Catatan Harian Kayla

Catatan Harian Kayla
Apa dia sudah mulai mencintai ku?


__ADS_3

Mas Agas. Sudah membaik dan di perbolehkan pulang oleh Dokter yang merawatnya. Aku membantu mengurus administrasi untuk kepulangan Mas Agas. Seusai semua beres. Kami pun bergegas meninggalkan rumah sakit. Dengan menggunakan taksi online. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan antara aku dan Mas Agas. Kami sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Selang beberapa lama, kami pun sampai di rumah. Namun, Terdengar suara orang sedang bercengkrama dari dalam rumah.


"Ibu!" Sahutku. Terlihat Ibuku sedang duduk di sofa bersama Bapak. Aku langsung menghampiri mereka. Dan mencium punggung tangan kedua orang tuaku. Mas Agas pun melakukan hal yang sama, mengekor di belakangku.


"Kay, maafkan Ibu. Tidak mengabari kalau mau ke sini, gimana kabar Nak Agas. Sudah membaik?" Tanya Ibu.


"Sudah Bu!" Jawab Mas Agas. Suamiku kembali melihatkan kemesraannya kepadaku, di hadapan orang tuaku, sungguh aneh.


"Iya, Kay. Bapak sama Ibu, baru saja sampai. Maafkan kami tidak tahu Nak Agas sedang sakit!" Sambung Bapak.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Lagi pula Saya sudah sembuh!" Jawab Mas Agas.


"Syukurlah Nak! Bapak senang mendengarnya," Ucap Bapak.


Sedangkan Ibu mertuaku terlihat begitu ramah menyambut kedatangan orangtuaku.


"Kay, maksud kedatangan Ibu dan Bapak, mau mengabari. Kalau Bude Ika, mau mengadakan pernikahan anak nya, Mitta. Minggu depan! Ibu harap kamu dan Nak Agas juga Bu Isma bisa datang. Kan belum sama sekali ke gubuk kita ya Pak!" Ucap Ibu. Menoleh ke arah Bapak.


"Iya Bu Isma, itu juga kalau tidak keberatan!" Sambung Bapak mengembangkan senyum ke arah Ibu mertua.


"Baik Pak. Mudah-mudahan kami bisa datang!" Jawab Ibu mertuaku.


Kami pun berbincang-bincang, terlihat Ibu mertuaku. Sangat menghargai orang tuaku. Walau pun kami tergolong orang tidak punya.

__ADS_1


"Mas istirahat saja dulu!" Titah ku. karena keadaan Mas Agas. Belum begitu pulih.


Mas Agas pun. Mengiyakan perintahku, aku pun beranjak untuk menaruh tas berisi pakaian kotor ke tempat dimana Bi sum biasa mencuci. Kemudian aku bergegas menaiki anak tangga. Untuk mengganti pakaian. Terlihat Mas Agas sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Aku langsung mengambil pakaian di lemari. Dan menggantinya di kamar mandi. Setelah itu. Aku berniat turun untuk membantu Bi Emi, menyiapkan makan siang .


"Kay, terimakasih sudah mau bersabar menghadapiku," ucap Mas Agas. Menggenggam tanganku. Saat aku hendak mengambil ponsel di atas nakas.


"Itu sudah kewajiban ku sebagai seorang istri Mas!" Jawabku.


"Aku juga minta maaf telah banyak membuat mu menangis," Tutur Mas Agas.


"Iya, Mas. Aku selalu mencoba memaafkan siapa saja yang telah menyakitiku. Sekarang tolong lepaskan tanganku! Aku mau membantu Bi Sum memasak" Titah ku.


"Oh, Maaf!" Ucap Mas Agas. Melepaskan genggaman nya, terlihat salah tingkah.


Aku pun berlalu dari hadapan Mas Agas. Ada rasa bahagia yang ku rasakan. Saat mendapatkan perlakuan dari suami dinginku. Apa dia mulai mencintaiku? Ku tepis semua praduga di dalam hati. Takut menambah kekecewaan jika semua itu hanya ilusi. Aku pun bergegas menuruni anak tangga menuju dapur. Sedangkan orang tuaku masih begitu asik bercengkrama dengan Ibu mertuaku.


"Dito kangen sama Aunty!" Sambungnya. Tiga hari di rumah sakit, membuat aku tidak bertemu anak kecil menggemaskan ini.


