
Shift siang.
Setelah tiga hari masuk pagi. Kini Arash masuk kerja siang. Berangkat dari rumah lebih awal. Karena ini pertama kalinya dia masuk siang.
Terik matahari terasa menyengat di atas kepala. Padahal Arash memakai helm. Namun rasanya panas itu tembus masuk ke ubun-ubunnya.
Motor Arash memasuki area parkir khusus karyawan. Banyak gadis yang sempat melirik dan tersenyum ketika ia membuka helm dan tampak wajah tampannya. Bukan tidak tahu, Arash sadar itu. Dari sanalah Arash seringkali menundukkan pandangan demi menghindari, seperti sengaja menyukai perhatian gadis-gadis yang memandanginya.
Dia datang sekitar jam satu lebih sepuluh menit. Check clock terakhir masih jauh. Mungkin sekitar setengah jam-an lagi.
Dari arah outlet di area citywalk, bola mata Arash menemukan Sora yang berjalan lambat. Tanpa sadar bibir Arash tersenyum. Ia yang sudah menurunkan jagrak motor, segera turun. Setengah berlari ia mencoba mencapai tempat gadis itu sebelum mereka tiba di kantor cleaning servis untuk check clock.
Setelah berusaha, Arash berhasil mensejajarkan jalannya dengan gadis itu. Padahal jarak mereka dekat, tapi Sora tidak menyadari keberadaan Arash karena fokus pada ponselnya.
"Hei," tegur Arash pelan, tapi mengejutkan. Hampir saja Sora kehilangan ponselnya kalau saja Arash tidak cekatan dalam menangkap.
"Hhh ... hampir saja." Sora berkata dengan begitu lega.
"Maaf." Tangan Arash terulur menyerahkan ponsel pada gadis ini.
"Oke, tapi lain kali ... aku ambil handphone mu kalau kamu sampai menjatuhkan ini lagi," ancam Sora jenaka.
"Iya, tahu."
"Karena hape ini adalah jalan ninja ku untuk mencari cuan yang lain." Sora menunjukkan ponselnya jadulnya dengan bangga.
"Kamu mengambil kerja sambilan ya?"
"Eh kok tahu?" tanya Sora terkejut. Arash lupa dia harusnya tutup mulut.
"Hanya menebak." Pria ini mencari alasan.
__ADS_1
"Kamu benar. Aku juga kerja di luar." Di luar dugaan, Sora mengaku. Gadis ini tersenyum.
"Enggak capek?"
"Capek. Banget," sahut Sora jenaka. Arash tersenyum. "Tapi mau gimana lagi, aku ingin menabung hingga tabunganku penuh, jadi aku bisa beli rumah yang layak." Tanpa sadar Sora berceloteh tentang impiannya. "Eh, kenapa aku jadi curhat. Sudah. Aku jalan agak cepat ya."
"Kenapa? Bukannya waktu masuk masih lama?" tanya Arash heran seraya melihat ke arlojinya.
"Kamu jalan pelan aja enggak apa-apa. Soalnya aku mau tidur dulu. Capek, soalnya tadi habis kerja sambilan," cerita Sora. "Sudah ya ... aku duluan." Sora mempercepat langkahnya. Arash memandangi punggung itu hingga terlihat mengecil karena sudah jauh pandangan.
"Mungkin karena dia bekerja dimana-mana, Sora jadi memilih tidur lebih banyak daripada yang lain," gumam Arash mengerti.
"Halo," sapa seorang gadis yang berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Arash dari samping. Pria ini terkejut. "Aku mengejutkanmu ya?" tanya gadis sambil tetap memamerkan senyumannya.
Arash hanya menipiskan senyum tipis. Dia tahu gadis ini juga anak cleaning servis.
"Sudah lama kenal sama dia?" tunjuk gadis ini pada jalan kosong di depan.
"Siapa?" tanya Arash tidak mengerti.
"Gadis tadi, Sora," kata gadis dengan nama Ama di id card yang terpajang di dadanya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin jalan bareng kamu menuju kantor buat check clock," kata Ama.
