Catatan Hati Aurora

Catatan Hati Aurora
23. Ultah tanpa papa


__ADS_3

Ketika Aura sudah berada di kamar sedang ngambek, Aksa yang duduk santai sambil bermain HP. Cowok tampan yang berusia 20 tahun itu, lalu mengerik sebuah pesan di grup keluarga tapi yang terdiri dari 4 abangnya Aura.


Aksa :"Assalamu'alaikum bang, gimana dengan suprise untuk sibungsu kita?"


Alan : "Waalaikumsalam"


Anan : "Waalaikumsalam"


Nanda : "Waalaikumsalam"


Aksa : "Dia besok mulai sekolah, bang!"


Nanda : "Selesai sholat Shubuh"


Alan : "Tapi kayaknya Aura ingin papa datang"


Anan : "iya tuh, hadiah sudah kita siapkan kok beserta kuenya"


Alan : "Biar gue telepon papa, mau dia jawab atau gak, itu biarkan saja sampai beliau lelah"


All : "Bolehlah telepon saja sampai 10 kali kalo abang sanggup"


Aksa : "Kalo sampai 10 kali gak bisa, oper ke gue bang, biar sekalian gue jorokin sekalian"


3 abang : "Astaghfirullah Sa, jangan gitu loh"


Aksa : "Bodoh amat!"


Aksa menutupi grup keluarga itu dan kembali mengetik sebuah pesan di nomor telepon Papa.


"Assalamu'alaikum pah, please tolong balas pesan kami, aku ingin sekali ini saja datang ke ultah anak bungsu papa ya. Cukup kami berempat yang gak pernah merasakan kehadiran papa, jangan dia. Jangan sampai anda menyesal, tuan Khansa!"


Setelah itu dia menaruh hpnya ke atas meja dan berbaring di sofa. Sedangkan di rumah abang tertua pertama, sibuk menelepon seseorang, dia menunggu sambil menghela napas pendek. Di sampingnya, istrinya menoleh khawatir dan mengelus pundaknya, memberikan ketenangan.


Alan terus menghubungi nomor itu 2,3,4,5, sampai 10 kali dan dia lelah sampai berbaring.


"Ya Allah, papa dimana sih?" Keluh Alan.


"Gak dihubungi lagi mas?" Tanya Halwa khawatir.

__ADS_1


"Hmmm iya sayang, kasihan Aura. Kamu tahu selesai Aura lulus TK, papaku pergi lagi dengan alasan kerja di Korea Selatan. Aku gak bisa membayangkan betapa kecewanya Aura. Adik kita itu belum mendapatkan kasih sayang dari papa kita sementara kita sudah mendapatkannya" Jelas Alan dengan raut kecewa.


"Apa jangan-jangan beliau gak sudi untuk mengurus Aura dan hanya mengurus kita berempat?" Tanya Alan dengan muka menahan kesal.


"Astaghfirullah al'azim mas, jangan berprasangka buruk. Mungkin beliau lagi sibuk kerja gak boleh pegang HP" Jawab Halwa tenang.


"Ini bukan sekolah sayang, lagipula kerja itu boleh bawa HP untuk hal yang penting kok" Balas Alan kecewa dan Halwa terdiam.


"Oh ya aku harus menghubungi Aksa dan minta dia untuk menelepon papa" Ujarnya lalu menelepon Aksa.


Alan : "Assalamu'alaikum Sa"


Aksa : "Waalaikumsalam bang, gimana?"


Alan : "Belum lagi dek, gue sudah menghubungi sampai 10 kali pun tidak bisa. Coba lo telepon papa, barangkali papa dengarin lo dek!" Ucapnya.


Aksa : "Oke bang"


Telepon diputuskan dan dia menatap istrinya lalu memeluk sang istri dan wanita itupun membalas pelukan suaminya lembut. Dalam pelukan istrinya, pria itu menangis sambil mengeluh.


"Sayang, kamu tahu gak Aura sewaktu kecil itu selalu menanyakan tentang papa. Dan dia selalu merengek ketika diejek gak punya papa dan hanya mama serta kita yang jemput dia. Aku merasa kasihan dia mendapat perlakuan buruk dari wali kelasnya waktu kelas 4 SD dan dipermalukan di seluruh kelas. Dan untungnya dengan perjuangan mama, oma dan opa, wali kelasnya dikeluarkan" Lalu dia melepas pelukan istrinya.


"Gak papa mas, kamu gak masalah mau menceritakan semuanya sambil mengeluh. Kita doakan semoga kalian bertemu dengan papa ya" Balas Halwa lembut lalu mereka berpelukan.


"Oh ya mas, aku ada sesuatu buat kamu. Aku tahu ini mendadak" Ucap Halwa sambil melepas pelukan dan suaminya bingung. Wanita itu mengambil sebuah kotak dari atas nakas dan memberikannya kepada suaminya. Dan Alan menerima dan membuka atas saran istrinya.


