Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Wanita ular.


__ADS_3

"Kay, nanti pulang sekalian Ibu titip bibit bunga anggrek. Di toko Bungaku yang biasa sudah langganan," ucap Ibu saat aku bersiap mengantar Dito ke sekolah. Ibu mertuaku memang senang menghias pekarangan rumah dengan bermacam bunga. Karena kata beliau rumah terasa hidup jika ada tanaman.


"Baik Bu! Apa, ada lagi yang Ibu mau titip?" Tanyaku.


"Tidak ada Kay. Sudah itu saja!" Ucap Ibu.


"Ya sudah. Aku pamit ya Bu!" Aku pun berlalu dari hadapan Ibu. Untuk mengantarkan sekolah Dito. Anak kecil itu sudah menungguku di teras rumah.


Sedangkan Mas Agas. Masih belum terlihat pulang hingga saat ini. Mungkin dia memilih langsung bekerja ke kantor. Aku juga tidak menelepon untuk menanyakan dimana keberadaannya. Biarlah Mas Agas dengan kemauannya. Biarkan dia sesuka hatinya. Merasa benar dengan apa yang dia lakukan.


Aku melajukan motor matic yang biasa ku gunakan. Dito memilih ku bonceng di belakang. Anak kecil itu selalu menggemaskan. Sambil memeluk erat tubuhku. Ia pun berceloteh riang.


Setibanya di depan sekolah Dito. Ku tepikan sepeda motor. Kemudian mengantar Dito sampai ke depan kelas. Sekarang Dito sudah mengerti dan tidak harus di tunggu sampai pulang. Hanya di antar, lalu sudah waktu pulang, di jemput kembali.


Aku langsung kembali bergegas menaiki sepeda motor. Untuk membeli titipan Ibu. Membeli bibit anggrek di toko bunga, yang kebetulan tidak begitu jauh dari sekolah Dito.


Setibanya di toko bunga. Aku pun memilih bibit anggrek di temani pelayan toko tersebut.


"Mau beli berapa Kak. Bibit anggreknya?" Tanya pelayan toko.


"Dua saja Mas. Sama, sekalian bunga mawar yang ini," Jawabku. Sambil menunjukkan bunga mawar merah. Aku suka melihatnya. Dan berniat untuk membelinya.


"Baik Kak. Ada lagi?"


"Sudah cukup. Mas!"

__ADS_1


Setelah mendapatkan titipan Ibu dan membeli satu pohon bunga mawar. Aku pun membayarnya ke kasir.


"Kay!" Sahut Dika yang sedang duduk di kursi toko. Ia pun kemudian bergegas menghampiriku.


"Eh, Dika! lagi beli tanaman juga?" Tanyaku.


"Tidak Kay. Aku lagi jaga toko" Jawabnya.


"Oh, kamu kerja di sini Dik?"


"Kebetulan ini toko milikku Kay. Usaha kecil-kecilan, biar bisa hidup di Ibukota," ucap Dika. Dia merendahkan diri. Padahal setahuku toko bunga milik Dika begitu sangat besar.


"Hebat kamu Dik. Udah jadi Bos," jawabku.


"Bisa aja kamu Kay, oh ya mau beli apa ke sini?"


"Ambil lagi yang kamu suka Kay! Gratis. Anggap aja aku traktir!" Pinta Dika.


"Ah, sudah Dik. Terimakasih ini juga cukup, lain kali saja," sanggah ku.


"Sini ku bawakan sampai depan!" Tawar Dika kepadaku. Aku pun memberikan apa yang ku beli. Kami pun jalan beriringan sampai ke depan toko.


"Makasih ya Dik!" Ucapku.


"Iya, sama-sama Kay!"

__ADS_1


Terlihat dari depan Cantika menghampiriku. Entah dari mana datangnya. Tiba-tiba wanita ini ada di hadapanku. Malas rasanya bertemu dengannya.


"Wih, Ternyata di balik keluguannya buas juga ya! Sebetulnya yang murah aku atau kamu sih? Udah punya suami kok ketemuan dengan pria lain" Fitnah Cantika menarik sudut bibirnya.


Sungguh hari yang sial untukku. Kemarin Mas Agas. Sekarang mantan kekasihnya. Aku pun menarik napas panjang, untuk mengontrol emosi berhadapan dengan wanita ular ini.


"Lalu apa urusanmu?" Hardikku.


Dika hanya terdiam melihat kedatangan wanita ini. Mungkin temanku ini masih mencerna, apa yang di katakan Cantika kepadaku.


"Tentu menjadi urusanku. Karena kau telah membohongi Agas," jawabnya. Membuat aku terkekeh mendengarnya.


"Membohongi? Tau apa kau tentang hidupku" Tukasku.


"Oh ya, aku lupa mengucapkan terimakasih untukmu Cantika. Karena setelah kau menjebak suamiku dengan cara tidak bermutu itu. Berhasil membuat Mas Agas semakin mantap malam itu bersamaku" Sambung ku. Tidak lupa ku layangkan senyum kemenangan kepadanya.


Wajahnya Cantika memerah. Setelah mendengar ucapan ku. Aku sengaja mengatakan itu untuk membuat wanita ini malu.


"Ku pastikan Agas menyesal telah memilih wanita kampungan sepertimu, bersiaplah untuk menjadi janda sepertiku" Geramnya kepadaku lalu tanpa mendengar jawabanku. Ia pun berlalu dari hadapanku dan Dika. Terlihat wajahnya menggambarkan amarah yang begitu membara kepadaku.


"Siapa dia Kay?" Tanya Dika. Yang dari tadi diam memperhatikan aku dan Cantika. Dengan wajah bertanya-tanya.


"Mantan kekasih suamiku Dik! Ya sudah aku pamit ya! Mau jemput keponakanku. Takut dia sudah menunggu" Jawabku. Tidak banyak membahas masalahku dengan Cantika. Dika pun mengiyakan perkataan ku. Aku bergegas berlalu dari hadapannya. Dan menaiki sepeda motor milikku untuk kembali menjemput kembali Dito ke sekolahnya.


...****************...

__ADS_1


Bersambung ✍️🌿🌿🌿👋 Mohon dukungannya ya reader. Untuk karya ini lebih baik❤🙏🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2