Catatan Hati Aurora

Catatan Hati Aurora
1. Perpisahan dengan papah


__ADS_3

Pada tahun 2006, di Padang, Sumatra Barat.


Di sebuah rumah sederhana yang terdiri dari ayah, ibu, keempat anak laki-laki dan satu anak perempuan. Di dalam kamar, seorang pria menatap selembar kertas dengan menghela napas berat lalu masuk seorang wanita cantik duduk di sampingnya dan menepuk pundak kirinya pelan.


“Itu apa mas?” tanyanya lembut.


Pria itu menoleh dan tersenyum manis menatap wanita itu.


“Begini Fan, aku ditawari kerja di Korea Selatan jadi aku khawatir akan meninggalkan kalian terutama si bungsu kita, Aura. Gimana itu sayang?” tanya pria itu lembut.


“Siapa yang tawarin kamu kerja di sana sayang?” tanya wanita itu yang diduga istrinya.


“Temanku, Edo. Lagipula di sini gak terlalu banyak pekerjaan dan gajiku gak terlalu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita” jelasnya.


“Gak ada tempat yang lain seperti Jakarta atau Bandung tempat tinggal kamu?” tanya sang istri datar.


“Aku sebenarnya mau ke sana tapi aku malu bertemu dengan orang tua dan adikku yang sudah kaya dan mereka tak pernah merestui pernikahan kita, Fanya” Jelas suaminya.


“Kamu tahu kan jika aku kembali ke sana yang ada aku malah dijodohkan dengan wanita lain” tambahnya.


“Kamu ke sana saja dulu mas, kan itu sudah lama mana tahu mereka merindukanmu” ujar sang istri dengan tersenyum lembut.


“Aku gak percaya itu sayang. Mereka itu tetap menjodohkan aku dengan orang lain walaupun mereka tahu jika aku sudah menikah dan punya anak 5” balasnya dengan teguh pendirian.


Sang istri hanya menghela napas pendek.


“Kamu gak takut durhaka, mas?” tanya sang istri khawatir.


“Aku tahu itu durhaka, tapi mereka gak mau merestui pernikahan kita dan akan menjodohkan aku dengan wanita lain nantinya” jelas pria itu.


“Aku ikhlas jika kamu menikah lagi asalkan kamu tidak durhaka dengan mereka lagi” ujar Fanny sambil tersenyum tulus ke suaminya.


“Tapi aku sangat mencintaimu, Fanny. Kumohon jangan bilang seperti itu, aku tak mau menukah dengan wanita yang tidak aku cintai, sayang. Kita sudah berjanji untuk bersama dengan kelima anak kita sampai akhir hayat kita” jelas suaminya dengan tenang.


“Tapi aku merasa aku egois telah membuat kamu berpisah dengan orang tua kamu, mas Khansa. Tolong temui orang tua kamu dan minta maaf pada mereka!” punya Fanny.


“Jadi apa kamu gak mencintaiku lagi, Fanny?” tanya Khansa dengan tatapan tajam


“Aku cinta sama kamu mas tapi aku gak mau kamu durhaka sama mereka nanti kamu akan menyesal” jawab Fanny tenang.


“Oke aku akan berusaha untuk membuat mereka menerima kita dan 5 anak kita di sini ya sayang” ujar Khansa dan Fanny pun mengangguk lalu berpelukan. Tanpa sadar, aksi itu dilihat oleh remaja cowok yang bertubuh tinggi berdiri di pintu luar melihat pasangan yang memeluk itu.


“Papa akan pergi meninggalkan kita demi minta restu kakek dan nenek” batinnya.


Tersadar, Fanny melihat anak remaja yang berdiri mematung lalu memanggil namanya.


“Alan, kesini sayang!” Panggil Fanny lembut dan pelukan terlepas membuat Khansa menengok ke arah yang dipanggil Fanny. Yang dipanggil berjalan menuju ke arah pasangan itu dan memeluk mereka.


“Papah mau pergi meninggalkan kita ya?” tanya Alan dengan mata berkaca-kaca memeluk papahnya.