Lalu dia membuka dan isinya membuat Alan tercengang. Isinya yaitu sebuah tespack dan foto USG yang menandakan garis 2.


"Ini kamu hamil sayang?" Tanya suaminya tak percaya. Halwa mengangguk lemah.


"Iya sayang , maaf ya ini terlalu mendadak" Jawab Halwa sambil menunduk. Lalu Alan memeluk istrinya. Dia merasa bersyukur akan jadi calon ayah.


"Alhamdulillah ya Allah terima kasih telah menitipkan calon bayi ke dalam janin istriku. Semoga istri dan anak ku selalu sehat" Gumam Alan menangis terharu. Lalu dia melepas pelukan dan mencium kening Halwa lembut.


"Oh ya sayang kita foto ini ke nomor papa boleh?" Tanya Alan sambil menatap istrinya lembut. Dan Halwa mengangguk. Lalu pria itu memfotokan usg dan tespack milik istrinya dan mengirimkannya ke nomor WA papanya.


"Oh ya sayang, besok subuh kita ke rumah oma dan opa ya, kan Aura ultah. Kamu mau ikut gak?" Tanya Alan lembut.


"Boleh tuh, sekalian mau supresin hadiah ini ke dia kan dia gebet kita punya anak" Jawab Halwa sambil tersenyum hangat. Lalu mereka tidur bersama sambil berpelukan.

__ADS_1


Sementara itu, masih dirumah oma dan opa, Aksa masih menelepon papanya. Dia terus menggeram kesal. Sekitar 10 kali dia menelepon papanya tapi bapak 5 anak itu gak pernah membalasnya. Sampai membuat Aksa jengkel dan menyerah bahkan dia mengetik dengan kata-kata kasar.


"Heh lo pak! jangan sampai ketika Aura mulai ultah, lo gak datang, jangan harap lo ngemis perhatian dari kita ketika lo sudah susah".


Lalu dia menutup hpnya dan pergi untuk tidur karena besok hari ultah adik bungsu mereka yang ke-17 tahun.Sedangkan Anan dan Nanda juga sudah pulang, sementara mama menginap di rumah sakit untuk mengurus mertuanya.


Keesokan harinya selesai sholat shubuh, gadis itu dikejutkan oleh suara sorakan dari keempat abangnya. Mama Fanny membawakan kue dan yang lainnya berdiri di belakangnya termasuk Alan dan Halwa. Melihat itu, Aura tersentuh dan menutup mukanya syok. Aksa memegang kamera Aura untuk buat vlog.


"Yeah, adik bungsu kita ultah guys!" Seru Aksa senang sambil memegang kamera dan mengarahkan ke Aura yang menangis terharu.


"Alhamdulillah sudah 17 tahun usia anak bontot mama ini" Kata mama lalu mencium kedua pipi anaknya.


"Yeah, yang sudah 17 tahun guys" Kata Anan sambil ikut bersorak.


"Gue masih ngantuk tapi karena adik bontot kita ultah, gak jadi gue molor" Kata Nanda setengah ngantuk.


Aura meniup lilin dan mereka bersorak. Lalu memotong kue dan memberikannya papa mama, Alan dan istrinya, lalu Anan, Nanda, dan Aksa. Momen itu diabadikan dengan foto sebagai kenangan dan vlog dari Aksa juga dibagikan ke-2 akun youtube masing-masing.


"Semoga keberhasilan dan keberkahan hidup menghampiri kita" Ucap Aura seraya berdoa dan yang lainnya mengaminkan.


Dibalik acara ultah mendadak itu, gadis itu kelihatan murung karena cinta pertamanya gak datang. Tapi dia hanya tersenyum ketika yang lainnya menatapnya dan mengkhawatirkannya.


"Papa, where are you?" Batinnya.


Aksa yang tahu akan ekspresi adiknya itu, merangkul dan juga menitipkan kameranya itu ke abang pertamanya.


"Dek, lo pasti cari papa kan?" Tanya Aksa khawatir.


"Iya bang tapi gak papa kan ada kalian" Jawab Aura sambil tersenyum tegar padahal dalam hati ingin menangis.


Melihat senyum adiknya itu, Aksa memeluk sang adik dan mengelus punggung gadis itu untuk menguatkan.


"Tenang dek, kalo ada kita lo gak kesepian lagi" Gumam Aksa lembut.


"Tapi kalo gue nikah, gak ada papa gimana?" Tanya Aura.


"Kan ada abang Alan dan yang lainnya jadi wali lo, oke. Percaya sama kita, papa pasti akan kembali dalam pelukan kita" Balas Aksa lalu menatap sang adik dan mencium keningnya lembut.


Next part 24

__ADS_1


__ADS_2