Catatan Hati Aurora

Catatan Hati Aurora
17. Video call dengan teman masa kecil


__ADS_3

Sinetron yang dibintangi oleh Aurora walaupun bukan pameran utama menjadi dikenal oleh banyak orang dan sekarang dia jadi artis rookie cantik. Makanya dia dapat gaji hasil syutingnya dan gajinya digunakan untuk kado pernikahan sang kakak pertama.


Setelah acara pernikahan selesai, Alan dan Halwa sah jadi suami istri. Sementara rumah mereka direnovasi, sepasang suami istri itu tinggal di rumah oma dan opa Khansa.


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga jadi pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah, ya Alan dan Halwa" Kata oma Endah.


"Terima kasih oma" Jawab keduanya lalu mencium tangan omanya. Begitupun dengan opa Endra.


"Oh ya oma, opa tahu gak papa dimana?" Tanya Alan khawatir.


"Gak tahu nak padahal oma dan opa pernah menelepon papamu tapi gak diangkat" Jawab oma. Mendengar itu, Alan terdiam lesu dan Halwa menenangkannya.


"Iya nih kok papa gak pernah kunjungi kita bahkan di pernikahan abang Alan?" Tanya Aurora dengan cemberut.


"Nak, mungkin papamu lagi sibuk kerja kan kamu tahu di sana itu kerja ekstra keras dan di sana hidupnya serba mahal" Tambah Fanny memenangkan putrinya.


"Aku entah kenapa benci papa, karena gak mau luangin waktunya buat kita semua" Aurora tambah cemberut.


"Aurora!" Tegur Fanny dengan suara lembut dan Aurora hanya mencebik.


"Dek, gak masalah kok mungkin belum waktunya papa ke sini. Semoga saja ketika kamu mau menikah, pasti papa akan ke sini" Kata Alan menenangkan Aurora.


"Kenapa hanya aku? Kan abang anaknya, mana anak pertama papa lagi" Protes Aurora.


"Kan karena kamu anak perempuan dan anak perempuan butuh walinya sedangkan anak laki-laki gak masalah" Balas Alan lembut.


"Jangan benci papa ya, yang sabar papa pasti datang entah kapanpun itu" Tambah Fanny sambil merangkul anak bungsunya.


"Jadi doakan saja papa masih hidup dan menemui kita lagi" Tambah Alan dengan senyum meneduhkan. Dan Aurora tersenyum.


"Oh ya bagaimana kita buat konten acara unboxing kado pernikahan?" Usul Aurora.


"Boleh deh dek, sebagai kenangan" Balas Alan.


"Kalo kak Halwa mau kan?" Tanya Aurora.


"Boleh dek lagipula dengan itu papamu bisa lihat" Jawab Halwa dan Aurora tersenyum seraya mengaminkan.


Lalu pada malamnya, mereka tidur karena jam 8 pagi mereka akan membuat konten unboxing kado dari pengunjung yang datang ke pesta pernikahan mereka.


Di kamar, Aurora termenung dalam kamarnya. Dia melihat sebuah kalung pemberian dari teman masa kecilnya.


"Teman masa kecil gue gimana ya kabarnya?" Gumamnya


"Apa dia ada ig ya?" Tanyanya lalu bergegas mencari namanya di ignya.


"Sung hanbin"


Setelah ditemukan, dia membuka instagramnya dan melihat-lihat postingan ignya. Lalu dia mensroll terus postingan sampai bawah.


"Dia adalah seorang dancer rupanya"


Dan dia melihat sebuah postingan foto masa kecil teman masa kecilnya.


"Oh ini dia, teman masa kecil gue dari Korea Selatan!" Soraknya.


"Tunggu apa dia masih ingat gak gue?" Tanyanya ragu.


"Oh tapi gue gak bisa bahasa Korea"


"Kalo begitu, gue dm aja deh pakai bahasa Inggris"


Lalu dia memberi pesan di direct messenger.

__ADS_1


"Halo it's me Aurora Angela Zefanya Khansa. Are you remember me?"


Menunggu...


5 menit kemudian, ada balasan dari seseorang dan dia melihat dan tersenyum.


Ini balasannya :


"Oh Aura"


"Yes, i am remember you. Nice to meet you"


Dan Aurora membalas :


"Yes, it's me.


" Oh nice to meet you too"


Menunggu...


Balasan Hanbin :


"Where are you now, Aura?"


Jawab :


"I live in Jakarta now. I moved because my brother was the first to get married"


"Can we phone call?" Tanya Aurora.


"Sure or video call?" Tawar Hanbin.


Melihat itu Aura senyum-senyum sendiri lalu kembali mengetik pesan.


"Oke video call, let get it" Jawab Aurora.


Ketika itu, tampaklah wajah seorang cowok berpipi chubby dan tubuhnya atletis tapi tetap tampan menatap Aurora yang tersenyum sumringah.


"Hai Hanbin!" Sapanya dengan ceria.


"Hai too Aurora" Jawabnya dengan tersenyum ceria.


"I am sorry to late giving information for you. Oh how are you my childhood friend?" Tanya Hanbin ramah.


"Oh I am very well, thank you. Oh you are in school?" Tanya Aurora.


