
Agas.
Satu minggu telah berlalu. Setelah Ibu meminta agar aku menikah dengan Kayla. Ibu langsung menanyakan pada Kayla, tentang permintaannya menikah denganku. Awalnya gadis itu menolak. Tetapi Ibu terus meyakinkannya agar mau menyetujuinya. Begitu juga dengan Dito. Ia sangat senang saat Omahnya memberitahu Kayla akan menjadi Auntynya.
Gadis itu pun sudah mengabari orang-tuanya. Dan Ibu sudah melamar Kayla lewat sambungan telepon. Karena keadaan Ibu yang tidak memungkinkan pernikahan pun akan di gelar di rumah kami. Orangtua Kayla pun menyetujuinya. Pernikahan akan di laksanakan dua hari mendatang, dengan acara pernikahan saja. Hanya mengundang kerabat dekat dan saksi. Pernikahan sudah begitu dekat. Sedangkan aku belum bersiap apapun. Tidak ada obrolan antara aku dan Kayla. Semua atas arahan Ibu. Entah bagaimana pernikahanku setelah ini. Perasaanku masih tidak menentu. Semua Ibu yang mempersiapkan mulai dari seserahan sampai mas kawin.
Hari ini Ibu meminta aku untuk pulang. Karena orang-tua Kayla akan datang siang ini. Aku pun langsung bergegas menuju rumah Ibu. Sesampainya di rumah Ibu, aku langsung memarkirkan mobil di bagasi. Kemudian menemui Ibu yang sedang mengobrol bersama Kayla. Di ruang tamu, mereka sedang menunggu kedatangan orang-tua Kayla.
"Bu," Ku cium punggung tangannya dan duduk di samping Ibu. Sedangkan Kayla terlihat masih segan terhadapku.
"Gas, orang -tua Kayla sudah di perjalanan mungkin sebentar lagi sampai" Ucap Ibu.
"Iya Bu" Jawabku.
"Kemana Dito Bu?" Sambung ku . Karena aku tidak melihat Dito menyambutku.
"Dito sekolah kan Gas! Ibu meminta Bi Sum mengantar Dito," Jawab Ibu.
"Mas Agas mau aku buatkan kopi?" Sambung Kayla. Gadis itu masih terlihat segan terhadapku. Mungkin karena aku masih bersifat dingin terhadapnya.
"Tidak usah," Jawabku. Aku pun berdiri. Bangkit dari duduk untuk bergegas ke kamar.
__ADS_1
Setelah satu jam berlalu akhirnya keluarga Kayla datang. Orang tuanya, hanya membawa beberapa Saudaranya dari rumah. Pakde bude, beserta adiknya.
Aku pun menyambut kedatangan mereka. Aku mencoba bersikap sewajarnya sebagai seorang calon menantu. Aku tidak mau jika orang-tua Kayla tahu sikapku pada anak gadisnya. Pasti membuat mereka tidak menyetujui menikahkan putrinya denganku. Yang nantinya membuat Ibu sedih.
"Mari masuk Pak, Bu!" Ucapku saat keluarga Kayla baru datang.
"Oh, ini Nak Agas? Calon suaminya Kayla? Tampannya!" Ucap Bude Ika yang sudah berkenalan denganku.
"Iya Bude" Jawabku mengembangkan senyum
Kami pun bercengkrama. Satu sama lainnya di ruang tamu. Kayla yang di bantu Bi Sum menyiapkan makanan untuk mereka. Sikapku pun pada Kayla tidak seperti biasanya jika di hadapan orang- tuanya. Aku mencoba ramah dan terlihat mencintai putrinya.
Dua hari berlalu, pernikahan akan di laksanakan hari ini. Penghulu pun sudah datang, untuk menikahkan aku dan Kayla. Seperti sedang bermimpi kalau aku akan melepas masa perjakaku.
"Ananda Bagaskara Yudha bin Didi Irawan Yudha . Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Nindiya Mikayla Putri Binti Retnanto Wahab. Dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 20 gram di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nindya Mikayla Putri binti Retnanto Wahab dengan mas kawin tersebut tunai!" Aku dengan satu tarikan napas mengucapkan ijab kabul. Kemudian kami pun menandatangani berkas janji pra pernikahan. Setelah itu sungkem kepada orang tua. Terlihat Ibu sudah terisak. Aku pun menghampirinya. Ku cium punggung tangannya.
"Sayangi istrimu Gas! Jika kamu menyakitinya berarti kamu menyakiti hati Ibu" Ucap Ibu sembari memeluku.
Aku pun mengiyakan ucapan Ibu ku lihat Dito yang menatap ke arahku sambil tersenyum. Ku hampiri keponakanku itu. Dia langsung memeluk tubuhku kemudian berbisik.
__ADS_1
"Dito mau punya Adik ya Om," Ucapnya.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Adik pikirku. Entah aku akan menyentuh Kayla atau tidak. Aku pun tidak tahu pernikahan kami setelah ini.
Acara pun selesai. Esok harinya keluarga Kayla. Pamit untuk pulang.
"Nak Agas titip Kayla ya! Sayangi dia seperti Bapak yang menyayanginya" Ucap Bapak Retnanto yang kini telah menjadi mertuaku.
"Baik Pak!" Ucapku mengiyakan ucapannya. Setelah kepergian mereka aku pun bersantai sejenak di teras rumah menunggu kepulangan Dito. Aku masih asing bersama Kayla. apalagi sekarang dia sudah menjadi istriku. Aku harus satu kamar dengannya.
"Gas!" Sapa Bude Tri yang baru datang, dan langsung duduk di bangku sampingku.
"Kenapa Bude?" Tanyaku.
"Oalah Gas. Kamu tuh ya! Seperti kehabisan wanita saja memperistri pembantu" Ucap Bude dengan mulut yang di majukan. Memang wanita itu kerap kali menjodohkan ku dengan kerabat menantunya.
"Jodoh Bude! Mau di apakan?" Tukas ku.
"Ya sudahlah" Jawabnya pergi dari hadapanku.
Aku pun termenung menatap depan rumah. Pikiranku masih tak menentu. Tetapi semua harus ku jalani untuk kebahagiaan Ibu dan juga Dito. Aku tidak mau membuat mereka kecewa.
__ADS_1
******************************
Bersambung ✍️👋 Next episode selanjutnya 🌺🌺🌺🌺 Mohon dukungannya untuk karya ini lebih baik❤🌺🌺🌺🌺🌺🌺