di sini saja" Rengek Dito.


Aku pun menatap kepada Mas Agas takut pria itu tidak menyetujui ucapan Dito.


"Kamu di sini saja!" Ucap Mas Agas Datar. Masih seperti hari lalu sedingin kulkas.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bersambung✍️ Next episode selanjutnya mohon dukungannya untuk karyaku lebih baik🌺🌺🌺🌺🌺🌺❤🌹

__ADS_1


__ADS_2