__ADS_1


“Iya kak, maafkan papah ya. Tenang saja papah akan kembali menemui mama dan kalian berlima, anak-anak papah tersayang. Tolong jaga adik-adik dan mamah di sini ya” ujar papahnya menahan tangis. Sedangkan Fanny melihat itu hanya tersenyum tegar walaupun dalam hati sedih.


“Kapan papah pergi?” tanya Alan.


“Malam nanti ya sayang selepas adik-adik kamu tidur” jawab Khansa.


(Melepas pelukan)


“Ingat ya jaga mereka ya dan kamu serta adik-adik kamu harus baik ya sama mamah serta sehat-sehat ya kalian semua” ujar Khansa menasihati Alan, anak pertama mereka yang berusia 18 tahun. Pria tampan dan tinggi itu mengangguk mantap.


“Papa ingat kita berenam ya. InsyaAllah aku akan menjaga mereka” balas Alan dan Khansa mengangguk lalu mereka berpelukan. Melihat itu, Fanny meneteskan air matanya lalu menghapusnya supaya tidak ketahuan oleh suami dan anak pertamanya.


“Mas, nanti aku bantu siap-siap mengurus barang-barangnya ya” kata Fanny dan dibalas anggukan oleh Khansa. Setelah peristiwa itu, sebelum malamnya Khansa dan Fanny menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka. Tak lupa mengabadikan momen dengan kamera. Mereka juga jalan-jalan keliling desa dengan naik kuda dan makan bersama di rumah makan sederhana. Ketika makan, Khansa berkata kepada kelima anak dan istrinya, Fanny.


Khansa : “Oh ya istriku, Alan, Nanda, Anan, Aksa, dan Aura, papa mau memberitahu sesuatu pada kalian?”


(keenamnya menoleh dan mendengarkan)


Khansa : “Maafkan papa yang membuat kita makan di sini. Semoga saja ketika papa banyak uang, kita makan di restoran mewah"


Fanny : "Gak masalah mas, ini saja sudah cukup kok. Lihat lah anak-anak kita saja lahap makannya"(lalu tersenyum manis ke arah suaminya)


Alan : " Iya pah, aku suka kok. Tenang saja ketika aku dapat pekerjaan, aku akan membuat restoran dan membuat kita semua makan di sana"


Khansa dan Fanny mengaminkan begitu juga dengan keempat adiknya.


Khansa : Kebetulan kamu mau buat restoran apa, Al?"


Alan : "Aku ingin membuat restoran nasi padang, mie goreng, nasi goreng seperti di sini dan juga aku ingin membuat makanan ini akan aku promosikan ke luar negeri termasuk Korea Selatan"


Mereka yang mendengar itu bertepuk tangan dan berseru mengaminkan serta ada pemilik rumah makan yang diduga berteman baik dengan Khansa juga ikut mengaminkan. Nama orang itu adalah Edo.


Edo : "MasyaAllah rancak bana tuh rencano nak Alan. Semoga terkabulkan yo nak"


Alan : "Iyo makasih juo ka pak uwo Edo. Amiin ya Rabbal Alamin"


Edo langsung mengacak rambut Alan bangga lalu mengacungkan jempol ke arah Khansa dan istrinya begitupun dengan ke empat adiknya yang juga mengacungkan jempol bangga ke Alan tak lupa dengan Aura walaupun masih berusia 5 tahun dia bisa mengerti akan situasi orang-orang di sekitarnya.


Edo pun pergi meninggalkan anggota keluarga itu dengan tersenyum tulus untuk melayani pelanggan selanjutnya. Setelah kepergian Edo, Khansa pun melanjutkan bicaranya.


Khansa : "Oh ya kalo kamu Nanda, gimana?"


Seorang anak remaja cowok yang tingginya tak jauh beda dengan Alan dengan memakai kacamata minusnya menjawab.


Nanda : "Oh aku akan membuat menjadi penulis pah karena aku suka menulis baik lagu, cerita dan puisi"


Khansa : "Good lah nak. Tapi gimana kamu membuat lagu?"


Nanda : "Aku membuat lagu tapi aku gak tahu gimana cara kirimnya pah"

__ADS_1


Fanny : "Mungkin kamu harus kirim ke email producernya dulu nanti kalo diterima mana tahu dapat royalti. Tapi kamu sudah tahu email producer musiknya?"