Arash memilih membiarkan gadis ini menyejajarkan langkah kaki karena tujuan mereka sama. Lagipula tidak ada yang di rugikan.
"Sora itu bukan gadis baik-baik, lho," kata Ama tiba-tiba. "Dia suka pulang malam-malam. Tahu kan apa yang di lakukan saat orang malam malam."
Mendengar ini Arash menghentikan langkahnya. Gadis itu juga ikut menghentikan langkah.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Arash.
"Sepertinya kamu lagi dekat dengan Sora. Jadi sebagai orang baik, aku sengaja memberitahumu lebih dulu."
"Apa aku meminta mu menceritakan tentang Sora?" tanya Arash dingin.
__ADS_1
"Emm, tidak sih. Namun aku merasa, kamu akan rugi kalau mendekatinya." Gadis ini mulai bertingkah.
"Aku rugi atau tidak, sepertinya itu bukan urusan mu," tandas Arash. Dia segera menjauhi gadis ini.
"Ih, di kasih tahu malah begitu. Untung saja cakep, kalau enggak ... ogah aku dekati. Anak-anak mana sih?" Ama mencari teman-temannya yang juga bekerja di mal ini tapi divisi lain.
"Pulang malam-malam? Aneh sekali orang ini. Bukankah itu wajar? Dari sini saja pulang jam sepuluh. Apalagi kalau Sora harus kerja sambilan yang lain. Manusia seringkali mengaitkan hal aneh dengan hal yang negatif lebih dulu," gumam Arash heran.
***
Setelah check clock, ia melihat jadwal yang sudah di buat oleh ketua tim, yaitu senior gendut yang mengejar Sora waktu itu, Arash mengerjap.
Hari ini partner kerjanya adalah Ama. Kening Arash mengerutkan kening melihat itu. Dia belum kenal menyeluruh anggota tim cleaning servis.
"Hei, itu aku. Ternyata kita satu tim hari ini. Membersihkan toilet lantai dua. Suara seorang gadis terdengar di belakangnya. Kepala Arash menoleh. Ternyata itu gadis yang mengajaknya bicara soal Sora tadi. Gadis itu terlihat senang.
"Oh, kamu." Raut wajah Arash datar. Gadis itu melihat ekspresi pria ini dengan menipiskan bibir. Jika banyak cowok-cowok yang sering mengajaknya bicara karena dia cantik, tapi beda dengan Arash. Ama merasa pria ini susah sekali di dekati.
"Ya. Ini aku. Ayo kita segera ke lantai dua," ajak Ama tetap bersikap sok kenal sok dekat pada dekat pada pria ini. Karena mereka memang satu tim, Arash setuju untuk mengikuti gadis ini.
Ketika naik ke atas, tangan Arash otomatis menyentuh pegangan eskalator di sebelah kanan. Bukan karena belum pernah naik eskalator, tapi itu hanya kebiasaan Arash saja.
Mereka tiba di lantai dua. Arash spontan melepaskan pegangannya. Tidak sengaja ia menyentuh pipinya. Namun ia merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang terasa menempel pada wajahnya.
Ama yang ada di sampingnya menoleh.
"Hei, wajahmu ada nodanya." Reflek Ama ingin menyentuh wajah Arash. Pria ini menghindar dengan cepat. Bahkan menepis tangan Ama menjangkau pipinya.
"Singkirkan tanganmu."
"Jahat banget sih. Aku cuma ingin membantu membersihkan kok," gerutu Ama kesal.
"Aku bisa membersihkan sendiri," tandas Arash tegas. Ama manyun. Hilang kesempatan dia menyentuh pria ini. Karena toilet yang akan di bersihkan mereka mulai dekat.
Di depan cermin wastafel, Arash bercermin. Dia melihat ada noda berwarna hitam di pipi kanannya.
__ADS_1
Kotor? Darimana pipiku ada noda hitam begini? tanya Arash heran. Saat itu ia mengusap lagi pipinya, ternyata malah bertambah nodanya. Wajahnya jadi cemong.
...______...