"Oh yes, It is canteen. Do you remember this bracelet?" Tanya Hanbin lalu menunjukkan gelang di tangan kanannya.


Melihat itu, Aurora mengangguk dan juga menunjukkan gelang pemberian mereka. Dan mereka tersenyum.


Ketika itu, dibelakang Hanbin ada 3 cowok berseragam lalu menggebrak mejanya dan mengumpat Hanbin. Melihat itu, Aurora kaget.


"Yak Hanbin-ah, why are you?" Tanyanya khawatir.


Tiba-tiba seorang cowok menatap layar HP Hanbin dan melihat Aurora yang menatap khawatir.


"Hei ada gadis cantik!" Katanya dan kedua temannya di belakang cowok itu.


"Wah ternyata dia cantik juga"


"Where is my childhood friend?" Tanya Aurora marah.


"Oh si gendut ini, oh your childhood friend?" Tanya cowok berambut pendek tak berponi.

__ADS_1


"can you guys let him go. We haven't met for long" Jawab Aurora dengan tenang dan menahan air matanya.


Ketiga cowok itu saling menatap satu sama lain lalu mereka mengangguk.


"OK, let's let him go, but you have to transfer 519,009 won" Kata cowok berambut blonde.


Mendengar itu, Aurora melotot kaget karena uang yang akan ditransfer itu adalah 6 juta rupiah.


"Duh uang gue gak sampai di situ. Kalo gak, ketiga pembully itu pasti akan membully Hanbin terus dan gue gak mau dia kenapa-napa seperti dulu" Gumamnya. Gadis itu berpikir sejenak dan dia melihat sosok Hanbin yang menggelengkan kepalanya di belakang ketiga pembully itu.


"Oi, did you hear us?" Sorak ketiganya dan membuat Aurora sontak kaget.


Dan untungnya, ada sosok pria setengah baya memukul kepala ketiga pembully itu dengan buku di tangannya. Ketiganya merintih kesakitan dan mengumpat. Ketika itu ketiganya menoleh ke belakang dan kaget ada pria setengah baya yang memukul mereka adalah seorang kepala sekolah.


"Kalian mau ganggu Hanbin lagi hah!" Teriaknya dan ketiganya menunduk malu.


"Jawab saya!" Teriaknya menggelegar dan membuat seisi kantin hanya terlontar kaget tak terkecuali Aurora yang berada di telepon.


"Oh ini pasti pak kepala sekolah terlihat dari seragamnya. Gue harus memberitahu ini supaya mereka dikeluarkan dari sekolah.


" Excuse me sir, I am here!" Teriak Aurora dan pak kepala sekolah menghampiri meja kantin milik Hanbin, melihat siapa yang berteriak.


Dan dia melihat seorang gadis cantik melambaikan tangannya.


"Who are you, daughter?" Tanya pak kepala sekolah dengan ramah.


"Oh my name is Aurora. I am from Indonesia. I am Hanbin's childhood friend" Jawab Aurora.


"Oh Aurora. What happened to Hanbin by these three students of mine?" Tanya beliau.


"Oke I will tell you that the three of them bullied Hanbin who was busy video calling me and also the three of them made conditions if I had to transfer 519,009 krw. And if they don't transfer, they still bully Hanbin" Jelasnya.


Dan pak kepala sekolah mengangguk mengerti.


"You know that bullying can kill other people mentally and physically, so it's better to just get expelled from school if you want. I'm afraid that later they will kill innocent Hanbin" Tambahnya dengan suara yang dibuat mewek.


Seisi kantin mendengar penjelasan gadis itu yang membuat ketiganya ketar ketir dan Hanbin diam-diam tersenyum dan membatin.


"Dia masih sama seperti dulu"


"I just broke the news with my childhood friend. Just met face to face online but instead the three of them got bullied casually. It bothered him even though he didn't do anything wrong" Tambahnya tapi dengan air mata bercucuran.


"Oke, Thank you for the information. I will get them out of here, even though I have warned them for a long time but were ignored" Balas pak kepala sekolah.


Lalu mengambil hpnya Hanbin dan memberikan kepada Hanbin.


"Terima kasih pak" Kata Hanbin.


"Iya sama-sama nak" Jawab pria itu sambil tersenyum teduh. Dan kembali menatap ketiga pembully dengan tatapan sangar.


"Kalian bertiga ayo ikut saya ke kantor!" Serunya dan ketuganya dengan terpaksa mengikuti pria itu.


Masalah pun selesai dan Hanbin kembali duduk dan melanjutkan video call dengan Aurora.


"Thank you Aurora" Katanya.


"You're welcome, Hanbin. Hopefully we can meet when I can already speak Korean" Balasnya dan Hanbin tersenyum.


"yes, let's finish for now, let's continue with your food. Let's talk or video call again sometime, okay?" Salamnya dan Hanbin mengangguk.


Sesudah itu, keduanya menyudahi video call dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Aurora mulai tidur dan Hanbin melanjutkan makan di kantin.


Di samping itu, Hanbin tersenyum bersyukur akan kehadiran Aurora yang telah menyelamatkannya sebanyak 2 kali.

__ADS_1


"Aurora semoga jika kamu ada masalah aku akan menyelamatkan kamu seperti kamu menyelamatkan aku dulu dan sekarang" Gumamnya.


Next part 18


__ADS_2