Catatan Hati Aurora

Catatan Hati Aurora
9. Kedatangan opa dan Oma 5 bersaudara


__ADS_3

Satu persatu keempat anaknya pulang dan bahagia ketika sang papa sudah kembali ke rumah. Mereka makan bersama di restoran yang mereka pernah kunjungi dulu. Pada malamnya jam 8 setelah sholat Isya.


"Alan, Nanda, Anan, Aksa, Aura papa sengaja pulang ke sini bukan karena papa kabur tapi karena papa di suruh oleh opa dan oma kalian dan besok mereka akan datang menemui kalian" Kata Khansa.


"Kami senang papa datang lagi ke rumah" Balas Alan sambil tersenyum.


"Dan semoga papa akan bersama kita selamanya ya anak-anak" Tambah Fanny sambil tersenyum manis.


"Iya" Balas kelimanya.


"Ayo dimakan!" Suruh papanya lalu mereka semuanya makan dengan lahap.


Setelah makan, mereka pulang dengan menggunakan mobilnya Akhsan.


Di rumah, mereka berkumpul sambil bercanda.


"Oh ya lan, kamu mau lanjut kuliah?" Tanya Khansa kepada Alan.


"InsyaAllah pah aku akan lanjut kuliah dan tenang saja aku ada uang kok untuk biaya kuliah supaya tidak merepotkan mama" Jelas Alan.


"Tenang nak, gak usah pakai uangmu. Papa ada uang untuk biaya kuliahmu sampai kuliahmu selesai" Balas Khansa.


"Kamu dapat uang dari mana mas?" Tanya Fanny sambil menyuapi Aura.


"Aku dikasih uang oleh mama karena mama yang suruh. Dia merasa bersalah tidak pernah merestui pernikahan kita jadinya dia malah memberikan kita uang untuk kebutuhan kita semua" Jelas Khansa.


"MasyaAllah baik sekali mamamu, aku gak sabar untuk bertemu dengan mereka" Balas Fanny sambil tersenyum terharu.


"Iya dan mereka akan menginap di rumah kita untuk melihat cucunya dan kamu" Tambah Khansa.


"Pah, jadi opa dan oma orang kaya ya?" Tanya Aksa.


"Iya nak jadi besok kita akan ketemu dengan mereka ya" Jawab Khansa sambil tersenyum lembut.


"Yes besok aku gak sabar bertemu dengan opa, oma!" Seru Aksa kesenangan.


"Sudah nak ayo kita tidur!" Ajak Fanny dan kelimanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar masing-masing begitupun Fanny dan Khansa.


Keesokan paginya jam 8, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah keluarga Khansa. Mereka mengeluarkan mobil mewah dan keluarlah sepasang suami istri paruh baya mengetuk pintu pelan.


"Assalamu'alaikum" Sapa seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang berdiri di belakang istrinya.


Tak lama kemudian, terbukalah pintu dan tampaklah seorang pria dan wanita yang tersenyum menyambut keduanya.


"Waalaikumsalam papi, mami" Jawab pria itu adalah Khansa.


Lalu mereka berpelukan dan tak lupa ketika ada Fanny di sampingnya, langsung dipeluk. Setelah itu mereka menyuruh pasangan tua itu masuk ke dalam rumah dan duduk di atas sofa serta berbincang-bincang berempat.

__ADS_1


"Ini Fanny kan?" Tanya wanita tua itu.


"Iya bu" Jawab Fanny lembut tapi gugup dan ada Khansa di sampingnya yang menggenggam tangan istrinya.


"Panggil saja kami papi, mami ya nak Fanny" Ujar pria tua sambil tersenyum hangat dan Fanny tersenyum mengangguk.


"Bagaimana kehidupanmu dengan Khansa? Apa dia jadi suami yang baik untukmu nak?" Tanya mami Khansa dengan wajah khawatir.


"Alhamdulillah mami, mas Khansa jadi suami dan ayah yang baik kok untuk kita" Jelas Fanny sambil tersenyum hangat dan menatap Khansa lalu Khansa menatapnya balik dengan tersenyum hangat.


"Bagus lah mami senang kalo kalian bahagia selama 19 tahun ini dan maaf jika kami tak pernah merestui pernikahan kalian" Kata mami Khansa dengan ekspresi sendu.


"Dan juga jika dia tak mengajakmu berbicara, mungkin kamu bisa kuliah, Fanny" Tambah papi Khansa.


"Ya mungkin ini takdirnya, pi, mi, dan sekarang kita punya 5 anak yang alhamdulillah baik dan pintar" Balas Fanny.


"Iya kita boleh gak lihat 5 cucu kita?" Pinta papi Khansa.


"Boleh pi mereka berlima masih tidur kecuali Alan, Anan dan Nanda" Jawab Khansa.


"Jadi yang tidur hanya Aksa dan Aura?" Tanya mami Khansa.


"Iya mi soalnya ketiganya libur sekolahnya" Jawab Fanny.


Lalu kedua pasangan tua itu sudah masuk ke dalam kamarnya Aksa dan Aura yang masih tertidur lelap. Mereka berdua menatap gemas kepada kedua anak yang usianya beda 3 tahun itu.


"Iya mi, cucu kita sangat rupawan dan bibit kalian sangat unggul ya" Tambah papi Khansa dan membuat kedua pasangan suami istri tersenyum malu.


