
Di TK nya setelah perkenalkan, Aura dan teman-temannya belajar bersama. Walaupun Guru Hani orang Korea tapi beliau lancar bahasa Indonesia jadi ketika mengajar, beliau mengajarkannya dengan lembut dan sabar.
Ketika di perjalanan, ada seorang pria meminta bantuan kepada Fanny.
Pria : "Permisi uni, apakah anda mau mengajukan nyanyi soalnya penyanyi kami kabur?"
Fanny : "Saya memang suka menyanyi tapi maaf gak bisa uda"
Pria : "Tapi ini mendesak tenang saja kok mau bagus atau tidak, itu gak masalah asalkan bisa menghibur"
Fanny mengangguk dan ikut bersama pria itu. Mereka berdua masuk ke dalam kafe dan disambut oleh banyak orang baik wanita maupun pria bahkan ada anak kecil. Wanita itu terus berjalan dan naik ke atas panggung.
"Silahkan uni mau nyanyi lagu apa?" Tanya pria itu memainkan aransemennya.
"Ini bisa lagu minang gak da?" Tanya Fanny.
"Boleh lah ni kan di sini Padang jadi boleh nyanyi lagu minang atau lagu pop Indonesia terserah uni lah" Ujar pria itu sekitar 30 tahun.
"Tapi saya mau menyanyi shalawat badar apakah boleh da?" Tanya Fanny.
"Oh boleh itu rancak lah ini biar semua urang selalu mengingat nama Allah" Balas pria itu dengan tersenyum bangga.
Fanny pun bernyanyi dan penonton di kafe pun mendengarkan dengan saksama. Ketika Fanny pun bernyanyi ada seorang pria tampan berwajah Korea menatap wanita cantik berusia 30 tahun ke atas tapi tetap cantik itu sambil tersenyum dan membatin.
"Siapa wanita itu ya?"
"Bagus sekali suaranya"
Mendengar gumaman pria itu, seorang pria di sebelah kanannya menyahut.
"Oh dia namanya Fanny, ibu dengan 5 anak loh"
Mendengar itu, pria itu menoleh kaget ke arah pria yang menyahutnya.
"Berapa tahun dia lahir?" Tanyanya.
"Oh dia lahir sekitar tahun 1970 an dan akan berusia 36 tahun sekarang ini" Jawabnya.
"Apa dia punya suami?" Tanya pria itu.
"Sudah dan kudengar suaminya pergi merantau untuk kerja dan sekarang dia pasti sibuk membesarkan dan membiayai kebutuhan dirinya dan anaknya" Jawabnya.
Pria tampan itu mengangguk.
"Pasti sulit baginya" Gumam pria tampan itu sambil menatap Fanny yang lagi bernyanyi. Pria itupun tersenyum tipis.
"Jangan sampai mengambilnya soalnya mereka belum bercerai hanya saja berpisah untuk kepentingan pernikahan mereka" Sahut pria itu lagi.
"Usia berapa mereka menikah?" Tanya pria itu lagi.
"Ketika berusia 17 tahun loh" Jawab pria itu lagi.
Tiba-tiba Fanny sudah menyelesaikan nyanyinya dan penonton bertepuk tangan begitupun para aransemennya.
__ADS_1
"MasyaAllah ancak bana uni Fanny. Dari dulu masih samo sajo" Puji pria tadi.
"Alhamdulillah uda Alfin. Awak senang kalo sadonyo suko yo" Balas Fanny dengan tersenyum malu.
Tiba-tiba datang seorang wanita dari arah pintu depan masuk dengan berlari tergopoh-gopoh.
"Maaf uda awak talambek karena ada keperluan mendadak" Jawabnya. "Eh uni Fanny, manga kau ka siko?" Tanya wanita itu dengan santai.
"Oh uni Fanny ko menggantikan kamu cako den kiro kamu kabur untuk karajo ke siko" Jawab pria itu yang bernama Alfin.
Mendengar itu, wanita itu beranjak marah serta ingin memukul Fanny tapi untungnya ada seorang pria tampan mencegah perkelahian itu dengan menahan tangan wanita yang marah tadi. Melihat tangannya ditahan oleh pria asing tadi, membuat wanita tadi melihat ke arah orang yang menahannya.
"Eh siapa kau?" Tanya wanita itu dengan marah dan ingin menarik tangannya tapi sayangnya pria itu tetap menahannya.
"Don't hit her, crazy girl!" Ancam pria itu sambil menatap tajam ke arah wanita itu.
Yang lainnya terkejut terutama Fanny dan Alfin.
Lalu datang Alfin melepaskan tangan wanita itu dari pria tampan tadi.
"Kau manga Desi sampai mau pukul uni Fanny?" Tanya Alfin marah.
"Inyo mengambil posisi den da, awak gak suko" Jawab Desi dengan marah.