"Aunty, juga kangen banget sama pangeran kecil ini" Jawabku. Mencium pucuk keningnya.


"Kata Mbah Kung, minggu depan Dito mau ke rumah Aunty ya!" Tanya Dito. Mbah Kung adalah panggilan Dito kepada Bapak.


"Iya, Sayang. Dito mau?" Tanyaku balik.


"Mau, Aunty. Yeay.. Yeay. Kata Mbah Kung, di sana banyak kerbau ya?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Sekarang Dito tunggu Aunty ya sama Mbah Kung, Aunty mau bantu Bi Emi masak dulu. Buat makan siang!" Titah ku.


Dito pun mengiyakan ucapanku. Kemudian aku pun melanjutkan memasak bersama Bi Emi. Hingga beberapa saat, makan siang pun sudah siap ku sajikan. Aku langsung membantu Ibu mertuaku untuk ke meja makan, dan mengajak orang tuaku. Terlihat Mas Agas. Menuruni anak tangga, untuk makan siang bersama kami. Sikap Mas Agas sangat hangat kepadaku. Atau mungkin hanya di depan orang tuaku. Atau Mas Agas sudah berubah? Entahlah hanya dirinya yang mengetahui itu semua.


Ibu dan Bapak berniat untuk menginap satu malam di sini. Esok pagi mereka baru akan pulang kembali ke Semarang. Setelah menunjukan kamar tamu. Untuk orang tuaku. Aku pun bergegas ke kamar. Rasanya lelah setelah tiga malam menginap di rumah sakit.


Sesampainya di kamar, terlihat Mas Agas sudah terlelap di atas tempat tidur. Aku menatap heran, tidak biasanya dia tidur di ranjang. Karena selama empat bulan pernikahan ia selalu tidur di sofa, apa karena tubuhnya belum pulih benar? Pikirku. Aku pun langsung mengambil bantal untuk tidur di atas sofa, yang biasa di tiduri Mas Agas. Aku takut bila dia tidak mau tidur denganku.


"Tidur lah di sini Kay! Aku tidak akan mengganggumu" Ucap Mas Agas, membuka kedua matanya.


"Biar aku tidur di sofa Mas, tak apa!" Jawabku.


Mas Agas pun menatapku. Kemudian mengambil bantal guling untuk di jadikan pembatas di tengah antara aku dan Mas Agas.


"Aku tidak akan melewati pembatas ku, jadi aku tidak akan menggangu," ucapnya.


Tanpa banyak bicara, aku pun mengiyakan ucapan Mas Agas. Untuk tidur di sampingnya. Dengan pembatas di tengah antara kami. Mas Agas terlihat sudah terlelap. Tetapi, entah mengapa mataku enggan terpejam. Apa baru kali pertama aku tidur dengan seorang suami di sampingku. Pandanganku sesekali kepada wajah Mas Agas, yang sedang terlelap ke arahku. Ku tatap lekat wajahnya yang begitu damai. Tampan satu kata yang terlontar dari hatiku. Apa mungkin dia bisa mencintaiku?


Setelah bergelut dengan pikiranku sendiri, aku pun terbuai ke alam mimpi hingga pagi menjelang. Aku merasakan hangat menyelimuti tubuhku. Tetapi sedikit berat di atas perutku. Saat aku mulai membuka mata, aku terkejut saat tangan Mas Agas melingkar di atas perutku. Wajahku dan Mas Agas pun berdekatan bahkan dia dengan erat memelukku, pembatas antara kami pun entah kemana?


Aku mencoba memindahkan tangan Mas Agas yang begitu erat hingga sulit. Ku geser tangan kekar nya pun begitu sulit. Kemudian Mas Agas membuka matanya mungkin karena gerakanku, untuk melepaskan pelukannya membuat dia terbangun.


"Maaf, Kay. Aku tidak sengaja!" Ucapnya. Saat ia menyadari memeluk tubuhku. Kemudian Mas Agas dengan cepat melerai pelukan. Aku pun beranjak dari tempat tidur. Dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri berniat untuk shalat subuh. Aku tersenyum sendiri mengingat wajah Mas Agas yang salah tingkah. Dengan kejadian barusan di tempat tidur.


...****************...

__ADS_1


Next episode selanjutnya โœ๏ธ๐Ÿ‘‹๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ Mohon dukungannya Readers... untuk karyaku lebih baik๐Ÿ™๐ŸŒนโค


__ADS_2