Lalu Aksa dan Aura membuka matanya karena terdengar suara berisik dan keduanya menatap ke empat pasangan beda usia itu.


"Siapa itu ma, pa?" Tanya Aksa yang sudah duduk dari ranjangnya.


"Itu opa dan oma kamu nak" Jawab Fanny lembut sambil duduk di samping Aksa.


"Halo opa, oma, aku Aksa" Kata Aksa sambil memperkenalkan diri dan keduanya menatap gemas.


Tiba-tiba Aura jadi ikutan bangun dan ikutan memperkenalkan diri.


"Halo opa, oma aku Aura" Kata Aura dan keduanya juga ikutan gemas sampai mami Khansa malah mengelus pipi Aura dan Aksa secara bergantian. Sementara papi Khansa hanya menatapnya dengan tersenyum haru dan merasa bersalah.


"Jam berapa ketiga cucu kami pulang nak?" Tanya papi Khansa sambil bertanya kepada Khansa dan Fanny.


"Mereka pulang jam 12 padahal beda sekolah" Jawab Khansa dan papinya hanya mengangguk saja lalu ikutan duduk di samping Aura.


"Gak nyangka mereka sudah sebesar ini ya nak. Kami jadi merasa bersalah karena tidak pernah melihat perkembangan mereka dari bayi" Kata mami Khansa lalu menangis memeluk Fanny dan Khansa secara bergantian.


"Gak papa mami mungkin karena aku durhaka sama kalian berdua makanya kita tak pernah direstui" Jawab Khansa dengan tersenyum sendu.

__ADS_1


"Kamu tak pernah durhaka sama kita nak, kita yang egois membuat kamu jadi begini dan untungnya Allah memberikan kita hidup yang lama untuk melihat kalian berdua bahagia sama keluarga kecil kalian" Jelas papi Khansa.


"Memangnya kalian sakit apa?" Tanya Khansa dengan raut muka khawatir.


"Gak ada nak, kamu ingat gak dulu waktu kamu meninggalkan kita demi menikahi istri kamu, papi pernah bersumpah jika papi dan mami hidup sebentar atau tak sampai usia pernikahan kalian 19 tahun, itu artinya kamu memilih jalan yang salah atau jika kami hidup lama sampai usia pernikahan kalian 19 tahun, berarti kamu memilih jalan yang tepat" Jelas papi Khansa dan Khansa mengangguk mengiyakan.


"Kenapa dengan usia 19 tahun pi?" Tanya Fanny.


"Itu karena usia itu adalah rentan bercerai termasuk kalian masih muda nikahnya. Takutnya kalian berdua masih labil dan tak bisa mengendalikan emosi" Jelas papi Khansa dan Fanny mengangguk setuju.


"Awalnya kita bahagia dan sampai punya anak ketiga, kita hampir goyah karena Khansa dituduh selingkuh dengan teman saya namanya Desi. Saya awalnya ingin cerai tapi gak jadi karena Khansa dengan mudahnya menyelidiki kasus fitnah itu dan membuat saya gak jadi bercerai dengannya" Jelas Fanny.


"Alhamdulillah kamu sudah dewasa nak" Puji mami Khansa.


"Awalnya kita ada cobaan dan alhamdulillah bisa melewati karena Alan dan Nanda" Tambah Khansa.


"Kenapa dengan kedua anak itu?" Tanya mami Khansa.


"Karena mereka berdua yang membantu saya menyelidiki kasus itu padahal usia mereka masih kecil, duh lupa ya usia mereka berapa jadi kami merasa lega" Jawab Khansa dan kedua ortunya lega.


"Serta tak lupa atas peran orang tuanya Fanny, pi, mi" Tambah Khansa.


"Dimana ortumu nak?" Tanya mami Khansa.


"Innalillahi mi, pi, mereka sudah berpulang kerahmatullah sejak kelahiran Aksa" Jawab Fanny sendu.


"Innalillahi wa innalillahi rojiun" Gumam mereka dalam hati.


"Mereka juga mendampingi kita selama mereka masih hidup pi, mi, dan juga mereka gak pernah dendam sama kalian karena tak pernah mendampingi kita berdua karena mereka mengerti dengan keadaan kalian" Jelas Khansa dan lagi-lagi mereka terdiam menunduk.


"Semoga mereka tenang di sisi Allah ya" Balas papi Khansa dan ketiganya mengaminkan.


"Setelah ortumu meninggal dunia, pernikahan kalian gimana?" Tanya papi Khansa.


"Awalnya sulit tapi untungnya ada adiknya Fanny yang pernah membantu kita berdua mau mengurus Aksa ketika kita bekerja untuk menghidupi kehidupan kita" Jelas Khansa.


"Dan juga ketika Fanny mengandung Aura yang masih berusia 4 bulan itu ketika adiknya menikah dengan wanita yang dulunya teman kuliah adiknya itu dan sangat menyukai anak kecil" Tambah Khansa dan keduanya tersenyum.


"MasyaAllah romantisnya hubungan mereka" Gumam mami Khansa.


"Dan karena mereka belum bisa punya anak jadi mereka mengangkat seorang anak jalanan yang berusia 4 bulan yang diusir oleh ibunya dulu" Tambah Fanny.


Lagi-lagi kedua pasangan tua itu mengangguk sambil tersenyum.


Setelah perbincangan itu, keempat pasangan itu sarapan bersama diikuti oleh Aksa dan Aura.


Next part 10

__ADS_1


__ADS_2