"Kau manga talambek datang?" Tanya Alfin.
"Lah den kecek ado keperluan penting" Jawab Desi.
"Keperluan apo tuh?" Tanya Alfin.
"Oh kalo macam tuh ndak usah karajo jika gak ada alasan yang valid" Ancam Alfin marah ke Desi.
"Inyo lah merebut Khansa dari den dan malah rebut posisi den lai" Kesal Desi lalu pergi meninggalkan kafe itu.
Melihat kepergian Desi, mereka kebingungan dan kadang-kadang menggelengkan kepalanya
"Cuma karena cinta, jadi gini bertengkar ya" Kata Alvin.
"Dia dan saya sahabat dulu da, dan ketika ada mas Khansa, persahabatan kami jadi renggang karena dia memilihku untuk menjadi istrinya" Jelas Fanny dan yang lainnya mengangguk.
"Are you okay, miss?" Tanya pria asing itu kepada Fanny.
"I am okay, thank you mister" Balas Fanny dengan tersenyum tipis dan pria itu mengangguk mengiyakan.
"Okay I will going to pay" Katanya dan Fanny mengangguk. Lalu pria asing itu pergi menuju kasir yang tak terlalu jauh untuk membayar pesanannya.
Setelah kepergian pria itu, Alfin dan Fanny pun pergi ke belakang panggung untuk berdiskusi. Sampailah mereka di dalam dan duduk secara bersebelahan.
"Ini bayaran untuk uni Fanny hari ini" Ujarnya sambil menyerahkan amplop berisi uang.
"Alhamdulillah terima kasih uda" Balas Fanny sambil tersenyum bersyukur menerima amplop dari pria itu.
"Begini, uni mau gak jadi penyanyi di kafe ko?" Tanya pria itu.
__ADS_1
"Sebenarnya awak mau sih cuma gimana dengan warung?" Tanya Fanny ragu.
"Oh iyo tak apalah jaga saja lah warung uni supaya sukses" Ujar Alvin dengan tersenyum maklum dan Fanny mengangguk mengerti.
Lalu Fanny pun berjalan pulang dengan tas berisi uang pemberian Alfin.
Sampai di rumah, dan masuk ke warung ternyata beberapa orang yang membeli sotonya. Dan itupun ada sepasang suami istri yang sibuk melayani pelanggan.
"Oh uni kok lama pulangnya?" Tanya seorang wanita berhijab putih.
"Oh tadi itu agak jauh dek Inah" Jawabnya.
"Gak ada pakai ojek gitu ni?" Tanya seorang pria yang sibuk mengaduk kuah soto dalam panci.
"Gak ada do dek Akhsan" Jawab Fanny lagi dan keduanya mengangguk.
"Terima kasih ya telah menjaga warung" Kata Fanny.
"Iya Alhamdulillah malah banyak yang beli ni" Jawab Inah dengan tersenyum senang.
"Alhamdulillah ayo kalian istirahat dulu ya biar uni yang ngurus warung juga ya" Ujar Fanny.
"Dan juga awak pergi ke bengkel dulu ya ada kerja" Izin Akhsan.
"Boleh nanti soal bayaran setelah selesai jualan ya" Ujar Fanny.
"Oke uni" Balas Akhsan lalu pergi meninggalkan kedua wanita itu.
"Kalo Inah gimana?mau pergi juga?" Tanya Fanny.
"Oh gak usah ni. Soalnya gak ada kerjaan di rumah" Jawabnya sambil ketawa cengengesan.
"Dan juga karena belum punya anak makanya sepi jika di rumah terus mending di sini saja" Tambahnya dengan tersenyum canggung.
Fanny pun mengangguk dan dia juga merasa iba dengan adik iparnya yang belum bisa hamil dan mempunyai anak sementara dirinya bisa punya anak sampai 5.
"Semoga Allah memberikan momongan untuk kalian berdua ya" Ucap Fanny.
"Tapi uni kami belum bisa punya anak dan rencananya akan mengadopsi anak" Ujar Inah.
"Oh iyakah, apa ada anaknya?" Tanya Fanny.
"Belum semoga saja dapat soalnya kami sudah mencari informasi untuk panti asuhan terdekat tapi sayang gak ada tempat panti asuhan" Jelas Inah.
"Jadi gimana tuh kalo tidak ada panti asuhan?" Tanya Fanny.
"Gak masalah semoga saja kita bisa mengadopsi anak jalanan yang terlantar" Ujar Inah dan Fanny tersenyum.
Asik berbicara, tiba-tiba ada seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun yang tampan datang dengan baju kumuh ke warung mereka.
"Assalamu'alaikum bu, apa ada makanan?saya lapar" Sapanya dengan sopan dan lemah sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
Kedua wanita yang melihat itu merasa kasihan.
__ADS_1
Next part 5