
Tanpa disadari, Alan dan Nanda melihat itu melalui jendela kamarnya. Mereka menatap sedih akan kepergian sang ayah.
Nanda : "Bang Lan, memangnya papah mau kemana?"
Mendengar pertanyaan adiknya itu, remaja cowok itu hanya terdiam sambil menghela napas pendek. Lalu menjawab :
Alan : "Papah kerja dulu dek" (Sambil tersenyum dipaksakan)
Nanda : "Tapi kan harus memberitahu kita kan bang?"
Alan : "Ini terlalu mendadak dek makanya gak memberitahu kita"
Alan : "Ayo kita tidur nanti mama marah sama kita"
Nanda pun mengangguk mengerti lalu mereka kembali tidur di ranjangnya masing-masing.
Sementara itu, Fanny masuk kembali ke dalam rumahnya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam, Fanny duduk di ranjangnya dan menatap bingkai foto pernikahannya dulu yang berada di atas meja kecilnya. Sambil berlinang air matanya, berkata:
Fanny : "Mas, entah kenapa aku gak rela kamu pergi meninggalkan kita demi sebuah restu dari orang tuamu yang tidak kunjung datang. Semoga saja kamu baik-baik saja dan sukses serta bisa kembali bersama kami lagi"
Setelah tenang, lalu dia merebahkan dirinya. Dia melihat di samping kirinya dan mengelus sambil tersenyum tipis. Ketika ingin tidur, masuklah seorang gadis kecil yang ternyata Aura yang berlari ke arah ranjang Fanny. Fanny yang melihat itu , kembali duduk dan mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong anak bungsunya.
Fanny : "Kok kamu disini sayang?"
Aura : "Aku takut mama, boleh gak aku tidul ama mama?"
Fanny : "Boleh sayang. Kenapa kamu takut?"
Aura : "Tadi aku mimpi ketemu hantu dan kejal-kejal aku"
Fanny : "Kamu sudah berdoa sayang?"
Mendengar itu, Aura menggelengkan kepalanya dan tersenyum cengir. Melihat itu, Fanny menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Fanny : "Ya Allah, ra. Jangan lupa berdoa ya sayang. Boleh kamu bobok disini tapi harus berdoa dulu ya. Gimana doanya? Kamu tahu gak nak?" (Tanyanya lembut)
Aura : "(mengangguk singkat) tahu mah. " Bismillahirrahmanirrahim, bismika Allah huma Ahya wabisma wa'amut" Lalu mengaminkan begitupun Fanny.
__ADS_1
Keduanya pun tidur sambil berpelukan. Jadi tempat Khansa digantikan oleh Aura.
Jam 4 malam, Fanny bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar secara diam-diam takut kalo anak bungsunya bangun. Wanita cantik itu berjalan dan mengetuk kamar 1 yaitu kamar Alan dan Nanda. 2 remaja cowok yang berbeda 2 tahun itu dibangunkan oleh mamanya.
Fanny : "Alan, Nanda, bangun lah kita sholat tahajjud dulu baru sholat shubuh" (Sambil menggoyangkan kedua badan anak pertama dan kedua itu dengan lembut)
Mendengar itu, keduanya terbangun lalu Alan menggandeng tangan Nanda ke kamar mandi untuk berwudhu'. Lalu Fanny beralih ke kamar 2 yaitu kamar anak ketiga dan keempat bernama Anan dan Aksa. Seperti biasa, Fanny menggoyangkan kedua badan anak itu. Untungnya hanya Anan yang bangun sementara Aksa masih tertidur lelap. Dengan baiknya, Anan yang setengah nyawa memukul bokong Aksa agak keras dan terkagetlah Aksa sampai terduduk. Pelakunya hanya menatap datar tanpa dosa sementara Fanny hanya menahan tawa.
Fanny : "Ayo kalian berwudhu' dulu dan kita sholat tahajjud dilanjut dengan sholat Shubuh!"
Kedua anak itu hanya mengangguk lemah dan berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu'.
Setelah membangunkan ke empat anaknya dia juga ke kamar mandi kedua untuk berwudhu'. Di rumah itu terdapat 2 kamar mandi. Satu yang berada di samping kamar Anan dan Aksa dan yang kedua ada dibawah.
Mereka berlima memulai sholat dengan Alan sebagai imam. Tapi sebelum Sholat tahajjud, Anan kebingungan karena ada yang kurang.
Anan : "Mah, mana papah?"
Mendengar itu, Fanny menoleh sementara Alan dan Nanda kebingungan.
Mendengar penjelasan itu, Anan mengangguk mengerti. Lalu mereka mengerjakan 2 sholat.
