Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Keputusan ku


__ADS_3

Pagi pun menjelang, aku bangun dari tidurku rutinitas seperti biasa, aku membantu Ibu menyiapkan kebutuhan jualan kue basahnya. Setelah selesai Bapak dan adik bungsuku menitipkannya ke warung- warung tetangga. Kami tidak punya modal untuk membuka kios. Tetapi aku juga sering membantu memposting dagangan Ibuku melalui online.


Siang ini setelah membantu Ib di rumah, aku berniat mendatangi Tika ke rumahnya. Tika adalah teman kecilku sekarang ia merantau kerja ke ibukota, aku pun berniat mengikuti jejaknya agar bisa membantu perekonomian keluargaku.


Ku langkahkan kaki menuju rumah Tika yang tidak begitu jauh dari rumahku. Tak beberapa lama, aku pun sampai di rumahnya.


"Assalamu'alaikum" Ku ucapkan salam saat menapaki kakiku di rumahnya.


"Wa alaikum salam" Bu Tini menjawab salam dari dalam rumahnya menghampiriku.


"Eh Kayla, masuk Kay!" Titahnya sambil tersenyum ramah padaku.


"Iya Bu, di luar saja. Mau ada perlu sebentar sama Ibu!" Ucapku.


"Oh, begitu silahkan duduk!" Bu Tini mempersilahkan ku duduk.


Kami pun duduk di depan teras, dan aku memulai pembicaraan.


"Gimana kabar Tika Bu?"


"Tika alhamdulillah, baik Kay! Bulan depan dia baru bisa pulang katanya" Ucap Bu Tini.


"Oh, begitu ya Bu. Maaf Bu aku boleh minta nomer telepon Tika? Aku mau menanyakan lowongan pekerjaan di sana, barangkali ada," Ujar ku pada Bu Tini.


"Oh, boleh Kay. Sebentar Ibu ambil ponsel dulu!" Ucap Bu Tini. Kemudian ia pun masuk ke dalam rumahnya. Aku pun menunggu di luar.

__ADS_1


"Ini Kay, nomer teleponnya!" Bu Tini pun memberikan nomer telepon Tika kemudian aku langsung simpan di ponselku.


"Terimakasih Bu!"


"Mudah-mudahan ada pekerjaan untuk kamu di sana Kay, sulit cari pekerjaan di sini." Ucap Bu Tini mendoakan ku.


"Iya Bu amin, terimakasih kalau begitu aku mohon pamit" Ucapku bangkit dari duduk


"Iya Kay, Sama-sama!" Tutur Bu Tini. Wanita paruh baya itu memang selalu ramah padaku.


Kemudian aku pun, melangkah kembali menuju rumahku. Sesampainya di rumah, seperti biasa aku pun duduk di teras depan sambil menikmati cuaca mendung sepertinya akan turun hujan. Aku berniat menghubungi Tika selepas magrib, karena takut mengganggu saat ia sedang bekerja.


Selepas magrib aku mencoba menghubungi Tika, kubuka layar ponselku dan menekan nama Tika untuk melakukan panggilan telepon. Tidak beberapa lama Tika pun mengangkat telepon dariku.


"Halo!" Sapa Tika.


"Hey Kayla?" Ucapnya.


"Tika bagaimana kabarmu?" Tanyaku.


"Aku alhamdulillah baik Kayla," Jawabnya.


"Tik, apa di tempatmu bekerja ada lowongan pekerjaan?"


"Kamu mau merantau ke kota Kay?" Tanya Tika.

__ADS_1


"Iya, di sini aku sulit mendapatkan pekerjaan,"


"Ya sudah kamu kesini saja dulu! Kebetulan di tempat kerjaku! Ada toko baru sepertinya akan membutuhkan karyawan" Ucapnya.


"Ya sudah kamu kirim saja alamat mu Tik, nanti kalau lusa aku jadi berangkat, nanti aku kabari! Kalau begitu terimakasih ya Tik!" Ucapku.


"Oke, sama-sama Kay," Kami pun mengakhiri panggilan telepon.


Aku sangat senang mendengar ucapan Tika kalau ada lowongan pekerjaan di sana. Tetapi aku bingung sedangkan aku hanya punya uang 50 ribu di dompetku. Bagaimana aku bisa sampai ke kota? Tidak mungkin meminta pada Ibuku, pasti jawabannya pun tidak ada. Aku pun berniat meminjam kepada Adik Laki-lakiku mudah-mudah saja ia masih memiliki simpanan.


Aku pun mencoba menanyakan pada Adik laki-lakiku. syukurlah ia pun bersedia meminjamkan uangnya. Walau hanya seratus ribu. Tidak apalah, yang penting cukup untuk aku sampai ke kota.


"Bu besok aku mau ke kota," Ucapku saat Ibu sedang merapihkan kue yang baru ia buat.


"Terserah Kay, Ibu tidak bisa melarang. Kalaupun ibu larang pasti kamu tetap pergi," Dari nada bicara Ibuku. Sepertinya ia masih kecewa padaku. Karena aku tidak mau menikah dengan Pak Permadi.


"Kamu yakin Kay?" Sambung Bapakku yang baru selesai shalat.


"Iya Pak, mau nyusul Tika. Katanya di sana ada lowongan pekerjaan. Di sini susah cari kerja Pak," Jawabku.


"Ya sudah kalau kamu sudah yakin? Bapak hanya bisa mendoakan mu. Jaga diri baik baik di kota orang!" Bapak menarik napas panjang seakan-akan berat untuk memberi izin padaku.


"Ya Pak," Jawabku.


Kemudian aku bergegas kembali ke kamarku menyiapkan segala sesuatu yang perlu aku bawa esok.

__ADS_1


...****************...


Mohon dukungannya untuk karyaku untuk lebih baik kedepannya πŸ™πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊ


__ADS_2