Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Awal yang menyakitkan


__ADS_3

Aku termenung memikirkan nasib pernikahanku dengan Mas Agas. Apakah dia mau belajar mencintaiku. Seperti yang di perintahkan Bu Isma. Majikan ku yang sekarang menjadi mertuaku. Ia selalu berusaha meyakinkan bahwa Mas Agas akan mencintaiku seiring berjalannya waktu. Tetapi pikiranku menolak. Rasanya tidak mungkin Mas Agas mencintaiku.


Setelah membersihkan diri aku bergegas memasak untuk makan malam. Walau Ibu melarang dengan alasan akan mencari asisten rumah tangga baru. Aku pun menolak, tidak perlu Ibu menggantikan pekerjaan aku dengan orang lain. Karena aku akan terus menjalani pekerjaan ini. Termasuk mengurus dan mengantarkan Dito ke sekolah. Walau sekarang, aku sudah menjadi istri Mas Agas. Biarlah tanganku sendiri yang akan mengurus kebutuhan Ibu dan Dito. Karena aku tulus menyayangi mereka.


Saat aku menuruni anak tangga. Terlihat Ibu dan Dito sedang bersantai di ruang televisi.


"Aunty! " Sahut Dito berlari ke arahku.


"Sebentar ya Aunty masak dulu untuk Omah dan Dito!" Ucapku. Dito pun menganggukkan kepalanya.


"Kay, Agas sedang ke kantor tadi pamit sama Ibu!" Sambung Ibu. Pantas saja dari siang Mas Agas tidak ada ke kamar. Entahlah? mungkin Mas Agas masih asing sekamar denganku.


"Iya Bu," Jawabku. Kemudian ku langkahkan ke dapur untuk memasak. Tidak beberapa lama aku pun menyelesaikan masakanku. Dan membantu Ibu ke meja makan serta menyuapi Dito. Aku tidak menunggu Mas Agas untuk makan. Lagi pula aku juga tidak tahu dia sedang apa? Mungkin saja sudah makan di luar sana.


Tidak beberapa lama suara mobil Mas Agas terdengar. Tetapi suamiku itu tidak ada juga masuk ke dalam rumah. Ku lihat ia masih duduk di depan teras. Aku pun berinisiatif untuk membuatkan kopi untuknya. Karena bila ku tawari dia selalu menolak.


Setelah dari dapur membuat kopi. Aku bergegas mengantarkan kopi kepadanya. Sesampainya di depan pintu. Aku melihat pemandangan yang cukup menyakitkan hati. Mas Agas sedang di peluk oleh seorang wanita. Aku pun memajukan langkahku. Aku tidak mau terlihat lemah.


"Maaf, Mas ini aku buatkan kopi! Oh, kirain tidak ada tamu. Bawa masuk kesini Mas! Biar ku buatkan minum untuknya!" Sindirku dengan suara meninggi. Membuat Mas Agas menoleh ke arahku dan cepat melerai mencoba melepaskan pelukan wanita itu.


"Oh, jadi itu istri barumu Mas? Seloroh Wanita di hadapan Mas Agas menatapku dengan tidak suka.

__ADS_1


Aku pun tidak menghiraukan ucapan wanita itu. Ku letakan kopi di meja teras. Ku langkahkan kaki menaiki anak tangga menuju ke kamar. Untung saja Ibu dan Dito sudah berada di kamarnya.


Aku membaringkan tubuh di tempat tidur membelakangi pintu. Tangisku pun pecah rasanya kenapa sakit melihat Mas Agas di peluk wanita lain? Aku tersadar dan menghentikan tangisku. Saat terdengar pintu kamar terbuka.


"Tidak perlu berpikir macam-macam wanita itu bukan siapa-siapa bagiku" Ucap Mas Agas. Nada bicaranya pun seperti biasa datar.


"Sekarang kita memang suami istri. Tetapi, aku tidak mau kamu mencampuri urusanku" Seloroh Mas Agas.


Aku pun bangkit dari pembaringanku. Saat aku mendengar ucapannya. Lalu ku tatap Mas Agas yang sudah bersiap tidur di sofa.


"Maksud mu? Mencampuri urusanmu dengan wanita lain? Lalu apa di sini setatusku Mas Agas? Pembantu kah? Kenapa kamu menikahiku? Hardikku. Penuh penekanan kepada Mas Agas.


Mas Agas terdiam. Ia seperti menatapku heran atau bingung entahlah. Tanpa menjawab pertanyaanku. Lelaki yang sekarang menjadi suamiku itu membaringkan tubuhnya membelakangiku di sofa. Aku bangkit dan bergegas menuruni anak tangga. Aku pun berniat tidur di kamar yang terdahulu, kamar pembantu yang di tempati olehku saat aku baru datang ke rumah ini. Aku ingin sendiri menenangkan keadaanku.


🌱🌱🌱🌱


Pagi harinya, seperti biasa aku melaksanakan kewajibanku. Memasak untuk sarapan, walau rasanya kepalaku pening bahkan mataku sedikit membesar akibat menangis semalam. Aku pun membantu Ibu ke meja makan dan menyuapi Dito. Mas Agas pun ikut sarapan bersama kami dengan sikap seperti biasa tanpa banyak bicara.


"Dito sudah selesai? Kalau sudah tunggu Aunty ya di teras"! Titah Bu Isma kepada Dito dan anak kecil itu mengiyakan ucapan Omahnya.


"Kamu kenapa Kay?" Tanya Ibu menatap ke arahku. Mendengar pertanyaan Ibu, sontak Mas agas menghentikan makannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu! Aku sedikit tidak enak badan," Ucapku berbohong.


"Tidak usah menutupinya Kay! Agas menyakitimu? Hardik Ibu menatap tajam ke arah Mas Agas. sedangkan suamiku hanya tertunduk tidak sama sekali membela diri.


Aku pun terdiam mendengar ucapan Ibu. Aku tidak tahu mengapa? Ibu mengetahui permasalahanku semalam dengan Mas Agas?


"Kamu menyakiti hati Ibu Gas!" Ucap Ibu menatap pilu terhadap Mas Agas.


"Iya Bu, aku minta maaf!" Ucap Mas Agas.


"Minta maaflah kepada istrimu!" Titah Bu Isma.


"Aku minta maaf Kay, aku telah menyakitimu!" Ucap Mas Agas.


Aku pun hanya mengangguk. Tidak mengeluarkan suara, aku tidak tahu Mas Agas tulus meminta maaf karena menyadari kesalahannya atau hanya tidak mau membantah Ibunya. Selama ini memang Mas Agas terlihat menyayangi Ibunya. Dan tidak pernah membantah ucapan Ibunya.


"Aunty" Teriak Dito dari teras. Aku lupa anak kecil itu sudah menunggu kedatanganku dari tadi.


"Aku berangkat ya Bu!" Pamitku Dan mencium punggung tangan Ibu. Aku pun melakukan hal yang sama pada Mas Agas. Tanpa mengeluarkan kata ku raih tangannya. Untuk mencium punggung tangan pria yang kini telah menjadi suamiku. Aku tetap bersikap baik, karena ridho suami adalah ridho Allah. Setelah itu Aku pun bergegas mengantarkan Dito ke sekolah.


...****************...

__ADS_1


Next episode selanjutnya🙏🌺🌺🌺✍️✍️Mohon dukungannya untuk karya ini lebih baik❤🙏Dan terimakasih untuk yang sudah mampir🙏❤ Salam hangat dariku Rahellya Sella Hidayat.🥰


__ADS_2