
Sudah satu minggu aku bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Isma. Aku pun merasa betah bekerja di sini. Bu Isma sangat baik memperlakukan aku di rumahnya. Begitu juga dengan Dito, anak laki-laki itu semakin dekat denganku. Aku pun suka dengan Dito. Ia pun begitu menggemaskan.
Rencananya besok Dito akan mulai masuk sekolah taman Kanak-kanak. Dan tugasku untuk mengantar Dito ke sekolah.
Aku pun menikmati pekerjaanku saat ini. Siang ini seperti biasa aku masak untuk makan siang Bu Isma dan Dito. Setelah membereskan rumah.
Di saat aku sedang berkutat di dapur, suara ketukan pintu terdengar. Aku pun langsung bergegas membukakan pintunya.
"Kamu siapa?" Tanya pria yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah ku bukakan pintu. Ia pun menatapku.
Aku pun terdiam mendengar pertanyaannya, bukankah? Seharusnya aku yang bertanya dia siapa? Tiba-tiba masuk tanpa di persilahkan.
"Maaf bukannya aku yang harus bertanya Mas siapa?" Ucapku menatap heran.
"Di tanya kok balik nanya!" Tukasnya dengan wajah datar.
"Om!" Sahut Dito keluar dari kamarnya. Ia pun berlari terhambur memeluk pria itu.
"Hai Boy!" Jawab pria itu. Ia pun mensejajarkan tubuhnya dengan Dito dan membawa anak kecil itu ke pelukannya.
"Om lama pulangnya!" Dito pun melerai pelukan sembari mengerucutkan bibirnya.
"Maafkan Om ya Sayang, Om banyak kerjaan" Tuturnya mengelus rambut Dito.
"Oh, ya Om kenalin ini Mbak Kayla, dia yang urus Dito. Bantuin Omah," Ucap Dito mengembangkan senyum ke arahku
__ADS_1
"Mana Omah Sayang," Tanyanya pada Dito, dia tidak menggubris ucapan Dito.
"Omah di kamar Om!" Jawab Dito. Pria itu pun langsung menggendong Dito menuju kamar Bu Isma.
Aku hanya mengerutkan dahi, melihat sikapnya. Aku pun mulai ingat Bu Isma mengatakan punya satu anak laki- laki ya mungkin itu yang bernama Mas Agas. Dya adalah Bagaskara Yudha. Yang sering di ceritakan Bu Isma padaku.
Setelah ku tutup pintu. Ku balikan langkah ke arah dapur untuk melanjutkan memasak yang sebentar lagi akan beres. Setelah selesai masak aku pun menyiapkan ke meja makan. Kemudian bergegas ke kamar Bu Isma. Berniat memberitahunya.
"Maaf Bu, makan siangnya sudah siap. Ibu mau aku bantu?" Ucapku kepada Bu Isma. Beliau sedang bercengkrama dengan Mas Agas dan Dito.
"Oh ya Kay, sudah kenalkan ini Agas putra Ibu!" Ucap Bu Isma memperkenalkan Mas Agas. Pria itu pun sedang duduk di samping Bu Isma memangku Dito.
"Ya sudah Dito Om mau membersihkan diri dulu ya Sayang!" Ucap Mas Agas menurunkan Dito. Lagi-lagi dia tidak menggubris bila membahas tentangku. Ia pun berlalu meninggalkan kamar Bu Isma.
"Maafin Agas ya Kay, dia orangnya gitu kalau sama orang baru. Tetapi sebenarnya dia baik kok," Ucap Bu Isma tidak enak hati padaku.
"Akh, tidak apa-apa kok Bu," Jawabku. Kemudian membantu Bu Isma untuk ke meja makan.
"Mbak Kay kesini!" Dito memanggilku. Aku pun mensejajarkan tubuhku dengan Dito.
"Kenapa Dito?" Tanyaku.
"Mbak Kay, Om itu sebenarnya baik. Cuma kaya...!" Bisik Dito sembari mengangkat jari-jarinya memeragakan harimau yang sedang menerkam.
Aku pun terkekeh mendengar ucapan Dito. "Ayo Dito, Omah sudah menunggu di meja makan!" Ajakku. Ia pun langsung menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Kenapa Kay?" Tanya Bu Isma. Tersenyum kepadaku.
"Oh, tidak apa-apa Bu," Jawabku.
Kemudian aku membantu menyuapi Dito makan. Dito selalu ingin di suapi olehku. Mungkin karena ia rindu akan kasih sayang kedua orangtuanya. Saat kami di meja makan Mas Agas pun turun dari kamarnya. Kamar Mas Agas berada di lantai atas rumahnya.
"Ayo Gas, makan dulu!" Titah Bu Isma saat melihat putranya berjalan menuruni anak tangga.
Mas Agas pun mendaratkan bokongnya di meja makan. Aku membantu membukakan piring untuknya.
"Aku bisa sendiri!" Tukasnya saat tanganku hendak membukakan piring di depannya.
Aku pun kembali menarik tanganku dan melanjutkan menyuapi Dito.
"Masakan Mbak Kay, enak lho Om" Ucap Dito.
"Dito besok sudah siap mau sekolah?" Ucapnya. Lagi-lagi tidak menggubris ucapan Dito.
Aku pun menatap heran mengapa sikapnya seperti itu. Dingin seperti kulkas bila dengan orang baru. Apa dia tidak menyukai jika aku bekerja di sini? Tapi apa alasannya? padahal bertemu juga baru kali ini. Apa salahku? Benar-benar aneh sikap Mas Agas ini. Mungkin aku harus lebih bersabar menanggapi majikanku yang satu ini.
Setelah selesai makan. Aku membereskan piring dan mencucinya. Sedangkan Bu Isma, Dito dan Mas Agas bercengkrama di ruang tamu. Tetapi aku memilih merebahkan diri ke kamar dari pada harus mendapat tatapan tidak mengenakan dari Mas Agas. Lagipula aku sudah membereskan semua pekerjaanku.
...****************...
Next episode selanjutnya โ๏ธ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บmohon dukungannya untuk karyaku lebih baik. ๐น๐น๐น๐น
__ADS_1