CEO Magang

CEO Magang
Bab. 21 • Sisi lain


__ADS_3


Melihat yang muncul adalah atasan, Dia panik dan langsung berdiri. Jengki langsung mematikan rokoknya dengan tergesa-gesa. Dia menghalau asap rokok yang masih tersisa. Lalu segara keluar dari ruang kecil itu dan menghampiri Alan.


"Selamat siang Pak Alan," sapa Jengki dengan menyatukan kedua tangannya untuk bersikap hormat. Dia menekuk tubuhnya sedikit untuk membentuk sikap hormat yang sempurna.


Alan?


Arash yang berada di balik pintu mendengar suara Jengki menyebut nama Alan, menjadi tegang seketika. Pintu tidak tertutup dengan sempurna. Itu membuat Arash langsung menaikkan kakinya ke atas untuk menghindar ketahuan oleh Alan.


Dia tidak ingin penyamarannya terbongkar. Jika awalnya dia tidak ingin Alan tahu dirinya menyamar menjadi cleaning servis, karena perkara hubungan Sora dan Alan ... kali ini dia tidak ingin pria itu tahu karena Arash ingin menyelidiki banyak hal dalam tubuh manajemen yang dipimpin temannya itu.


"Oh, kamu, Jengki. Kamu bersama siapa?" tanya Alan melihat ke sekeliling. Toilet ini memang jarang di datangi karena berada di lantai 2.


Jengki melirik ke pintu toilet yang setengah tertutup itu. Dia tahu Arash berada di sana.


"Anak baru. Dia datang bersama saya Pak," kata Jengki seakan menunjukkan bahwa anak baru yang di katakannya adalah sekutunya. Namun meskipun Jengki memberi kode itu, Alan tetap berjalan mundur dan hendak mendobrak pintu yang setengah tertutup itu. Arash yang tahu suara langkah Alan makin mendekat, bersiap-siap.


"Tapi dia pindah ke toilet di sebelah selatan," kata Jengki cepat. Entah kenapa dia mengarang cerita. Arash di dalam toilet heran dengan tindakan Jengki menyembunyikannya.


Kenapa dia menyembunyikan aku?


Alan berhenti. Lalu melihat Jengki. "Jadi sekarang kamu sendirian?" tanya Alan.


"Y-ya, Pak. Mungkin nanti kembali ke sini melanjutkan pekerjaan," kata Jengki setengah gugup. Tangannya mendadak dingin.


"Mmm ..." Alan menganggukkan kepalanya. Lalu kembali melirik ke pintu toilet dimana Arash bersembunyi. Arash berusaha tidak membunyikan apapun. Pria ini masih ragu apakah di sana ada orang tahu tidak. Namun ia mencoba mengabaikan. "Apa kamu tidak melihat Sora?" tanya Alan. Rupanya kedatangan dia ke toilet ini mencari gadis itu.


"Tidak Pak," jawab Jengki tanpa ragu. "Mungkin dia di toilet di sebelah sana." Jengki menunjuk toilet yang lain.


"Ya, sudah. Kamu sering bertemu Pak Burhan?" tanya Alan.


"Tidak terlalu Pak, tapi ya masih sempat ketemu," kata Jengki.

__ADS_1


Burhan? Jadi Jengki ini kenal dengan Pak Burhan? Arash yang ada di balik pintu terus mendengarkan obrolan mereka dengan seksama. Ini membuat Arash perlu berpikir keras lagi. Ternyata tingkah Jengki karena latar belakang dia kenalan Pak Burhan?


"Oh, ya. Aku mau bicara tentang Sora." kata Alan tiba-tiba membahas gadis itu. "Mungkin kamu belum tahu kalau dia itu saudaraku, jadi aku rasa kamu harus tahu bagaimana padanya,"


"S-sora?" tanya Jengki terkejut. Ada yang tersirat dari nada bicara Pak Alan.


"Benar. Salam untuk Pak Burhan, ya?" Alan menepuk pundak Jengki. "Aku pergi."


"Baik Pak." Jengki membungkuk mengiringi kepergian pria itu. Lalu Jengki mendongakkan kepala setelah Alan menjauh dan meninggalkan toilet. Setelah yakin suara pria itu menghilang, Arash menurunkan kakinya perlahan. Lalu dia berpura-pura terus menyikat dinding toilet.


Brak! Jengki yang mendekat pada pintu toilet, langsung mendorong pintu itu dengan keras. Karena toilet ini hanya pas untuk satu orang, pinggiran pintu menabrak lengan Arash.


"Hei! Aku tahu kamu menguping kan?" tegur Jengki. Arash menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin kamu tadi tidak mendengar sama sekali apa yang aku dan Pak Alan bicarakan." Jengki mendesak.


