
Satu bulan sudah aku menikah dengan Mas Agas. Suamiku itu tetap masih dengan sikap yang sama. Setiap hari ia bekerja, dan tidak jarang dia pulang larut malam ke rumah. Setelah menikah Ibu menyuruh Mas Agas pulang setiap hari, walau setibanya ia di rumah. Aku sudah tertidur.
Aku belum menjadi istri yang di cintai olehnya. Karena sampai saat ini, Mas Agas belum menyentuhku. Kami belum melalukan kewajiban layaknya sebagai pasangan suami istri. Kami pun tidur terpisah aku di tempat tidur dan Mas Agas di sofa. Bahkan sampai saat ini kami tidak banyak berbicara. Hubungan kami dingin dan hambar. Tetapi Mas Agas melakukan kewajiban lahir untukku, ia memberi nafkah kepadaku. Dengan memberi uang untuk kebutuhanku dan rumah. Walau tanpa banyak bicara ia mengirim langsung ke rekening pribadiku.
hari ini, sepulang mengantar Dito dari sekolah. Aku mengajaknya pergi ke Mall untuk membeli perlengkapan sekolahnya. Sesampainya di Mall kami pun berkeliling. Aku membeli beberapa baju untukku. Serta skincare untuk mempercantik penampilanku. Semua atas arahan mertuaku agar aku terlihat cantik di depan Mas Agas. Setelah selesai membeli semua keperluanku dan juga Dito. Kami pun makan di outlet ayam goreng yang di pinta oleh Dito.
"Hai Sayang!" Ucap wanita yang baru saja datang menghampiri kami. Ia pun duduk di samping Dito. Anak kecil itu terlihat cuek tidak menjawab sapaannya. Wanita itu menatap ke arahku. Dengan tatapan sinis.
"Bagaimana pernikahanmu?" Tanyanya kepadaku.
Aku terdiam. Seperti pernah bertemu wanita ini. Tapi aku lupa di mana?
"Aku harap kamu tidak usah bermimpi. Mas Agas hanya mencintaiku" Selorohnya. Mengembangkan senyum licik.
Mendengar ucapannya. Membuatku ingat kepadanya. Dia adalah wanita yang memeluk Mas Agas malam itu. Wanita yang ada di hadapanku adalah Cantika. Mantan kekasih suamiku.
"Oh, begitu kah? Mantan murahan seperti Mbak? Wanita yang sudah meninggalkan kekasih yang sangat mencintainya. Dan memilih berselingkuh dengan pria lain?" Tukasku. Dengan tatapan sinis. Terhadapnya.
__ADS_1
"Jaga bicaramu! Wanita kampung sepertimu tidak pantas bicara seperti itu terhadapku. Agas akan kembali padaku" Hardiknya.
"Kita lihat saja nanti Mbak Cantika yang terhormat. Mas Agas akan memilih sampah atau berlian yang tersembunyi dari kampung!" Balasku.
Mendengar ucapanku. Membuat ia geram dan mengangkat tangannya ke atas. Ia berniat menamparku. Tetapi Dito dengan cepat menumpahkan minuman ke arah Cantika. Hingga membuat pakaiannya kotor dan bagian depan wanita itu menguning tersiram tumpahan jus jeruk.
"Jangan sakit Aunty ku!" Teriak Dito. Sontak membuat pengunjung yang lain menatap ke arah Cantika. Terlihat Cantika begitu marah dengan wajah yang memerah karena malu.
"Ayo Aunty, Dito sudah selesai!" Ucap Dito.
Aku ingin wanita itu tau. Bahwa Aku tidak selemah yang ada di pikirannya. Aku akan berusaha mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku. Terkecuali Mas Agas sendiri yang meminta aku untuk pergi.
Sesampainya di rumah. Ku lihat mobil Mas Agas sudah terparkir di bagasi. Tidak biasanya Mas Agas pulang siang seperti ini. Kemudian aku dan Dito bergegas masuk ke dalam rumah. Ku salami Ibu mertua dan suamiku yang sedang duduk di sofa tamu.
"Eh, cucu Omah udah pulang? Beli apa sama Aunty?" Tanya Ibu. Membawa Dito ke pangkuannya.
"Dito kesal Omah, tadi Aunty ada yang yang jahatin!" Ucap Dito sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Siapa Sayang?" Jawab Ibu. sembari menatap ke arahku. Sedangkan aku hanya tersenyum saat Ibu menatapku dengan tatapan bertanya.
"Itu Omah, temen Om!" Jawab Dito menatap ke arah Mas Agas. Membuat Mas Agas menghentikan kegiatan memainkan ponsel miliknya.
Sedangkan aku langsung bergegas menaruh belanjaan Dito ke kamarnya. Setelah itu aku pun menaruh belanjaku ke kamar.
Setelah mengganti pakaian dari dalam kamar mandi. Terlihat Mas Agas sudah berada di dalam kamar dan duduk di sofa.
"Apa yang lakukan Cantika kepadamu?" Tanyanya menatap ke arahku.
"Dia memberitahu padaku. Kalau Aku tidak usah berharap untuk di cintai suamiku. Karena suamiku hanya mencintainya!" Sindirku.
Tanpa menunggu Mas Agas menjawab ucapanku. Aku pun bergegas keluar kamar untuk melihat Dito. Biarkan saja Mas Agar berpikir sendiri. Rasanya aku masih segan membicarakan kejadian bertemu Cantika. Karena itu hanya akan membuatku tersulut emosi. Tetapi aku tidak mau Mas Agas tau kalau aku kesal. Aku ingin Mas Agas melihatku biasa saja menanggapi mantan kekasih murahan suamiku itu.
...****************...
Bersambungโ๏ธ๐ Next episode selanjutnya ๐บ๐บ๐บ Mohon dukungannya untuk karyaku lebih baik๐๐๐๐น๐น
__ADS_1