
Sora tiba di rumahnya setelah berjalan kaki beberapa meter dari jalan besar ke kontrakannya yang sempit dan kecil. Meskipun begitu, tempat ini menemaninya bertahun-tahun. Menaunginya dari panas dan hujan.
Setelah melepas sepatu dan meletakkan pada rak sepatu berbahan plastik yang ada di depan pintu, ia langsung melemparkan tubuhnya ke tempat tidurnya yang tidak begitu empuk, tapi nyaman.
"Oh nyaman sekali ..." ujar Sora merentangkan kemudian meregangkan kaki dan tangannya hingga puas. Tubuhnya terasa pegal semua.
Kemudian dia mencoba memejamkan matanya sebentar. Tidak lama, ia membuka mata. "Aku mau mencoba menelepon Alan Mungkin saja dia sudah sampai di rumah dan bersantai. " Ide ini terlintas spontan. Karena gagal bertemu tadi siang karena Alan harus bertemu orang penting, Sora ingin berbincang dengan pria ini sebentar saja.
Dia bangkit dari tidur dan meraih tas yang ia bawa untuk kerja tadi. Mengambil ponsel dengan versi android yang lumayan ketinggalan jaman.
Dengan wajah bahagia, Sora mencoba menelepon kekasihnya. Telepon tidak langsung di terima. Sora masih mencoba menunggu. Berharap pria itu segera menerima telepon darinya.
Namun setelah agak lama menunggu, Alan tetap tidak menerima panggilan telepon darinya. Sora memilih menyerah.
"Kemana Alan ya ... Tadi siang saja tidak ketemu sama sekali di tempat kerja. Mau ketemu gagal karena dia ada tamu. Sekarang di telepon, juga tidak di angkat. Hhh ... " Sora menghela napas.
Ada rasa resah gelisah. Namun cepat-cepat ia berpikir positif.
"Dia orang sibuk sih. Jadi mungkin lelah setelah bekerja. atau bahkan dia masih ada kerjaan malam ini." Sora memberi pengertian pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Gadis ini meletakkan ponselnya di atas nakas butut. Menyerah untuk mencoba mencari tahu apa yang dilakukan Alan sampai tidak bisa di hubungi.
Lalu dia kembali tiduran untuk menghalau rasa gelisah.
Drrt, drrt.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sontak Sora bangun dari tidur dengan cepat. Lalu menjulurkan tangan untuk meraih ponsel di atas nakas.
Itu Alan!
Dengan hati riang, Sora membuka pesan yang masuk.
"Maaf aku tidak bisa menerima telepon mu. Sejak tadi pekerjaan banyak sekali. Jadi aku kelelahan." Begitu bunyi pesan yang masuk dari Alan.
"Oh, maaf jadi ganggu. Ya sudah kamu istirahat saja. Aku juga mau istirahat kalau begitu," balas Sora pengertian.
"Oke," balas Sora. “Hhhh ... “ Gadis ini menghela napas berat. Meski tangannya mengirim pesan bahwa dia mengerti dengan keadaan Alan, tapi benarnya dia kecewa. “Sejak dia menjadi manajer bagian building manajemen, waktunya hampir tidak ada untukku. Selalu saja sibuk dan sibuk. Yah ... Jika ingin sukses, kita memang harus rajin bekerja. Mungkin Alan juga punya prinsip seperti itu. Hanya saja, kenapa dia tetap tidak mengenal ... Ahh sudahlah.” Sora merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mencoba mengabaikan semua hal yang menjadi beban pikirannya.
Di tempat Alan berada. Rupanya Alan bukan sedang istirahat karena lelah di rumah. Pria itu berbohong.
"Siapa?" tanya seorang perempuan yang baru saja datang dari toilet. Alan mendongak lalu tersenyum.
Ternyata pria ini bukan beristirahat. Dia sedang berada di sebuah restoran. Malam ini dia tengah makan malam dengan perempuan lain.
"Anak cleaning servis. Mereka laporan tentang pekerjaan yang tadi," bohong Alan sambil meletakkan ponsel setelah menghapus chat dengan Sora tadi.
__ADS_1
"Mereka sangat dekat dengan mu, ya ...," ujar perempuan dengan rambut pendek sebahu ini. Kemudian dia duduk sangat dekat dengan Alan.
"Menciptakan hubungan antar atasan dan bawahan yang baik kan bisa membuat suasana kerja baik juga," ujar Alan sok bijak, lalu mengecup pipi wanita itu. Semu merah terlihat pada wajah wanita itu.
"Kamu baik juga pada bawahan mu," kata perempuan ini seakan bangga pada Alan. Senyum Alan pun merekah di puji wanita ini.
"Tentu saja."
"Aku akan bilang pada papa untuk segera mengadakan pesta pertunangan." Perempuan dari keluarga Burhan itu menyandarkan kepala pada dada Alan. Tangan pria ini pun membelai kepala perempuan bernama Nova itu dengan sayang.
"Aku senang mendengarnya. Apa beliau akan mengabulkan permintaanmu?" tanya Alan sengaja memancing.
"Tentu saja. Papa mengabulkan semua yang aku mau." Wanita itu tidak mau kalah. "Besok aku pastikan papa akan memikirkan pesta untuk kita."
"Jadi ... hanya sebuah pesta pertunangan?"
"Kenapa? Kamu tidak mau?" Putri keluarga Burhan itu mengerutkan kening.
"Tidak mungkin. Tentu saja aku mau. Hanya saja ... kalau begitu, rencananya kita berdua menikah akan lama." Alan menunjukkan wajah kecewanya. Dia memang ingin segera menikahi wanita ini. Dengan begitu, dia akan keluar dari tempat ia bekerja sekarang, lalu muncul sebagai orang penting dalam keluarga Burhan.
"Oh, sayang ... kamu tidak sabar menunggu kita resmi menjadi suami istri?" tanya Wanita ini seraya menyentuh pipi Alan.
"Ya," sahut Alan. Sebuah ciuman langsung mendarat pada bibir Alan.
"Aku juga ingin segera melakukan pernikahan, tapi lebih baik kita bertunangan dulu. Baru setelah itu kita akan menikah. Papa pasti setuju jika begitu."
__ADS_1
"Oke, aku akan mencoba sabar menunggu," ucap Alan.
... ________...