Selesai sholat, mereka kembali tidur karena masih mengantuk sedangkan Fanny, Alan dan Nanda ke dapur untuk membuat sesuatu. Mereka mempersiapkan sesuatu dan membawanya keluar dari rumahnya.
Mereka berjalan menuju di samping rumahnya dan ada sebuah kedai sederhana yang bernama "Soto Ayam 5 bersaudara".
Alan menaruh semangkuk ayam yang sudah dipotong-potong dalam ukuran sedang diatas meja kompor. Nanda menaruh panci besar yang berisi supnya. Sedangkan Fanny membawa bahan-bahan nya seperti sayuran yang telah dipotong-potong, mie kuning dan putih, bawang goreng, saus dan kecap sebagai pemanis.
Ternyata mereka jualan dan punya kedai. Mereka bekerja di saat pada pagi hari setelah sholat Shubuh. Di saat orang-orang lagi tidur nyenyak, mereka pun bekerja. Anak pertama dan kedua Fanny membantu sang ibu untuk menjual soto ayam.
Bukan hanya itu saja, Alan dan Nanda membantu sang ibu untuk membajak sawah dan menanam semangka, mangga, dan jeruk lalu dijual di pasar setelah dipetik. Dan hasilnya untuk kebutuhan mereka dan uang bayar sekolahnya.
Mereka sangat pekerja keras dan sangat bersyukur walaupun banyak orang yang menyindir Fanny karena punya 5 anak dari suami yang belum dapat restu dari orang tuanya. Fanny hanya tersenyum tapi tidak dengan anak keempatnya, Anan yang kehabisan kesabaran bahkan berani untuk menyindir balik ibu-ibu itu. Ceritanya pada bulan Februari tahun 2001 ketika Fanny mengandung Aura.
Ketika itu, Fanny dan Anan pergi ke sayur keliling untuk membeli bahan-bahan masakan. Lalu melihat kedatangan ibu dan anak ketiga itu, ada 1 orang ibu yang memakai dasteran merah dan rambut yang dipasangi dengan roller bertanya dengan nada julit.
Ibu 1: "Oh ya uni Fanny lah bara anak dalam kanduang uni tuh?
__ADS_1
Fanny : " Iko anak kalimo ni Desi. Lah barumur 7 bulan kini" (Sambil tersenyum mengelus perutnya).
Mendengar itu, ibu yang memakai roller itu hanya mencibir pelan.
Desi : "Dasar perebuk kok bisa inyo dan uda tersayang den sampai limo anak?".
Mendengar cibiran Desi yang gak terlalu pelan itu, Anan memukul Desi agak keras sampai Desi kaget. Bukan hanya Desi, semua pembeli dan tukang sayur tak terkecuali Fanny tersentak kaget melihat kelakuan anaknya. Dia langsung menegur sang anak pelan. Desi yang tak terima langsung protes.
Desi : "Eh manga anak kau Fanny. Kok malah pukulin denai?" (Sambil melipat kedua tangan diatas dada dan cemberut)
Fanny : "Anan sayang, kok kamu pukul Mak Uwo Desi?"(sambil mengelus rambut Anan lembut).
Anan : " Dia bilang mama perebut papa dari mak Lampir ini(menunjuk Desi dengan marah)"
Mendengar itu, baik Fanny dan Desi kaget apalagi yang lainnya.
Desi : "Alamak, paja ko bisa dangar apa yang den kecek an"(batinnya)
Anan : " Apa benar itu mah?"(tanyanya ke mamanya dengan sendu).
Fanny hanya terdiam dan Desi tersenyum licik. Tiba-tiba ibu kedua yang bersebelahan berkata.
Ibu 2 : "Gak Anan sayang lagipula Mak uwo ini(menunjuk Desi) yang suka menjadi perebut ayahmu dulu tapi untungnya ayahmu setia dengan mamamu sampai punya 5 anak"
Anan mengangguk sambil tersenyum ke ibu itu lalu matanya julit ke arah Desi.
Anan : "Lagipula kenapa papa mau sama Mak Uwo ini, gak secantik mama"
Desi yang mendengar itu ingin protes tapi tetap terdiam karena malu lalu pergi meninggalkan sayur keliling itu. Melihat Desi pergi, mereka tertawa cekikikan tapi tidak dengan Fanny yang menoleh ke belakang kasihan dengan Desi. Berlanjut membeli sayuran dengan ibu-ibu lainnya.
Tukang sayur : "Uni Fanny jangan pikirkan Mak Lampir cako yo"
Fanny : "Ndak baa kok da"(sambil tersenyum tipis dan mengelus perutnya yang kelihatan membesar)
Anan juga mengelus perut Fanny lembut dan menciumnya sedikit memberikan ketenangan. Lalu keduanya melanjutkan membeli sayur dan pulang setelah membayar belanjaannya.
Next part 3
__ADS_1