Nanda : "Gak tahu sih mah kan disini jaringan internetnya susah mah jadi ya gimana lagi"


Khansa dan Fanny pun terdiam. Mereka berpikir tentang keadaan mereka yang lumayan susah walaupun anaknya sudah 5.


Khansa : "Oh ya kalo kamu Anan, gimana cita-cita kamu?"


Anak cowok yang punya mata agak sipit itu menjawab dengan bangga.


Anan : "Jika bang Nanda pembuat lagunya, kalo aku penyanyi terkenal"


Lagi-lagi mereka bertepuk tangan.


Fanny : "MasyaAllah bagus tuh nak Anan. Semoga terkabul lagipula kamu suka nyanyi"


Tiba-tiba ada yang nyahut dengan julitnya yaitu anak cowok berwajah tirus dan tampan namanya Aksa.


Aksa : "Bang Anan memang suka nyanyi tapi berisik banget tahu!"


Dan ada anak kecil yang cantik menyahut dengan suara bayinya namanya Aura.


Aura : "Iya tuh suala abang Anan belisik" Lalu keduanya tertawa cekikikan.


Anan yang mendengar itu mendengus kesal.


Anan : "Eh adek-adek tercinta, kalian tak tahu cara nyanyi yang benar loh. Kalian masih kecil belum tahu apa-apa"


Aksa dan Aura tersenyum meledek ke arah Anan dan membuat Anan balik mengejek mereka dan ditenangkan oleh Alan, Nanda, dan Anan serta Fanny. Sementara Khansa hanya tersenyum tipis akan kebersamaan kelima anaknya yang kadang-kadang akur, kadang-kadang seperti love-hate relationship. Dia membatin :


"Gak disangka kelima anakku sudah besar tapi belum direstui orang tuaku sendiri. Aku akan merindukan momen ini bersama mereka. Semoga ketika aku sukses, mereka masih hidup dan berbahagia walaupun aku sudah punya cucu yang banyak"


Tak lupa Khansa memotret aksi kelima anaknya yang asik berdebat dan istrinya serta Alan dan Anan yang menenangkan ketiga adiknya supaya tenang.


Pada malamnya sekitar jam 8 selesai sholat isya, mereka makan bersama dengan lauk seadanya. Lagi-lagi Khansa memotret keadaan keluarga itu dengan kamera sampai membuat kelima anak dan istrinya, Fanny melihat dengan bingung.


Fanny : "Mas, kenapa potret kita?"


Khansa : "Oh itu karena sebagai memorial setelah kalian dewasa nanti dan ini simpan foto ini di album, Alan"


Alan mengangguk dan mengambil foto yang telah dipotret itu. Keluarga yang begitu harmonis walaupun Khansa dan Fanny berumah tangga selama 18 tahun tapi sayangnya mereka harus berpisah bukan karena cerai tapi karena Khansa harus minta restu oleh kedua orang tuanya di Bandung supaya bisa menerima istri dan kelima anaknya dengan tulus.


Pada malamnya jam 11, tibalah waktu ketika Khansa bersiap-siap pergi setelah 5 anaknya tertidur. Bersama dengan sang istri, Khansa pergi dengan bus travel yang akan berangkat menuju bandara ke Bandung. Sebelum masuk kedalam bus travel, pria itu memberikan suratnya kepada istrinya untuk dibawa kepada kelima anaknya.


Khansa : "Fanny, ini surat berikan untuk anak-anak kita ya"


Fanny : "InsyaAllah mas aku akan berikan kepada mereka dan bilang jika mas akan pergi kerja"


Khansa yang mendengar itu pun tersenyum lalu memeluk dan mencium kening istrinya dan Fanny pun menyalami suaminya. Setelah itu, Khansa masuk ke dalam bus itu dan melambaikan tangannya untuk berpisah dengan sang istri dan wanita itupun juga melakukan hal yang sama serta membatin "semoga engkau dalam perlindungan Allah, mas"

__ADS_1


Tanpa disadari, Alan dan Nanda melihat itu melalui jendela kamarnya. Mereka menatap sedih akan kepergian sang ayah.


Next part 2


__ADS_2