
"Mbak Kay, enak lho masakannya Omah," Ucap Dito saat selesai menyantap habis makanannya di meja makan. Anak laki- laki berusia lima tahun itu mengangkat Ibu jarinya.
"Dito senang?" Tanya Bu Isma sembari mengusap kepala Dito.
"Ya, Omah!" Jawabnya. Sambil bergegas ke dalam kamarnya. Sepertinya ia mengantuk.
"Terimakasih ya Kay," Bu Isma mengembangkan senyum.
"Iya sama-sama Bu, ini kan memang tugasku," Jawabku.
"Apa Orang-tua Dito sedang bekerja Bu?" Tanyaku memberanikan diri, karena dari aku baru datang sampai saat ini hanya bertiga saja dengan Bu Isma.
"Orang-tua Dito sudah meninggal dunia Kay. Dari satu tahun lalu, mereka kecelakaan tunggal. Hanya Dito yang bisa di selamatkan," Jelas Bu Isma, raut wajahnya pun memancarkan kesedihan saat menceritakannya padaku.
"Maafkan Kay Bu, tidak bermaksud membuat Ibu sedih," Ucapku sambil mengelus bahu Bu Isma.
"Tidak apa-apa Kay," Jawab Bu Isma.
Setelah, banyak bercerita, aku pun mengantarkan Bu Isma ke kamarnya untuk istirahat.
Setelah itu, ku lihat Dito sudah lelap tertidur. Ku eratkan selimut untuk menutupi tubuh kecilnya. Lalu ku usap pucuk kening Dito. Hingga tak terasa air mataku sudah menetes, aku tak kuasa jika membayangkan menjadi Dito. Harus kehilangan kedua orangtuanya di usia sekecil ini.
π±π±π±
Pagi harinya, setelah shalat subuh aku pun memulai pekerjaanku. Membersihkan rumah dan membuat sarapan untuk Bu Isma dan Dito. Kemudian ku siapkan ke meja makan.
Aku pun Membantu Dito untuk mandi dan sehabis itu sarapan. Dito terlihat begitu sangat senang dengan kehadiranku. Mungkin selama ini ia kesepian.
"Cucu Omah sudah wangi ya? Ayo Nak sarapan sama Omah!" Ucap Bu Isma saat melihat Dito keluar kamar dan menghampirinya.
"Iya Omah," Dito pun duduk di kursi meja makan.
Setelah itu aku menyuapi Dito, ia terlihat begitu senang sambil banyak bercerita Dito pun melahap habis makanannya.
"Kay, minggu depan Dito sudah mulai sekolah. Omnya sudah mendaftarkannya, apa Kayla bersedia mengantar Dito?" Tanya Bu Isma.
__ADS_1
"Oh, ya Bu Kay dengan senang hati akan mengantarkan Dito," Ucapku sambil membereskan piring.
"Yeay.. yeay, Dito sekolah Omah," Sahut Dito kegirangan.
Baru dua hari saja Dito sangat dekat denganku, Dito anak yang baik. Ia juga anak yang penurut.
Sehabis membereskan piring aku pun membantu Bu Isma untuk berjemur di depan teras. Perlakuan Bu Isma sangat hangat padaku.
"Assalamualaikum Mbak," Ucap wanita yang usianya sedikit lebih muda dari Bu Isma menghampiri.
"Wassalamu'alaikum, eh Tri dari mana?" Jawab Bu Isma
"Dari depan Mbak, sekalian mampir lho ini siapa Mbak?" Tanyanya. Kemudian ia menatapku dari atas sampai bawah seperti tidak suka.
"Oh ini Kayla yang bantu-bantu di sini, urus aku sama Dito," Jawab Bu Isma menoleh ke arahku sambil mengembangkan senyum.
"Oh, pembantu baru toh Mbak," Tukas Bu Tri, aku tau namanya dari panggilan Bu Isma kepadanya.
"Hati-hati lho Mbak, sekarang modus jam penipuan sama penculikan," Tukasnya melirik ke arahku.
Aku pun diam tak menjawab ucapannya yang secara terang- terangan menyindirku. Aku menatap heran ada saja orang yang seperti ini, berbicara semaunya tidak menghiraukan perasaan orang lain. Padahal aku tidak punya salah apapun kepadanya bertemu saja baru kali pertama.
"Ih, beneran Mbak. Orang sudah banyak kejadian kok, ya sudah aku permisi dulu ya Mbak," Ucapnya bergegas pergi dari rumah Bu Isma.
Aku pun bernapas lega dengan kepergian Bu Tri, karena kalau kelamaan dia di sini bisa membuatku darah tinggi dengan ucapan pedasnya, seperti makan cabe setan satu kilo.
"Maafkan ucapannya ya Kay, dia orangnya emang seperti itu kadang kalau bicara ga di pikir," ucap Bu Isma mengelus bahuku.
"Iya, tidak apa-apa kok Bu," Jawabku sambil tersenyum.
"Omah," Sahut Dito berlalu ke arah kami.
"Apa Sayang?" Jawab Bu Isma membawa Dito ke pelukannya.
"Dito mau eskrim Omah, kok di kulkas habis," Rengek Dito sambil mengerucutkan bibir kecilnya.
__ADS_1
"Oh, habis ya? Maaf ya Sayang Omah lupa gak minta kirim Koko," Ucap Bu Isma mengelus pucuk kening Dito.
Koko adalah pemilik warung di pertigaan depan. Bu Isma memang berlangganan untuk membeli kebutuhannya bersama Dito. Bu Isma hanya tinggal memesan lalu pemilik warung mengantarkannya.
"Yu beli saja sama Mbak Kay, Dito mau?" Ucapku.
"Mau Mbak Kay," Dito pun langsung memelukku. Karena terlalu senang. Bu Isma mengembangkan senyum kepadaku.
"Boleh tidak Omah?" Tanya Dito menatap Bu Isma.
"Boleh dong Sayang," Jawab Bu Isma.
"Yeay, ayo Mbak Kay," ajak Dito.
"Sebentar ya, Mbak bantu Omah dulu ke dalam," Ucapku sambil mendorong kursi roda Bu Isma ke dalam kamar setelah berjemur untuk istirahat.
"Aku antar Dito dulu ya Bu," Pamitku pada Bu Isma setelah membantunya ke tempat tidur.
"Iya Kay, ini untuk beli eskrim," Bu Isma pun menyodorkan uang seratus ribuan tiga lembar.
"Ini terlalu banyak Bu," Ucapku.
"Tidak apa-apa Kay, kalau kamu mau beli juga kebutuhanmu. Sisanya buat pegangan saja!" Ucap Bu Isma ia pun membaringkan tubuhnya.
"Terimakasih banyak Bu," Jawabku.
"Oh, ya pakai sepeda motor kamu bisa? Kalau bisa pakailah motor di bagasi, kuncinya di atas kulkas Kay!" Ucap Bu Isma.
"Bisa Bu, ya baik," Aku pun bergegas keluar, dan Dito dengan sabar menungguku.
"Ayo lets go! Bos kecil," Ajakku kepada Dito saat menaiki sepeda motor.
"Kita pakai motor Mbak Kay?" Tanyanya kemudian bergegas naik di depanku.
Aku pun tersenyum Melihat Dito begitu bahagia, kemudian kami pun menuju warung koko di depan pertigaan. Sepanjang perjalanan Dito berceloteh dengan riang gembira.
__ADS_1
...****************...
Bersambung βοΈππΊπΊπΊNext episode selanjutnya mohon dukungannya Reader'sππ