"Mmm ... soal itu ... " Arash menjeda kalimatnya sejenak. "Aku bukannya mau menguping, tapi aku mendengarnya." Arash mengaku bahwa dia mendengar pembicaraan antara Jengki dan Alan.


"Sial!" teriak Jengki kesal. Arash menatap Jengki yang sedang mengekspresikan kekesalannya dengan diam. "Sudahlah. Cepat bersihkan semuanya dengan bersih," perintah Jengki. Dia kembali menuju ke tempat ia bersantai tadi.


"Pak Alan? Dia siapa?" Arash berpura-pura tidak tahu.


"Dia atasan kita. Orang yang bertanggung jawab pada seluruh pekerjaan yang berurusan dengan penyewa tempat dan pekerja seperti kita," jelas Jengki. Ternyata pria ini bisa menjelaskan dengan baik rupanya. Arash mengangguk mengerti. "Mungkin dia terlihat baik karena wajahnya yang tampan, tapi menurutku dia menakutkan."


Arash sudah ingin tidak mendengarkan ocehan Jengki tadi, tapi kemudian dia menoleh cepat pada Jengki karena kalimatnya yang menarik.


"Menakutkan?" tanya Arash ingin Jengki memfokuskan pada kata itu.


"Ya." Sepertinya Jengki kembali memainkan game domino yang sama seperti tadi. Karena bunyi-bunyian yang sama seperti tadi, terdengar lagi.


"Bukankah senior ini orang kesayangannya Pak Alan?" pancing Arash.


"Kesayangan? Darimana kamu tahu aku kesayangan?"


"Emmm ... menebak saja," jawab Arash. Padahal ia bisa menebak karena dari perkataan Jengki sendiri. Juga dari sikap yang di tunjukkan oleh pria itu pada junior seperti dirinya. Apa itu bukan kesayangan? Apa Jengki hanya penjilat saja?

__ADS_1


"Huh, aku rasa aku hanya di anggap dekat karena aku adalah orang yang di masukkan ke dalam mall ini oleh Pak Burhan." Jengki mendengus.


"Jadi ... Anda saudara Pak Burhan yang di maksud Pak Alan tadi?"


"Hahaha ... Saudara? Kalau bisa aku menjadi saudaranya. Sayangnya aku justru jadi anak buah pria itu." Jengki menertawakan pertanyaan Arash. Lalu apa hubungan Jengki dan Pak Burhan?  "Ayo. Kamu harus sambil membersihkan toilet. Jangan diam saja!" tegur Jengki.


"Oh, Maaf." Arash langsung membalikkan tubuhnya dan kembali menyikat toilet.


“Jadi kamu kerja di sini lewat jalan apa? Apa ada orang yang menawari mu pekerjaan?” tanya Jengki. Dia mengulangi pertanyaannya tadi. Ternyata maksudnya ini. Arash baru paham.


“Tidak. Aku hanya orang yang beruntung mendapat pekerjaan ini dari melamar kerja, senior,” jawab Arash dengan tetap melakukan pekerjaannya. Sesekali ia menoleh pada Jengki di belakangnya.


“Kamu lulusan SMA?”


“Ya.”


“Oh, beruntung sekali kamu. Kalau aku memang butuh bantuan orang lain untuk masuk ke tempat kerja yang bagus ini. Karena aku tidak sekolah, jadi aku tidak punya ijazah.” Jengki tersenyum tipis. Jika biasanya dia berwajah menyebalkan, kali ini wajahnya terlihat sendu.


Arash mengerjapkan matanya. Dia baru tahu ada yang bukan lulusan sekolah yang bekerja di sini. Karena jaman sekarang semua tempat kerja meminta ijazah dan mematok umur untuk mendapatkan karyawan.


Jika begitu, seharusnya kamu rajin bekerja karena sudah bisa mendapatkan pekerjaan, cela Arash dalam hati.


“Bukannya senior itu juga beruntung?” ujar Arash


Jengki menoleh. "Kamu mengejekku?" tanya Jengki gusar.


"Tentu saja tidak. Kalau yang lain masuk ke sini harus memakai ijazah, senior sudah bisa bekerja tanpa ijazah. Bukankah itu namanya beruntung? Mungkin banyak orang yang ingin seperti senior yang ingin masuk ke mal ini tanpa ijazah." Arash sedikit memberi penyemangat. Meski Jengki menyebalkan, kali ini pria itu tampak kasihan.


"Kamu benar. Banyak orang di tempatku bilang, aku keren sekali bisa masuk mal yang bagus ini." Jengki berceloteh dengan riang. Seakan bocah kecil sedang bercerita.


...______...


 

__ADS_1


__ADS_2